Tuesday, February 3, 2009

Israel "Khawatir' Sikap Tegas Erdogan

Kasus ributnya Recep Tayep Erdogan dengan Shimon Perez bikin ketar-ketir Israel. Simak sikap khawatir Israel pada Turki

Hidayatullah.com--Sikap tegas Perdana Menteri Turki Recep Tayep Erdogan Walkoutyang melakukan aksi walk out dari forum ekonomi dunia yang digelar di kota wisata Davos, Swiss, beberapa hari kemarin rupanya banyak membuat pihak "ketar-ketir".

Sikap tegas Erdogan tersebut terhitung sebagai reaksi keras atas pernyataan Presiden Israel Shimon Perez yang mengemukakan pledoinya terkait penyerangan brutal Israel atas Gaza. Sikap Erdogan itu juga terbilang sebagai bentuk protes kepada forum yang hanya memberinya waktu berbicara separuh lebih sedikit dari yang diberikan kepada Perez. Erdogan bahkan mengancam tidak akan datang ke forum Davos lagi.

Atas sikap tegas tersebut, negara-negara Arab, yang seharusnya memiliki sikap seperti Turki, bahkan dibuat "malu dan kehilangan muka", sementara negara-negara Barat dijadikannya "terperanjat", dan Israel dibuatnya "sungkan".

Sebagaimana diketahui, Israel, negara yang memiliki hubungan diplomatik istimewa dengan Turki sejak setahun berdirinya negara Zionis itu pun tampak bersikap "sungkan" atas sikap yang diambil Erdogan.

Beberapa jam setelah usainya KTT Davos, dan setelah Erdogan tiba di Istanbul, Presiden Perez segera menelpon Erdogan untuk meluruskan duduk perkara dan meminta maaf.

Berikut ini adalah transkip percakapan antara Perez dan Erdogan yang banyak dimuat di koran-koran Turki dan Timur Tengah lainnya. Dalam percakapan tersebut, tampak jelas jika Perez meminta maaf kepada Erdogan jika ia telah membuat perdana menteri Turki itu bereaksi keras.

Perez: "Hal seperti ini kerap kali terjadi di antara sahabat. Saya merasa menyesal dan meminta maaf atas apa yang terjadi. Sebelum segala sesuatu yang lain, saya ingin menegaskan jika penghormatan saya dan penghargaan saya kepada Repulik Turki, juga kepada anda sebagai Perdana Menteri Turki, sejatinya tidak berubah di waktu kapan pun."

Erdogan: "Ya, perdebatan antara sahabat adalah hal yang wajar terjadi. Tetapi, satu hal yang tidak patut diterima adalah ketika sahabat tersebut meninggikan suaranya dalam sebuah forum dunia sambil menatap tajam ke arah Perdana Menteri Turki, seakan-akan ia [PM Turki] adalah kepala sebuah klan."

Perez: "Saya meninggikan suara saya karena kawan-kawan saya selalu bilang jika suara saya terdengar samar, dan mereka akhirnya tidak memahami apa yang saya katakan. Tidak ada hubungannya saya meninggikan suara saya dengan sikap saya atas Perdana Menteri Turki. Ya, saya merasa sedih atas apa yang terjadi hari ini."

Erdogan: "Saya mendengar anda akan menggelar jumpa pers?"

Perez: "Tidak hari ini, tetapi besok"

Errdogan: "Jika engkau dapat berbicara pada jumpa pers untuk menjelaskan perasaan yang engkau rasakan sekarang, maka saya pastikan jika nanti ketegangan ini akan semakin mengurang."

Perez: "Ya, saya pasti akan sampaikan itu kepada media."

Erdogan: "Terimakasih banyak atas telpon anda."

Perez: "Sama-sama. Saya juga mengucapkan terimakasih. Saya berharap perjalanan anda menyenangkan."

Dalam jumpa pers yang digelar keesokan harinya, Perez menyatakan kepada media bahwa Israel tidak menghendaki adanya ketegangan dan juga berkelanjutannya masalah yang lebih jauh dengan Turki. Perez juga berharap apa yang terjadi di Davos tidak mempengaruhi hubungan Israel dan Turki.

Perez juga menambahkan, jika negaranya tidak ingin memiliki masalah dengan Turki, karena sejatinya Israel hanya bermasalah dengan Palestina.

Aksi Walkout

Sebelumnya, di seminar tentang "Perdamaian Gaza" yang digelar di sela-sela KTT Davos pada Kamis (29/1) kemarin, Perez, yang duduk tepat di samping kiri Erdogan, berbicara sekitar setengah jam mengenai alasan dan "pembelaan diri" Israel yang menyerang Gaza. Perez menyatakan jika serangan teror yang terus dilakukan Hamas adalah penyebab utama kenapa Israel pada akhirnya memutuskan untuk menyerbu Gaza.

"Hamas terus menembakkan roket-roket ke pemukiman Israel. Sebab itulah pada akhirnya Israel memutuskan untuk menyerang Gaza, markas Hamas," ungkap Perez dengan nada berapi-api.

Saat mengemukakan pernyataannya, Perez berbicara dengan nada tinggi, juga beberapa kali menatap wajah dan mata PM Turki yang duduk tepat di samping kanannya.

Ketika giliran berbicara tiba pada Erdogan, PM Turki tersebut menanggapi pernyataan Peres dengan tanggapan yang tak kalah tegas, namun tetap dengan nada bicara yang kalem.

"Simon Perez ini sudah berusia tua, tetapi nada bicaranya tinggi. Saya tidak akan demikian, saya akan tetap berbicara dengan memakai etika," kata Erdogan.

"Masih jelas dalam ingatan saya, akan anak-anak kecil Gaza yang dibunuh Israel di tepi pantai. Saya masih ingat, berapa jumlah orang-orang yang anda bunuh di Gaza," tambah Erdogan seraya menatap wajah Perez.

Erdogan pun kembali melanjutkan tanggapannya. Kali ini ia menujukan pernyataannya kepada peserta sidang. "Dan, kalian semua mengetahui dengan jelas perbuatan Israel yang dengan tega telah membantai nyawa anak-anak dan perempuan."

Namun, baru 10 menit Erdogan mengemukakan pernyataannya, moderator sidang segera memotong dan menyatakan jika waktu Erdogan telah habis. Erdogan pun segera bangkit dari duduknya, ia mengemasi kertas-kertasnya, lalu segera beranjak meninggalkan kursi sebagai bentuk protes.

"Terimakasih telah memberikan kesempatan berbicara kepada saya. Saya telah berbicara separuh waktu saja dari waktu yang kalian berikan untuk Perez," kata Erdogan dengan nada marah.

"Ya, saya putuskan untuk tidak akan menghadiri lagi KTT ini," pungkasnya seraya beranjak.

Selepas keluar dari ruangan sidang, Erdogan segera bertolak ke Istanbul. Sementara itu, di dalam negeri, kepulangan Erdogan pun disambut oleh ribuan rakyat Turki. Mereka pun mengelu-elukan Erdogan sebagai pahlawan. Beberapa tokoh Timur Tengah, seperti pemimpin Hamas Palestina, pemimpin Gerakan Anti-Zionisme di Yordania, juga Presiden Iran memuji sikap berani Erdogan.

Turki kekuatan Islam masa depan yang mulai diperhitungkan Israel. Tapi tak banyak Negara Arab menjadikan pelajaran berharga

Ketika Erdogan berani mengambil sikap tegas dan memperlihatkannya kepada publik dunia, justru Sekjen Liga Negara-Negara Arab (Jami'ah ad-Duwal al-'Arabiyyah), Amrou Musa, yang sejatinya menjadi wakil dari negara-negara Arab dalam pertemuan tersebut dan juga duduk dekat dengan Erdogan tampak "diam-diam" saja.

Saat Erdogan beranjak dari kursi duduknya, Musa menyalami Erdogan, namun setelah itu Musa tampak "kebingungan" dan akhirnya duduk manis kembali. Saat berbicara pun, Musa sama sekali tidak menunjukan sikap tegasnya kepada Isarel dan dunia.

Situs Islam internasional yang mengudara dari London, Islamonline (31/1) menyebut jika apa yang dilakukan Erdogan adalah pelajaran (darsan) berharga sekaligus tamparan telak untuk negara-negara Arab.

Bagaimana pun Turki bukanlah ras Arab. Turki sangat jauh berbeda dengan Arab, baik dari asal-usul ras, bahasa, bangsa, dan budaya. Yang mempertalikan antara keduanya adalah agama Islam. 99 % penduduk Turki adalah Muslim, disamping pada masa keemasan kekhalifahan Utsmani dulu, Turki pernah menguasai seluruh wilayah Arab, mulai dari Afrika Urtara, Mesir, Syam, Semenanjung Arabia, hingga Iraq.

Kekuatan Masa Depan

Banyak pengamat politik memprediksi jika kebangkitan Islam akan bermula dari Turki, Iran (Persia), dan Asia Timur, dan justru bukan dari Arab.

Selepas tahun 2000, dan setelah kubu Islam Moderat (AK Partai) menguasai pemerintahan dengan Recep Tayep Erdogan dan Abdullah Gul sebagai ikonnya, lambat laun Turki mengalami kemajuan yang terbilang pesat di segala bidang, utamanya ekonomi, diplomasi, politik, dan tentu pendidikan.

Pengaruh Turki tampak mengangkangi dua dunia dan merambah menuju dua arah, yaitu Eropa dan Timur Tengah. Faktor geografis dan sejarah jelas sangat mempengaruhi potensi tersebut. Turki terletak di antara Eropa dan Asia, antara Barat dan Timur Tengah, antara Kristen dan Islam.

Selain itu, Turki juga menjadi pewaris utama kekhalifahan Islam Utsmaniyyah yang pernah menjadi legenda selama beberapa abad lamanya (tercatat berdiri di abad ke-13 M dan rubuh di abad ke-20 M).

Kekhalifahan Utsmani memiliki wilayah kekuasaan yang luas, mulai dari Balkan (Eropa Tenggara), Eropa Timur, Afrika Utara, Mesir, Nubia, Syam (Levantina, sekarang meliputi Syria, Lebanon, Yordania dan Palestina), Semenanjung Arabia (sekarang meliputi Saudi, Yaman, Bahrain, Qatar, Oman, dan UEA), dan juga Iraq.

Hingga saat ini, Turki menjadi mitra utama Uni Eropa dan terus dalam proses untuk menjadi anggota tetap Persatuan Negara-Negara Eropa pengguna Euro itu. Terkait beberapa kasus Eropa dengan Timur Tengah, Turki kerap menjadi penengah antara kedua belah pihak.

Sementara itu, di Timur Tengah, di negara-negara Arab, Turki mampu memainkan peranan yang cukup signifikan, terlebih antara keduanya memiliki pertalian keagamaan yang erat, yaitu Islam.

Dari segudang potensi dan pengalaman yang kaya yang dimiliki Turki, pada akhirnya Turki menjelma menjadi sosok negara Muslim yang unik, yang mampu memadukan unsur kemodernan dan kemajuan Eropa dengan unsur ketimuran Islam.

Maka tidaklah berlebihan, jika para pengamat politik internasional memprediksikan Turki, utamanya selepas dipimpin Erdogan dan Gul, sebagai kekuatan Islam masa depan yang, bukan sekedar diperhitungkan, tetapi juga cukup meyakinkan.




No comments: