Friday, April 3, 2009

Berkaca Pada Politik Islam di Turki


Bagian - 1

Apa yang dicapai Erdogan sekarang ini sesungguhnya bukanlah hasil sulapan semalam, namun hasil dari proses keteladanan, kesungguhan, dan keteguhan politik Islam di Turki sekuler. Model perjuangan para politisi Islam dan juga partai politik Islam di Turki modern banyak menginspirasi partai-partai Islam di berbagai negara di dunia.
Keberanian Perdana Menteri Turki, Recep Tayyib Erdogan (Rajab Thoyib Erdogan), mendamprat Presiden Zionis-Israel, Shimon Perez, dalam pertemuan Davos, Januari lalu mengagetkan seluruh dunia.

Bukan saja membuat kagum para akivis kemanusiaan dunia, namun juga membuat merah telinga Shimon Perez sendiri yang sangat terlihat dari gestur wajahnya yang tertekan saat Erdogan meninggalkan begitu saja podium tanpa menyalami Perez.

Banyak orang Islam di berbagai negeri mengeluh, mengapa bukan para pemimpin Arab yang bersikap demikian, mengapa bukan para raja-raja dan pangeran Saudi dan juga Presiden Mesir yang mampu bersikap jantan seperti itu, mengapa mereka malah memperlihatkan sikap pengecut terhadap Zionis-Israel? Liga Sekjen Arab, Amr Mousa sendiri, menyatakan salut dengan Erdogan, “Saya rasa tidak ada satu pun orang Arab yang berani bertindak seperti Erdogan!”

Di Indonesia, banyak kalangan menyatakan mengapa bukan SBY yang berani bersikap demikian? Pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Jangankan berani mendamprat Zionis secara langsung, menghadapi pernyataan kontroversial salah seorang petinggi Demokrat yang membuat kuping Golkar merah saja sudah kalang-kabut.

Nyali pemimpin seperti itu sudah bisa terbaca ketika Bush mau berkunjung ke Bogor beberapa tahun lalu. Ketika itu SBY amat sangat berlebihan dalam menyambut Bush, merusak sebagian lahan Kebun Raya Bogor untuk dibangun Helipad yang akhirnya tidak dipakai Bush, menempatkan tentara berseragam dengan perlengkapan tempur garis pertama dalam jarak setiap dua meter mengepung rapat istana Bogor, bagaikan seorang lurah di pedesaan yang menyambut kehadiran seorang Kaisar Dunia. Sebab itu dia dilecehkan Bush, yang dengan nakalnya meloncat keluar dari mobilnya saat berhenti tepat di depan SBY.”

Dari podium pertemuan Davos tersebut, Erdogan langsung pulang ke Turki. Di negerinya, Erdogan disambut bagaikan pahlawan besar. Turki modern telah menorehkan sejarahnya sendiri dengan tinta emas, dan mengatakan kepada dunia, jika Turki adalah sebuah bangsa yang besar dan berani membela keadilan dan kebenaran.

Padahal dunia juga tahu jika Turki Modern adalah Turki yang masih menjunjung tinggi asas sekularisme, bersahabat dekat dengan Uni Eropa dan Amerika, membuka hubungan diplomatik dengan Zionis-Israel, dan sebagainya. Namun siapa tahu, jauh di lubuk hati orang-orang Turki, mereka sungguh-sungguh mendambakan sebuah Turki yang sangat gemilang saat Turki masih menjadi sentral bagi kekhalifahan Islam.

Apa yang dilakukan Erdogan terhadap tokoh Zionis tersebut seolah mengulangi sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel.

Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.

Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”

Turki dan Palestina

Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.

Sebab itu pula, ketika sekolah-sekolah di Turki yang notabene mengaku Sekular setiap hari mengumpulkan amplop berisi sumbangan uang para murid untuk diberikan kepada rakyat Palestina di jalur Gaza yang tengah dibantai Zionis-Israel, lembaga-lembaga pendidikan yang berkhidmat pada penguasa Saudi model seperti ini—termasuk yang berdiri di Indonesia—tidak tergerak hatinya untuk turut menyumbangkan amplop berisi uang kepada rakyat Palestina.

Bahkan di masjid-masjid, ketika umat Islam mendirikan sholat ghaib bagi Muslim Palestina, para taklid-buta Saudi ini tidak bersedia melakukannya dengan alasan bid’ah. Naudzubillah min dzalik!

Ada sebuah hadits Rasulullah SAW tentang hari akhir yang berbunyi, “Kamu akan akan memerangi Semenanjung Arabia, lalu Allah akan menaklukkannya untukmu. Setelah itu Persia, di mana Allah akan menaklukkannya untukmu. Kemudian Rum, di mana Allah akan menaklukkannya untukmu. Kemudian kamu akan memerangi Dajjal, dan Allah akan menaklukkannya untukmu.” (HR. Muslim).

Adakah hadits tersebut memerintahkan pasukan Muslim di bawah komando Imam Mahdi untuk menghancurkan para pemimpin Saudi yang kelakuannya seperti sekarang ini? Wallahu’alam bishawab. Semoga saja tidak dan semoga saja tidak semua pemimpin Saudi dan para pengikutnya seperti itu. Amin.

Politik Islam Turki

Saat ini Erdogan mendapat nama yang harum, bukan saja di mata rakyat sipil Turki, namun juga di mata para pemimpin militer Turki yang selama ini dikenal sebagai penjaga garis Sekulerisme paling gigih dan konservatif. Padahal, mereka tahu semua jika Erdogan berasal dari partai yang kental dengan Islam dan memiliki seorang isteri yang juga menutup aurat.

Apa yang dicapai Erdogan sekarang ini sesungguhnya bukanlah hasil sulapan semalam, namun hasil dari proses keteladanan, kesungguhan, dan keteguhan politik Islam di Turki sekuler. Model perjuangan para politisi Islam dan juga partai politik Islam di Turki modern banyak menginspirasi partai-partai Islam di berbagai negara di dunia. Dalam tulisan kedua akan dipaparkan sejarah awal Turki sekuler dan awal kembang-tumbuhnya partai Islam di sana.


Bagian - 2

Salah satu proyek mereka adalah mendirikan pusat-pusat kajian ketimuran yang pada akhirnya meracuni pemikiran-pemikiran Islam generasi muda Turki dengan model Islam yang berpihak ke Barat.

Turki merupakan sebuah negeri yang unik karena letak wilayahnya berada di dua benua yakni Asia dan Eropa, atau istilahnya negara Eurasia. Laut Marmara yang merupakan bagian dari Turki digunakan secara internasional sebagai patokan batas wilayah Benua Eropa dengan Asia, sebab itu Turki juga disebut sebagai Negara Transkontinental. Secara ideologis, negara ini juga menjadi pembatas antara negara-negara Kristen Eropa (The Christendom) di sebelah utaranya dengan negara-negara Arab di sebelah selatan. Sebab itu, ketika Perang Salib pecah di akhir abad ke-11 Masehi, wilayah Turki menjadi jalur utama perlintasan tentara Salib dari Eropa menuju ke Yerusalem. Pun ketika Tentara Salib kalah dan pulang dari Yerusalem ke Eropa pada tahun 1187, lagi-lagi wilayah Turki dipakai sebagai tempat perlintasan.

Ankara merupakan ibukota Turki Modern (Turki Sekuler), namun kota terbesar dan paling bersejarah adalah Istanbul. Negeri ini juga merupakan saksi hidup dari catatan sejarah dan peradaban dunia yang besar, seperti halnya Kekaisaran Byzantium dan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah.

Saat ini Turki berbentuk Repulik yang menjaga prinsip-prinsip sekularisme dengan militer sebagai garda terdepannya. Hal tersebut merupakan ‘buah karya’ dari konspirasi Yahudi Internasional yang menyusupkan seorang agennya bernama Mustafa Kamal, seorang Yahudi Dumamah dari Tsalonika, yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utmaniyah secara total pada tahun 1924. Sejak itu Islam dengan segala atributnya menjadi baang haram di Turki Modern. Adzan pun dilakukan dengan bahasa Turki. Kenyataan ini merupakan kontradiksi yang sangat ironis, bagaimana bisa sebuah kekhalifahan Islam yang besar, yang mewarsi sebagian besar daerah Imperium Byzantium dan wilayahnya menjulur dari Eropa hingga ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kepulauan Maluku (Jazirah Al-Muluk).

Turki Utsmaniyah

Kekaisaran Byzantium melemah di abad ke-13 Masehi. Sejumlah kabilah melepaskan diri dari kekuasaannya. Salah satu kabilah yang melepaskan diri berada di daerah Eskisehir, utara Turki sekarang. Kabilah ini dipimpin oleh Ertugul dan diteruskan oleh anaknya bernama Osman I yang pada tahun 1299 mendirikan Kesultanan Utsmaniyah.

Osman I seorang yang sangat pemberani dan menerapkan politik kombinasi antara jihad-dakwah sehingga mampu membebaskan wilayah-wilayah di sekitarnya dan meneranginya dengan cahaya Islam. Sebab itu Osman I memiliki nama panggilan "kara" yang dalam bahasa Turki sebutan untuk hitam disebabkan keperkasaannya. Sosok pendiri Kekhalifahan Turki Utsmaniyah ini sangat dihormati rakyat Turki hingga sekarang, sehingga di negeri ini ada sebuah “kalimat doa” yang berbunyi, “Semoga dia sebaik Osman.” Dan di beberapa kalangan tarekat yang banyak terdapat di Turki, terdapat mitos yang berasal dari sebuah cerita lama dari abad pertengahan yang mengisahkan jika Osman pernah bermimpi menjadi seorang pembebas bagi Turki yang membebaskan berbagai wilayah yang menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmaniyah saat itu. Cerita ini dikenal sebagai “Mimpi Osman”.

Sepeninggal Osman I, pembebasan demi pembebasan wilayah sekitarnya menjadikan Turki Utsmaniyah kian berjaya. Dalam usia 21, Mehmed II melakukan pembaharuan dengan merombakan struktur kesultanan dan juga angkatan perangnya. Di zaman Mehmed II inilah, Kota Konstantinopel dibebaskan dan diganti namanya menjadi Islambul, atau dalam lidah Eropa, Istanbul. Ini terjadi pada 29 Mei 1453.

Di masa The Great Suleyman atau Sulaiman yang Agung, 1520-1560, Beograd dibebaskan (1521) dan sejumlah wilayah di sekitarnya juga ikut. Di tahun 1529, pasukan Turki Utsmaniyah telah berada di gerbang kota Wina. Namun disebabkan musim dingin yang hebat jatuh lebih awal, maka pasukan ini mundur. Di sebelah Timur, Bagdad berhasil dibebaskan dari kekuasaan Persia sehingga mendapatkan hak kontrol atas Mesopotamia dan Teluk Persia. Di masa ini, armada laut Turki Utsmaniyah sangat kuat dan disegani.

Roda sejarah selalu berputar, ada saat pasang ada pula saat surut. Demikianlah sunnah kehidupan. Cahaya Islam yang sudah berada di gerbang depan Eropa membuat Vatikan dan sejumlah kerajaan Salib cemas. Dendam kesumat atas kekalahan mereka dalam Perang Salib di Yerusalem beberapa abad lalu belumlah sirna dari ingatan. Sebab itu, dengan sekuat tenaga, mereka menyatukan barisan untuk menghadang cahaya Islam yang dibawa oleh Turki Utsmani dan juga berusaha keras menghancurkannya.

Gerakan penghancuran terhadap kekhalifahan ini dimulai dari para ahlul-zimmah, orang-orang Kristen dan juga Yahudi, yang berada di wilayah Turki. Mereka mendapatkan keistimewaan di zaman kekuasaan Sulayman II. Namun menjelang tahun 1520, mereka ini menuntut untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum Muslimin. Hak ini mereka manfaatkan untuk melindungi tokoh-tokoh asing yang tengah menggalang kekuatan anti kekhalifahan.

Dalam bekerja mereka menggunakan dua strategi: mendatangkan sekutu mereka dari luar dan menggalang kerjasama dengan tokoh-tokoh Islam lokal yang bisa “menukar akidah Islamnya dengan kenikmatan duniawi”. Akhirnya, Sultan terdesak untuk meneken perjanjian dengan Bizantium (1521), Perancis (1535), dan Inggris (1580). Semua ini mengakibatkan kekuatan kaum kafir bertambah. Jumlah mereka bertambah dari hari ke hari.

Salah satu proyek mereka adalah mendirikan pusat-pusat kajian ketimuran yang pada akhirnya meracuni pemikiran-pemikiran Islam generasi muda Turki dengan model Islam yang berpihak ke Barat. Di Indonesia, gerakan ini sama persis dengan gerakan Islam liberal.

Bagian - 3

Awalnya para peserta kongres menginginkan agar masalah hancurnya Kekhalifahan Islam di Turki dibahas. Namun agenda ini menemui kegagalan karena Raja 'Abdul 'Aziz bin Sa'ud sebagai tuan rumah kongres menolak membicarakan hal ini

Secara perlahan namun pasti, “lembaga-lembaga pengkajian” yang dipimpin para orientalis Barat ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Jumlah orang-orang kafir pun meningkat. Lewat penguasaan jaringan media dunia, Yahudi Internasional menghembuskan stigma jahat kepada Turki Utsmani jika Turki merupakan “The Sickman From Asia”, Orang Sakit Dari Asia. Sejumlah kebijakan ekonomi Turki disabotase. Dan perekonomian Turki pun terpuruk.

Dari luar, strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman. Sistem Monarkhi Absolut merupakan bid’ah kubro.

Para pemuda Arab diracuni pemikirannya untuk meninggalkan Islam dan menuhankan Nasionalisme Arab. Maka pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab sebagai jalan baru untuk berjuang. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.

Dari dalam kekhalifahan sendiri, Konspirasi Yahudi menanamkan banyak orang untuk bisa bekerja demi kepentingannya. Salah satunya adalah Rasyid Pasha, menteri luar negeri di era Sultan Abdul Majid II (1839) ini memperkenalkan Naskah Terhormat (Kholkhonah), yang sesungguhnya merupakan copy-paste dari UU sekuler Eropa.

Pada 1 September 1876, pihak Konspirasi berhasil mengangkat Midhat Pasha, seorang Mason, jadi perdana menteri. Dia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD sekuler Belgia (dikenal sebagai Konstitusi 1876). Namun Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak Konstitusi ini karena isinya bertentangan dengan syari'at Islam. Midhat Pasha pun dipecat. Hal ini menyebabkan Konspirasi menjalankan agenda B, yakni melakukan pemberontakan yang dijalankan oleh Gerakan Turki Muda yang berpusat di Salonika, sebuah pusat komunitas Yahudi Dumamah, tempat Mustafa Kemal berasal (1908). Kemudian, atas bantuan Barat, Sultan Abdul Hamid II dipecat dan dibuang ke Salonika.

Dalam Perang Dunia I (1914), Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli. Inggris kemudian sengaja mendongkrak popularitas Mustafa Kemal dengan memunculkannya sebagai pahlawan Perang Ana Forta (1915). Mustafa Kemal menjadi populer dan kemudian menggerakan revolusi nasionalisme. Dia menghasilkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan melucuti semua wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Akhirnya Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan sebagainya mendeklaraskan diri sebagai negara nasionalis sendiri yang lepas dari Utsmaniyah. Ideologi Islam dibuang dan digantikan dengan ideologi Nasionalisme.

Saat itu, banyak tokoh Islam yang tertipu dan termakan propaganda Barat mengatakan jika politik Islam atau “politik aliran” sudah bukan masanya lagi, alias sudah ketinggalan zaman.

Sejak saat itu, Mustaf Kemal secara cepat dan gradual berhasil menguasai Turki. Pada 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun trakyat masih banyak yang mendukung kekhalifahan yang kekuasaannya sebenarnya sudah banyak yang lumpuh. Oleh rakyat, Mustafa Kemal dinyatakan murtad. Namun Mustaf Kemal melakukan aksi tandingan dengan mengorbankan darah Muslim Turki. Akhirnya pada 3 Maret 1924, Mustafa Kemal memecat Khalifah dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Turki dijadikan negara sekuler. Semua simbol-simbol keagamaan, terutama Islam, dihapuskan dan terlarang.

Reaksi Dunia Islam, Saudi Memboikot

Dunia Islam menyatakan belasungkawa dan sangat prihatin atas apa yang terjadi di Turki. Dari Indonesia, Syarikat Islam membentuk sebuah komite pada 4 Oktober 1924, diketuai oleh Wondosoedirdjo dan wakilnya, KH. Abdul Wahab Hasbullah. Tujuan didirikan komite ini adalah untuk membahas undangan kongres khilafah di Kairo, Mesir. Lalu ditindaklanjuti dengan Kongres Al-Islam Hindia III di Surabaya (24-27 Desember 1924). Kongres ini dihadiri ulama dari seluruh penjuru Hindia Belanda dan menyepakati untuk mengirimkan utusan, wakil umat Islam Indonesia, ke kongres dunia Islam. Utusan ini terdiri dari Suryopranoto (SI), Haji Fakhruddin (Muhammadiyah) dan KHA. Wahab dari kalangan tradisional.

Disebabkan ada perbedaan pendapat dengan kalangan Muhammadiyah, KH. Abdul Wahab dan kawan-kawannya menggelar rapat dengan kalangan ulama tradisionil dari Surabaya, Semarang, Pasuruan, Lasem, dan Pati. Berdirilah Komite Merembuk Hijaz sebagai pegimbang Komite Khilafah yang “jatuh” ke tangan Muhammadiyah dan menyerukan kepada Ibnu Sa'ud, Raja Saudi, agar tradisi keagamaan yang sudah berjalan selama ini jangan dihentikan. Komite Merembut Hijaz ini kemudian dikenal dengan sebutan Nahdlatul Ulama, diresmikan di Surabaya, 31 Januari 1926.

Di tahun 1927 berlangsung Kongres Khilafah II di Mekkah. Agus Salim (Syarikat Islam) hadir dalam kapasitas sebagai utusan Hindia-Belanda. Awalnya para peserta kongres menginginkan agar masalah hancurnya Kekhalifahan Islam di Turki dibahas. Namun agenda ini menemui kegagalan karena Raja 'Abdul 'Aziz bin Sa'ud sebagai tuan rumah kongres menolak membicarakan hal ini.


Bagian - 4

Hidup di bawah tekanan dan penindasan kekuatan sekularis Turki yang menguasai hampir seluruh bidang kehidupan, sipil maupun militer, ternyata tidak memadamkan api keislaman rakyatnya.

Sejak Mustafa Kemal menguasai Turki pada tahun 1923, Yahudi dari Salonika tersebut berusaha keras memisahkan Turki dengan Islam. Bentuk kekhalifahan diganti dengan bentuk Republik sekuler. Mustafa Kemal dan para pengikutnya juga meracuni rakyat Turki dengan mengatakan jika Islam itu identik dengan kekolotan dan keterbelakangan, sedangkan Barat merupakan simbol kemajuan dan modernitas. Mustafa Kemal pun memindahkan ibukota Turki dari Istanbul ke Angora atau Ankara.

Sebagai perwira militer, Mustafa Kemal menggunakan angkatan bersenjata Turki sebagai garda terdepan dalam menghancurkan keislaman. Bahkan angkatan bersenjata Turki dinyatakan sebagai pendukung utama ideologi Kemalis yang sangat anti Islam, dan sebab itu tentara Turki memiliki peran ganda sebagai “Tentara Politik”. Mustafa tentu tidak sendirian, kekuatan Barat senaniasa berada di belakangnya.

Secara resmi, Sekularisme dijadikan garis politik utama yang sama sekali tidak boleh diganggu-gugat. Semua simbol keislaman dilarang. Adzan harus menggunakan bahasa Turki, jilbab dan peci haji tidak boleh dipakai, pengadilan agama dibubarkan, hukum pernikahan Islam diganti dengan hukum positif sekuler, bahkan pada tahun 1925 Mustafa Kemal melarang adanya kelompok tarekat dan juga ibadah haji bagi warganegaranya.

Sebagai garda terdepan penjaga Sekularisme, angkatan bersenjata Turki berkali-kali melakukan intervensi politik seperti yang terjadi pada tahun 1960-an.

Pemanfaatan Sentimen Keislaman

Hidup di bawah tekanan dan penindasan kekuatan sekularis Turki yang menguasai hampir seluruh bidang kehidupan, sipil maupun militer, ternyata tidak memadamkan api keislaman rakyatnya. Dengan penuh kerahasiaan, tumbuh di berbagai komunitas tarekat-tarekat Islam, terutama Tarekat Nusairiyah. Menjamurnya berbagai tarekat yang mengkhususkan diri di dalam pembinaan ruhiyah anggotanya merupakan ciri khas sistem kekuasaan yang menindas, di mana pun dan kapan pun itu.

Secara resmi negara memang menindas Islam, tapi negara tetap tidak bisa mengenyampingkan kekuatan Islam begitu saja, sebab basis pemilih Muslim yang sangat besar mau tidak mau harus diambil hatinya. Hal inilah yang kemudian menjadi lucu, bagaimana sebuah partai sekuler dan tidak pernah perduli pada Islam misalnya, tetapi memanfaatkan simbol-simbol keislaman untuk berkampanye dan membujuk para pemilih di daerah pedesaan.

Partai yang didirikan oleh Mustafa Kemal sendiri, yaitu Partai Rakyat Republik (CHP) tetap harus memanfaatkan sentimen keislaman untuk bisa memperoleh perolehan suara di hati umat Islam yang taat yang masih sangat banyak berada di pedesaan. Dalam rangka merebut hati umat Islam-lah, CHP pada tahun 1947, melonggarkan simpul asas sekularismenya dan memasukkan kembali mata pelajaran pendidikan agama yang bersifat pilihan di sekolah-sekolah umum, mendirikan pusat-pusat pelatihan calon khatib dan da’i, bahkan Universitas Ankara membuka kembali Fakultas Teologi. Menyusul hal itu, pada tahun 1949, CHP mengizinkan makam dan tempat suci dibuka kembali. Walau begitu, untuk tetak memperkuat asas sekularisme maka CHP memberlakukan pasal 163 UU Hukum Pidana, yang berisi pelarangan propaganda yang menyerang asas utama sekularisme Turki.

Pada Pemilu 1950 dan 1954, CHP dikalahkan Partai Demokrat. Partai sekuler ini pun banyak menunggangi sentimen keislaman guna menarik dukungan dari rakyat. Pengumandangan adzan yang tadinya harus menggunakan bahasa Turki kini boleh menggunakan bahasa Arab kembali, pendidikan keagamaan diperluas, jumlah sekolah-sekolah khatib diperbanyak, masjid-masjid baru dibangun kembali, sedangkan masjid-masjid lama yang pernah ditutup dibuka kembali dan difungsikan sebagaimana semula.

Apa yang dilakukan kubu Partai Demokrat mendapat penentangan keras dari kalangan Kemalis dan angkatan bersenjata. Bahkan mereka menuding Partai Demokrat telah jelas-jelas mengkhianati asas Sekularisme Turki yang diusung Mustafa Kemal. Akhirnya, situasi yang panas tersebut berakhi pada aksi kudeta yang dilancarkan angkatan bersenjata Turki pada pagi dini hari, 27 Mei 1960, dimana unit-unit angkatan bersenjata mengambil-alih semua gedung pemerintah, baik yang berada di Ankara maupun di Istanbul. Semua menteri dan deputi Partai Demokrat ditangkap dan dipenjarakan, termasuk Perdana Menteri Menderes dan Presiden Celal Bayar.

Angkatan Bersenjata Turki dan Kubu Kemalis menyatakan diri sebagai garda terdepan dalam menjaga asas Sekularisme. Mereka menyatakan jika kekuatan Islam politik merupakan suatu hal yang harus senantiasa diwaspadai. Walau demikian, kekuatan kubu ini ternyata hanya berpusat di perkotaan dan menjadi jargon kau elit semata. Rakyat Turki di pedesaan tetap menyimpan semangat Islam di dalam hatinya.

Penentangan terhadap sistem Sekulerisme Mustafa Kemal ternyata juga datang dari kelompok kiri Turki. Mereka melihat jika sistem tersebut pada kenyataannya telah memperkaya elit penguasa dan memiskinkan rakyat banyak. Di tahun 1960, berdiri partai kiri pertama dalam sejarah Turki yakni Partai Buruh. Banyak kaum intelektual Turki menjadi anggotanya. Namun walau demikian, penguasa Turki tetap melarang keras Marxisme. Semua buku yang dianggap berbau kiri dilarang.

Pemberangusan terhadap kekuasaan Partai Demokrat oleh agkatan bersenjata dan kubu Kemalis juga menjadi pelajaran berharga bagi kekuatan politik Islam. Mereka meyakini jika kekuatan politik Islam harus mendapat dukungan yang sangat kuat dari rakyat, agar bisa tetap bertahan, dan mereka juga harus pandai bertahan dengan menggunakan jargon-jargon yang tidak “menyakiti” kubu sekular.

Geliat Islam Politik

Ideologi sekularisme ternyata tidak membawa Turki menuju kemakmuran dan keadilan. Perekonomian Turki macet. Sebab itu, dukungan terhadap asas Sekularisme secara amat halus mulai berurang. Perdana Menteri Turgut Ozal (1983-1993) dianggap sebagai orang yang telah berjasa memperbaiki perekonomian Turki, walau masih menganut sistem ekonomi liberal seperti halnya Amerika. Di bawah kekuasaannya, Islam mulai mendapatkan tempatnya kembali di Turki Sekuler. Sejumlah hal yang bisa dicatat adalah diizinkannya bank Islam dari Saudi mendirikan cabang di Turki, juga pembentukan partai-partai “Islam” walau masih menggunakan asas sekularisme.

Bagian - 5

Erdogan bukanlah tipe seorang pemimpin yang mengklaim sebagai Ketua Gerakan Peduli Tetangga, misalnya, namun membangun pagar tembok rumahnya sendiri setinggi lima meter lebih dan asing dengan tetangganya sendiri.
Di bawah sistem sekularisme yang masih sangat kuat, dimana militer akan secara tegas akan melibas siapa pun yang berani meruntuhkan asas ini.

Maka kondisi yang nyata ini jelas tidak memungkinkan seorang tokoh Islam atau ulama secara terang-terangan menyatakan diri sebagai pembela Islam atau akan menegakkan syariat Islam.

Sebab itu, tokoh-tokoh Islam di Turki selalu menghindari jargon-jargon keislaman dan lebih mengedepankan jargon-jargon kemanusiaan dan demokrasi. Mereka lebih mengutamakan kerja nyata ketimbang berbicara.

Dan hebat lagi, para tokoh Islam Turki, lebih memilih berjuang di sisi rakyat jelata, membantu mereka yang kekurangan dan ditimpa kemalangan, ketimbang berjuang di sisi penguasa yang hidup dalam berkelimpahan. Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana Beliau berdakwah Islam dengan memulai dari pencerahan terhadap rakyat jelata, bukan memulai dari mendekati elit negara atau kaum penguasa.

Untuk mendakwahkan Islam sebagai agama yang bersih, peduli, dan menyeluruh, para tokoh Islam Turki menerapkan hal itu pada kehidupan keluarganya sehari-hari. Para tokoh-tokoh Islam itu menyatu dengan kadernya di dalam berdakwah. Jadi tidak ada istilah, hanya kader yang perduli dan bekerja keras memeras keringat, sementara para elit partainya bersenang-senang bersekutu (musyarokah) dengan kelompok elit penguasa atau orang-orang kaya pendukung utama status-quo. Tidak ada istilah hanya para kader yang berlepotan lumpur sawah dan dijemur terik matahari, sementara elit partai kekenyangan makan mewah di hotel-hotel.

Akhirnya, dalam satu pemilihan demokratis di tahun 1985, Partai Islam Refah keluar sebagai pemenang. Necmetin Erbakan dilantik menjadi Perdana Menteri. Kemenangan Refah dan Erbakan disambut dengan penuh kegembiraan dan harapan oleh rakyat Turki. Namun tentu saja, militer Turki melihatnya dengan penuh kewaspadaan.

Refah tidak mengklaim sebagai partai Islam militan dan fundamentalis. Walau demikian Refah juga sama sekali bukan “Partai Islam” yang hanya pandai menjual atau memanfaatkan jargon-jargon keislaman dan kemanusiaan. Secara remi, jargon politik yang dikampanyekan Refah adalah mengutamakan keadilan sosial, tradisi, dan etika, juga menolak westernisasi. Walau demikian, Refah juga menyatakan diri memperjuangkan Islam yang khusus yakni Islam yang sesuai dengan karakteristik rakyat Turki.

Refah merupakan partai moderat yang menjunjung nilai demokrasi dan pluralisme. Namun, tahun 1997 Turki melalui tangan militer melarang partai itu ketika dianggap Partai Refah terlalu memperjuangkan Islam. Sejak itulah, dimulai era jatuh bangunnya partai politik "Islam" di Turki.

AKP dan Erdogan

Saat angin demokrasi bertiup di Turki di awal 1980-an, Recep Erdogan bergabung pada Partai Refah pimpinan Erbakan. Karir politik Erdogan cukup cemerlang disebabkan ia sangat dekat dengan rakyat jelata dan berani bersama-sama rakyat biasa untuk bekerja. Tahun 1994, Erdogan terpilih jadi Wali Kota Istanbul, sebuah kota bersejarah dan metropolitan terbesar dengan penduduk sekitar sepuluh juta jiwa.

Selama menjadi Walikota, Erdogan menegakkan hukum yang adil dan dengan berani banyak membuat kebijakan yang pro-rakyat. Erdogan sama sekali tidak risih memakai seragam pekerja dan bersama-sama rakyatnya melakukan pembersihan jalan. Erdogan pun turun sendiri membagikan kursi-kursi roda pada rakyatnya yang memerlukan.

Semua itu dilakukan bukan sebatas formalitas, tetapi sungguh-sungguh dilakukan. Kehidupan keluarganya pun tidak bisa dikatakan mewah, sehingga hal ini kian mendekatkannya di hati rakyat. Erdogan waktu itu sudah melarang minum-minuman keras.

Banyak kalangan menyandingkan Erdogan dengan Ahmadinejad. Keduanya sama-sama populis, merakyat, sederhana, dan berani menyampaikan kebenaran. kedua pemimpin, baik Ahmadinejad maupun Erdogan, adalah pemimpin yang banyak memberi keteladanan, banyak hal yang telah mereka contohkan kepada rakyat, dan hal-hal yang mungkin telah banyak dilupakan oleh para pemimpin lainnya.

Kepada rakyat, mereka tidak hanya berkata-berkata tapi memberikan contoh serta bukti yang nyata, bahwa pemimpin bukanlah sosok yang tidak bisa dijamah dan digapai oleh rakyatnya, tapi pemimpin adalah pelayan rakyat itu sendiri.

Erdogan bukanlah tipe seorang pemimpin yang mengklaim sebagai Ketua Gerakan Peduli Tetangga, misalnya, namun membangun pagar tembok rumahnya sendiri setinggi lima meter lebih dan asing dengan tetangganya sendiri.

Jika Erdogan menganjurkan kesederhanaan, maka dia dan keluarganya pun menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Erdogan dan AKP berkeyakinan jika kekuatan Islam harus diawali dengan berjuang bersama-sama rakyat jelata, baru kemudian menuju dakwah ke atas. Bukan "dakwah" yang dimulai dari atas, baru turun ke bawah.

Akhir 1980-an Partai Refah dibubarkan militer Turki. Erdogan pun ikut kena tangkap dan di penjara hanya dengan tudingan telah membaca sebuah puisi yang bernuansa Islam dan menghina sistem sekuler. Namun disebabkan perilakunya yang baik dan santun, pemerintah mengurangi masa hukumannya, sehingga hanya empat bulan. Setelah pembebasannya, Erdogan mendirikan AKP pada 14 Agustus 2001.

Strategi yang dijalankan AKP adalah dengan menggandeng dan memperkuat lobi dengan Eropa ketimbang harus berdekat-dekatan dengan penguasa sekuleris Turki. Di dalam negeri, AKP memfokuskan diri pada pembelaan dan pendampingan terhadap kaum miskin. Bersama-sama rakyat miskin, AKP berjuang menegakkan sistem yang bersih dan berkeadilan, dan melawan segala perilaku korup para penguasa Turki sekularis.

Hal ini dilakukan Erdogan dan kawan-kawan tidak sebatas di bibir saja, melainkan sungguh-sungguh dilakukan. Erdogan dan para tokoh AKP tidak segan-segan bahu-membahu bersama rakyat miskin menggugat penguasa, dan memperlihatkan kepada rakyat Turki bahwa mereka bersih dan tidak korup dengan benar-benar mencerminkannya di dalam kehidupan keseharian mereka.

Alhasil, simpati rakyat Turki pun didapat AKP. Dalam pemilu November 2002, AKP keluar sebagai pemenang dengan meraup 363 dari 550 kursi yang tersedia di parlemen. Saat itu, sekitar 42 juta orang berhak memberikan suara pada pemilu dimana 14 partai berusaha memenangkan kursi pada parlemen yang beranggotakan 550 orang.

Kenyataan ini tentu tidak menyenangkan kaum sekuler. Dengan sekuat tenaga mereka tetap berupaya menghalangi Erdogan agar tidak sampai menjadi perdana menteri. Tetapi Erdogan tidak kehilangan akal.

AKP dengan cepat mendukung amandemen konstitusi yang membuka jalan baginya untuk jadi perdana menteri, dan berhasil. Erdogan pun akhirnya menjadi perdana menteri setelah AKP memenangkan pemilu tahun 2002 dan berlanjut sampai sekarang.

Bagian - 6 (Tamat)

Kampanye besar-besaran menandakan jika mereka sesungguhnya asing dan jauh dari realitas kehidupan rakyatnya sendiri, walau mereka banyak mengklaim sebagai pembela wong cilik atau pembela umat. Ini adalah fakta.

Nama Erdogan dan Turki menjadi buah bibir masyarakat dunia akhir Januari lalu. Ketika itu, dalam pertemuan ekonomi dunia di Davos-Swiss, Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang duduk berdampingan dengan Presiden Israel Shimon Perez mengecam keras dan mengutuk aksi barbar Zionis-Israel yang menyerang Jalur Gaza akhir Desember 2008. "Kalian bangsa pembunuh!" desis Erdogan sambil menunjukkan jarinya kepada Perez. Dengan sikap penuh harga diri, Erdogan pun berdiri dan meninggalkan begitu saja forum internasional tersebut. Di belakangnya, Perez duduk termangu seolah tidak percaya ada seorang pemimpin negara yang seberani Erdogan terhadap Israel.

Dalam sekejap, Erdogan menjadi Hero baru bagi dunia. Bahkan dalam jajak pendapat yang diselenggarakan di sejumlah situs dan forum internet di Dunia Arab, para netters yang kebanyakan dari kalangan pemuda terdidik membaiat Erdogan sebagai "Khalifah al-Muslimin fi Hadza al-'Ashr" (Pemimpin Umat Muslim di Zaman ini), sebanding dengan Khalifah Turki Utsmaniyah, Sultan Abdul Hamid II di akhir abad ke-19 M.

Sebaliknya, umat Islam dunia mencemooh para pemimpin negara-negara Arab—terutama para pemimpin Saudi Arabia dan Mesir—yang merestui aksi barbar Zionis-Israel menyerang warga Gaza. Bukan rahasia lagi jika para pemimpin Mesir dan Saudi lebih bersahabat dengan faksi Fatah pimpinan Mahmoud Abbas, yang di kalangan rakyat Palestina di kenal dengan sebutan Pelayan Zionis-Israel dan memusuhi HAMAS yang berjuang untuk memerdekaan Palestina dari penjajahan Israel.

Kepulangan Erdogan dari Swiss disambut gegap-gempita rakyatnya. Semangat pembelaan terhadap Palestina bertambah kuat tertanam di dada rakat Turki. Sebuah acara penggalangan dana yang diselenggarakan hanya beberapa hari setelah "insiden Davos", dalam waktu hanya tiga jam berhasil mengumpulkan 750.000 Euro atau sekira 12 miliar Rupiah!

Sikap penuh harga diri seorang Recep Tayyip Erdogan tidaklah muncul begitu saja. Ada proses yang cukup panjang dan istiqomah, baik dalam kehidupan pribadinya dan juga perjalanan politiknya.

Pelajaran Dari Turki Bagi Indonesia

Menurut banyak pengamat politik, naiknya popularitas tokoh dan partai politik berbasiskan massa Islam di Turki sesungguhnya merupakan akibat dari kegagalan sistem sekularisme yang diciptakan oleh Rezim Jenderal Mustafa Kemal. Rakyat Turki yang semula mengelu-elukan Mustafa Kemal dan para pendukungnya menjadi apatis dan anti ketika selama bertahun-tahun para pemimpin sekuler ini berkuasa ternyata tidak berhasil membawa kemakmuran bagi bangsanya. Mereka malah tumbuh menjadi segelintir elit penguasa yang kian hari kian kaya raya dan menciptakan jurang sosial ekonomi yang teramat dalam.

Dalam masa-masa "penuh mara bahaya", di mana tentara akan siap menyerbu siapa saja yang berani meneriakkan slogan syariat Islam di Turki, maka para tokoh umat Islam di Turki mengambil strategi perjuangan dengan moto "Silent is Golden". Mereka tidak mengembar-gemborkan diri sebagai kelompok yang akan memperjuangkan syariat Islam, tidak mengaku sebagai pihak yang paling suci, tidak mengklaim sebagai kelompok yang paling bersih, dan sebagainya, namun melakukan semua itu dalam kehidupan ril, baik dalam kehidupan keluarga atau pun dalam kehidupan berpolitiknya.

Disebabkan cara hidupnya yang sederhana dan berpihak pada kaum mustadh'afin, Erdogan dianggap sebagai pembela kaum tertindas. Saat menjabat sebagai Walikota Istanbul, Erdogan merupakan politisi pertama yang memelihara dan menyantuni orang-orang cacat saat pemerintah Kemalis tak memiliki kepedulian terhadap mereka. Dia memberikan berbagai keistimewaan dan pelayanan tulus bagi orang-orang cacat berupa mobil-mobil khusus, pembagian kursi-kursi roda. Bahkan Erdogan-lah ketua partai pertama dalam sejarah Turki modern yang berani mencalonkan orang cacat (Luqman Ayyo) duduk di parlemen.

Selain itu, Erdogan juga merupakan tokoh yang paling sering memberikan bantuan sosial berupa pakaian, makanan, dan uang kepada fakir miskin saat menjadi walikota. Dalam berbagai kesempatan, Erdogan turun sendiri ke lapangan untuk melakukan pembagian santunan ini dengan tulus, bukan sekadar seremonial. Dengan mengenakan seragam pekerja yang kasar dan mengendarai mobil yang biasa, Erdogan turun ke jalan memotivasi para pekerja jalanan agar bisa membersihkan kota Istanbul dari segala keruwetan yang ada. Sebab itu, selama pemerintahannya, kota Istanbul menjadi kota yang bersih dan indah karena operasi bersih dengan serius digalakkan. Erdogan bukan hanya menyuruh para pekerja untuk lebih giat bekerja, namun dengan penuh empati dia menaikkan gaji pembersih jalan serta memberi mereka fasilitas-fasilitas kesehatan dan jaring sosial. Ini ampuh memotivasi mereka agar bekerja lebih tekun.

Di bawah kepemimpinan Erdogan, kota Istanbul yang semua memiliki utang sebesar 2miliar dollar AS dan nyaris bangkrut, dengan cepat bisa mengatasi itu semua dan mengubah menjadi sebuah kota yang meraih laba dan tertata dengan baik demi kemaslahatan rakyatnya.

Seorang Erdogan juga sangat menghormati semua orang. Bukan dengan sikap yang dibuat-buat, namun keluar dari hati yang tulus dan bersih. Hampir dalam setiap pertemuan, ia berusaha menyalami hadirin satu persatu, bahkan dia konon tidak pernah absen melayat kematian siapa saja orang Turki yang ia dengar beritanya.

Sebab itulah, rakyat Turki sangat mencintai Erdogan, tanpa Erdogan harus mengkampanyekan diri dan partai politiknya dengan menghambur-hamburkan dana umat yang ada, seperti yang diperbuat oleh partai-partai dan tokoh-tokoh Kemalis. Di bawah kepemimpinan PM Erdogan, Turki menjadi negeri yang sangat kuat di berbagai bidang. Bahkan Zionis-Israel pun dibuatnya bergantung secara ekonomi olehnya. "Kerja keras Erdogan telah menjadikan ekonomi bangkit dari keterpurukan. pertumbuhan ekonimi sangat tinggi , inflasi turun drastis sampai 20%, menurunkan suku bunga hingga 40%, menaikkan nilai mata uang lira sampai 30%, menaikkan ekspor sampai 30%." (Republika,6/4/2004).

Apakabar Indonesia? Rakyat Indonesia sesungguhnya telah paham jika sisten sekularisme yang diusung pemerintah negeri ini dari zaman Soekarno, Jenderal Harto, sampai dengan para pewarisnya sekarang ini telah gagal total. Hanya saja, sampai saat ini belum ada tokoh yang tampil dengan bersih dan penuh keteladanan. Yang ada baru sebatas klaim di mulut. Kita disini sering mendengar betapa pejabat dan tokoh umat menyerukan agar rakyat hidup sederhana, namun mereka sendiri hidup dalam harta yang berlimpah, entah darimana asalnya. Sebab itu, dalam Pemilu 2009 sekarang, semua partai politik, semua tokoh, berlomba-lomba berkampanye untuk bisa menipu rakyat sebanyak-banyaknya. Padahal, jika saja mereka selama ini hidup bersih, lurus, dan berani melawan kezaliman dengan tegas, maka rayat Indonesia akan memilihnya tanpa mereka harus berkampanye sekali pun!

Kampanye besar-besaran menandakan jika mereka sesungguhnya asing dan jauh dari realitas kehidupan rakyatnya sendiri, walau mereka banyak mengklaim sebagai pembela wong cilik atau pembela umat. Ini adalah fakta. (Tamat/rd/ eramuslim.com)




No comments: