Tuesday, January 13, 2009

Pembantaian Gaza, Masalah Agama !

Masalah Palestina bukanlah persoalan agama, agama jangan dikait-kaitkan dengan masalah ini, pembantaian Gaza adalah persoalan kemanusiaan. Berulang-ulang opini ini dilontarkan oleh kelompok liberal-sekuler. Bahkan Presiden SBY pun ikut-ikutan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, usai bertemu dengan Duta Besar Palestina Fariz Mehdawi di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (5/1), tidak menginginkan konflik antara Israel dan Palestina diseret-seret kepada konflik antar agama.

Presiden Yudhoyono menegaskan bahwa konflik di Palestina merupakan konflik kedaulatan, bukanlah konflik antar agama. Lebih lanjut, Presiden Yudhoyono mengatakan serangan Israel adalah sebuah tindakan yang berlebihan sehingga mengakibatkan korban sipil yang begitu banyak.

Pernyataan Palestina bukan masalah agama jelas penyesatan pemikiran sekaligus penyesatan politik. Kita perlu tegaskan pembantaian lebih dari 900 saudara kita di Palestina adalah masalah agama. Memang pembantaian penduduk yang tidak bersalah yang kebanyakan diantaranya adalah anak-anak, penghancuran masjid, penggunaan senjata kimia posfor putih yang mengerikan adalah cerminan kebiadaban Israel yang merupakan persoalan kemanusiaan (humanity).

Namun dalam Islam persoalan humanity ini adalah persoalan agama (Islam). Islam mengharamkan pembunuhan manusia baik muslim atau non muslim tanpa alasan yang hak (yang dibenarkan) oleh hukum syara’. Begitu pentingnya nyawa ini sampai-sampai Rasulullah Saw. menjelaskan dengan gamblang dalam haditsnya bahwa hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan bagi Allah SWT dibanding dengan terbunuhnya nyawa seorang muslim tanpa alasan yang hak. Terbunuhnya satu orang muslim saja sudah dikecam oleh Rosulullah Saw. apalagi ratusan bahkan ribuan nyawa seperti yang terjadi di Palestina sekarang.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk muslim tapi juga non muslim. Dalam Islam, Ahlul Dzimmah, orang kafir yang menjadi warga negara Daulah Khilafah Islam harus dilindungi. Rasulullah Saw. sampai-sampai mengatakan siapa yang menyakiti mereka (non muslim ahlul dzimmah) berarti telah menyakiti Rosulullah Saw.

Pembantaian Gaza adalah persoalan agama dalam Islam. Berdasarkan syariah Islam haram hukumnya bagi seorang muslim membiarkan saudaranya sendiri didzolimi, disakiti, apalagi dibunuh secara masal seperti yang terjadi di Gaza saat ini. Rasulullah Saw menggambarkan hal ini dengan perumpamaan yang sangat sederhana dan mudah dimengerti.

Rasulullah Saw menggambarkan persaudaraan umat Islam (al-ukhuwah al-islamiyah) seperti satu tubuh. Kalau salah satu tubuh kita sakit , maka tubuh yang lain juga menjadi sakit. Tangis ,rasa sakit, kematian saudara kita di Palestina, juga berarti penderitaan kita. Apalagi di Palestina terdapat masjid al Aqsho yang jelas sangat berhubungan dengan masalah keagamaan seperti yang diabadikan dalam al-Qur’an surat al-Isra’.

Tidak hanya itu agama Islam memberikan solusi yang kongkrit kalau terjadi pembantaian yang dilakukan musuh yang menyerang dan menjajah negeri Islam seperti yang terjadi di Palestina sekarang. Hukumnya adalah fardhu ‘ain (wajib bagi tiap individu) penduduk yang diserang dan diduduki untuk melakukan perlawanan , jihad fi sabilillah sampai tetes darah penghabisan. Kalau mereka belum mampu, maka kewajiban itu berlaku bagi kaum muslim lain yang ada disekitarnya, hingga seluruh dunia.

Tentang masalah ini Imam Nawawiy menjelaskan, “Madzhab kami berpendapat, hukum jihad sekarang ini adalah fardlu kifayah, kecuali jika kaum kafir menyerang negeri kaum muslim; maka seluruh kaum muslim diwajibkan berjihad (fardlu ‘ain). Jika penduduk negeri itu tidak memiliki kemampuan (kifayah untuk mengusir mereka), maka seluruh kaum muslim wajib berjihad hingga kewajiban itu tersempurnakan (mengusir orang kafir).”[1]

Hal yang sama dinyatakan Imam Ibnu Taimiyyah, “Jika musuh telah memasuki negeri Islam, tidak ada keraguan lagi, penduduk terdekat wajib mengusir musuh. Jika tidak mampu maka penduduk yang lain wajib berjihad (hingga meluas ke seluruh negeri Islam). Sebab, seluruh negeri Islam adalah satu kesatuan yang tidak terpisah.”[2]

Jadi yang disebut masalah agama dalam Islam bukan hanya persoalan ibadah mahdhoh seperti sholat atau puasa. Pembunuhan terhadap manusia, kemiskinan, ekonomi, politik, pendidikan, semuanya adalah masalah agama yang diatur Islam secara rinci. Islam juga memberikan solusi yang kongkrit terhadap persoalan-persoalan itu.

Mengatakan Palestina bukan persoalan agama adalah pandangan sekuler. Pandangan ini ingin memisahkan Islam dengan politik, ekonomi, dan persoalan sosial. Inilah yang membuat agama menjadi mandul untuk menyelesaikan persoalan manusia. Agama kemudian hanya sekedar nilai-nilai moral yang bersifat anjuran.

Pandangan sekuler seperti ini sekaligus mencerminkan kekhawatiran musuh-musuh Islam. Sebab, kalau umat Islam menyadari masalah ini adalah masalah agama, umat Islam akan berbondong-bondong melakukan jihad fi sabilillah membebaskan Palestina. Inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam itu. Apalagi kalau jihad fi sabilillah itu dilakukan oleh seluruh umat Islam di dunia dibawah kekuatan politik Khilafah Islam. Kalau umat Islam melakukan ini Israel pasti bisa dikalahkan, termasuk negara pendukung utamanya Amerika Serikat dan sekutunya. Inilah yang mereka takuti. (Farid Wadjdi)


[1] Imam Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, juz 8/63-64

[2] Imam Ibnu Taimiyyah, al-Ikhtiyaraat al-’Ilmiyyah, juz 4/609; lihat juga Imam al-Syafi’iy, al-Umm, juz 4/170; al-Kasaaiy, al-Badaai’ al-Shanaai’, juz 7/98; al-Dardiri, Syarah al-Kabiir; juz 2/174-175






No comments: