Thursday, January 15, 2009

Mengapa ummat Islam tidak berdaya

Assalamu'alaikum wr wb,

Jumlah ummat Islam ada 1,2 milyar. Sementara Yahudi
hanya sekitar 20 juta di mana 7 juta tinggal di
Israel. Sisanya 6 juta tinggal di AS, 700 ribu di
Perancis dan Rusia, 300 ribu di Inggris, Asia, Amerika
latin, dan sebagainya. Bahkan di Indonesia juga ada.

Mengapa ummat Islam yang jumlahnya jauh lebih besar
bisa dikalahkan Israel dengan mudah? Mengapa Ummat
Islam meski saudara Muslimnya di Palestina dibantai
Israel tidak berdaya sama sekali untuk membantu
sehingga 1.033 warga Palestina (sebagian besar wanita
dan anak-anak) tewas dan 4.850 luka parah? Jumlah
korban terus bertambah hingga sekarang (saat ini hari
ke 20). Bukankah kata Nabi Muhammad SAW ummat Islam
itu seperti satu tubuh? Jika yang lain sakit, maka
yang lain akan merasakan sakit juga? Apakah ke-Islaman
kita sudah sangat tipis?

Ini tak lepas dari berbagai faktor. Yang utama adalah
karena kelemahan ummat Islam sendiri.

Ummat Islam Tidak Bersatu

Pertama ummat Islam tidak bersatu. Tapi
bercerai-berai. Padahal dalam surat Ali ‘Imran ayat
103 Allah melarang ummat Islam bercerai-berai. Saat
ini ummat Islam di seluruh dunia terkotak-kotak dalam
banyak negara yang tidak jarang satu sama lain saling
bermusuhan bahkan perang seperti Iraq, Kuwait, Arab
Saudi, Iran, dan sebagainya.

Padahal ketika ummat Islam bersatu, ummat Islam mampu
mengalahkan musuhnya dengan mudah. Pada zaman Nabi
Muhammad SAW, ummat Islam mampu menghalau kaum Yahudi
serta menundukkan kerajaan Romawi dan Persia. Pada
zaman Sultan Salahuddin Al ‘Ayubi, ummat Islam mampu
mengalahkan negara-negara Eropa yang bersatu dalam
perang merebut Yerusalem.

Sebaliknya, kaum Yahudi yang mengembara di berbagai
negara seperti Eropa, Amerika, Asia, dan Australia
lewat Sistem Ekonomi Neoliberalisme/ Kapitalisme
melalui Pasar Modal, Pasar Uang, dan Pasar Komoditas
akhirnya menguasai perekonomian banyak negara di
seluruh dunia. Bahkan 90% sumber daya alam Indonesia
seperti minyak, gas, emas, dan sebagainya dikuasai
perusahaan-perusaha an kafir yang sebagian besar
berasal dari AS. Organisasi PENA memperkirakan
perusahaan-perusaha an tersebut memperoleh Rp 2.000
trilyun/tahun dari kekayaan alam Indonesia.

Tak ada seorang pun yang bisa jadi presiden AS tanpa
dukungan dana kampanye dari kelompok Jutawan Yahudi AS
dan juga media massa yang dikuasai Yahudi.

Dengan pimpinan AS yang pemerintahannya dikuasai
kelompok Yahudi inilah kaum Yahudi mengerahkan segala
dana, SDM, dan militer dari seluruh dunia untuk
mendukung Israel. Sebagai contoh, negara-negara Islam
seperti Mesir, Turki, dan Yordania selain berasaskan
sekuler ciptaan Yahudi juga membina hubungan
diplomatik dengan Israel. Presiden Mesir, Hosni
Mobarak, bahkan menutup perbatasan Gaza-Mesir sehingga
rakyat Palestina tidak bisa melarikan diri ke sana.
Makanan dan obat-obatan pun tidak bisa masuk hingga
sebagian rakyat Gaza ada yang sampai memakan rumput
karena lapar. Presiden Mesir, Hosni Mobarak yang
merupakan boneka Yahudi sanggup membuat bangsa Mesir
jadi tidak punya rasa persaudaraan Islam atau pun Arab
dengan Palestina yang Arab Muslim.

Oleh karena itu ummat Islam harus bersatu. Segala
macam masalah furu’iyah seperti ”Qunut” yang
membuat ummat Islam saling timpuk dan hujat satu sama
lain harus dihilangkan. Sebab jangankan berdebat
tentang hadits, berdebat tentang ayat Al Qur’an yang
mutasyabihat (tidak jelas) pun Allah melarangnya (Ali
’Imran:7). Ummat Islam harus bersatu dan tidak boleh
terpengaruh oleh kalangan khawarij atau pun ashobiyah
yang begitu gampang mengkafirkan Muslim lainnya dan
memecah-belah persatuan Islam.

Ummat Islam Dikuasai Kelompok Kafir

Ummat Islam juga tidak pantas tunduk kepada PBB yang
dikuasai kelompok kafir yang tidak peduli sama sekali
pada nasib ummat Islam di Iraq, Afghanistan, dan
Palestina. Anggota Tetap DK (Dewan Keamanan) PBB
adalah AS, Inggris, Perancis, Rusia, dan Cina.
Semuanya kafir di mana AS, Inggris, dan Perancis
dikuasai betul oleh kaum Yahudi. Oleh karena itu bodoh
sekali jika ummat Islam mempercayakan nasibnya pada
orang-orang kafir yang justru memerangi Islam. Allah
melarang ummat Islam mengangkat orang-orang kafir jadi
pemimpin atau pelindung (Al Maa’idah:57).

Sebaliknya Organisasi Konferensi Islam (OKI) harus
diperkuat. Harus ada DK (Dewan Keamanan) OKI yang
mampu mengirim pasukan untuk membela ummat Islam yang
tertindas. Para raja mau pun presiden-presiden negara
Islam harus memilih satu pemimpin untuk jadi pemimpin
OKI yang akan melindungi mereka semua. Nanti pemimpin
OKI inilah yang mengatur dan melindungi negara-negara
Islam sehingga perpecahan antara negara Islam bisa
dihilangkan.

Boikot Dollar dan Produk AS dan Israel

Mantan PM Malaysia, Mahathir Mohammad, menghimbau agar
negara-negara Islam memboikot dollar dan produk AS.
Indonesia untuk mempertahankan devisa sekitar US$ 54
milyar harus menjual seluruh kekayaan alamnya, menjual
BUMN-BUMN yang bernilai ribuan trilyun rupiah,
mengundang investor asing (baca: Investor Kafir), dan
juga berhutang kepada IMF, World Bank, ADB, dan
sebagainya.

Sebaliknya, AS dengan mudah dapat membuat dollar. AS
tinggal menekan tombol ”Print” untuk mencetak
dollar sebanyak yang mereka mau. Padahal dollar AS itu
sebenarnya berasal dari kertas yang nyaris tidak ada
harganya. Negara-negara Eropa cukup cerdas untuk bisa
dipermainkan dollar AS. Oleh karena itu mereka
(kecuali Inggris yang Pondsterlingnya nyaris sekuat
dollar) membentuk mata uang Euro sehingga perdagangan
antar negara Eropa tidak perlu memakai dollar.

Jika tidak pakai dollar, Indonesia impor barang pakai
apa? Indonesia bisa membayarnya dengan mata uang
negara Importir seperti Yen Jepang atau Yuan China.
Sebaliknya China dan Jepang jika beli barang Indonesia
harus membayar dengan rupiah. Atau Indonesia bisa
mematok rupiah dengan Dinar Emas atau Dirham Perak.
Misalnya Rp 100 ribu saja dengan 0,1 Dinar (1 dinar =
4,25 gram emas 22 karat).

Bank-bank Syari’ah atau Bank-bank Islam harus
mensosialisasikan Dinar emas dan Dirham perak dengan
membuka counter jual-beli dinar/dirham sehingga tidak
perlu dollar AS lagi. Jika transaksi valas nilainya
sekitar Rp 7.000 trilyun/tahun dan memberi keuntungan
sekitar Rp 500 trilyun/tahun bagi money changer atau
pun bank yang menyediakan transaksi valas, maka
jual-beli dinar-rupiah bisa memberikan keuntungan
serupa.

Produk-produk AS yang mendukung Yahudi seperti KFC,
McDonald, Sara Lee, Coca Cola, dan sebagainya harus
diboikot. Bagi orang-orang yang bekerja di perusahaan
tersebut, janganlah takut miskin. Allah mengatakan hal
itu dalam Surat At Taubah ayat 28 ketika orang-orang
kafir dan perusahaan-perusaha an kafir dilarang
memasuki kota suci Mekkah karena banyak orang Islam
yang bekerja di perusahaan tersebut. Tapi ternyata
begitu perusahaan orang-orang kafir menghilang,
perusahaan-perusaha an orang Islam bisa
menggantikannya. Ummat Islam justru lebih makmur
karena mereka bukan cuma jadi pekerja atau kuli dengan
upah UMR saja, tapi juga jadi pemilik perusahaan
dengan penghasilan tak terbatas.

Jangan hanya produk-produk AS yang diboikot. Para
pejabat, wakil rakyat, ulama, ekonom mau pun jurnalis
Muslim harus berusaha agar perusahaan-perusaha an kafir
yang menguasai kekayaan alam Indonesia dan menyumbang
total Rp 2.000 trilyun/tahun (menurut organisasi PENA)
ke negara-negara kafir tersebut bisa dinasionalisasi
sehingga hasilnya bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia
dan ummat Islam. Ummat Islam harus bisa mengikuti
Venezuela yang telah menasionalisasi
perusahaan-perusaha an AS yang beroperasi di negaranya.
Tentu saja hal ini akan dapat tentangan dari ekonom
”Mafia Berkeley” yang jadi kaki tangan Yahudi AS.
Tapi ummat Islam harus bisa mengalahkan mereka.

Indonesia ”menyumbang” sekitar Rp 2.000
trilyun/tahun. Begitu pula negara-negara Islam lainnya
yang kekayaan alamnya dikuras oleh AS. Uang itu
akhirnya dipakai untuk membuat berbagai senjata
canggih yang dipakai untuk menyerang dan menjajah
Islam seperti di Iraq, Afghanistan, dan juga
Palestina. AS setiap tahun menyumbang Israel sebesar
US$ 3,2 milyar. Sebagian besar berasal dari
negara-negara Islam seperti Indonesia. Ummat Islam
yang seharusnya makmur pun jadi miskin seperti
Indonesia. Indonesia tanahnya kaya, tapi rakyatnya
miskin karena pemimpinnya kurang cerdas sehingga
kekayaan alamnya justru dikeruk oleh pihak
asing/kafir.

Ummat Islam juga harus berhenti merokok karena selain
berbahaya juga boleh dikata semua perusahaan rokok
besar itu dikuasai orang kafir. Bahkan ada pabrik
rokok Indonesia yang dikuasai perusahaan AS. Jika
seorang menghabiskan Rp 300 ribu per bulan untuk
rokok, maka dalam setahun dia menyumbang Rp 3,6 juta
kepada orang kafir. Jika ada 100 juta Muslim yang
merokok, maka ada Rp 360 trilyun uang yang disumbang
ummat Islam kepada orang-orang kafir setiap tahun.
Padahal mayoritas ummat Islam miskin dan butuh
pertolongan!

Kuasai Persenjataan Canggih

Para Mujahidin Indonesia yang akan berangkat ke
Palestina juga harus cerdas. Memang bela diri dengan
tangan kosong mau pun dengan pedang itu penting. Tapi
itu saja tidak cukup! Untuk melawan jet-jet dan
helikopter tempur Israel tidak bisa dengan bela diri
atau pedang saja. Tapi harus memakai senapan sniper
atau pun roket yang bisa mencapai pesawat tempur
Israel dan menghancurkannya. Ummat Islam harus
menggunakan senjata yang bisa menggentarkan musuh
sebagaimana dinyatakan surat Al Anfaal ayat 60.

Pembuatan roket-roket yang bisa menghancurkan
tank-tank dan pesawat Israel macam yang dipakai
gerilyawan Hizbullah di Lebanon harus dikuasai
sehingga tentara Israel bisa dipukul mundur seperti di
Lebanon pada tahun 2006.

Embargo Minyak terhadap AS dan Israel

Satu lagi yang harus kita ingat. Kenapa Tank-tank
Israel bisa berjalan, pesawat-pesawat tempur Israel
bisa terbang, dan roket-roket Israel bisa meluncur?
Itu karena minyak dari Arab Saudi. Tanpa minyak, tank,
pesawat tempur, dan roket Israel takkan bisa berjalan.
Israel tidak punya minyak. AS justru kekurangan
minyak. Ada pun Arab Saudi adalah eksportir minyak
terbesar di dunia. Tanpa minyak Arab Saudi, Israel tak
akan mampu membantai ummat Islam di Palestina dan
Lebanon. Oleh karena itu Iran mengusulkan embargo
minyak terhadap Israel dan AS untuk mengatasi serangan
Israel di Gaza.

Tahun 1970-an negara-negara Arab bisa membuat AS dan
Israel mundur dengan embargo minyak. Namun saat ini
pemerintah Arab Saudi mengundang tentara AS untuk
menghadapi pemerintah Iraq yang dulu dipimpin Saddam
Hussein. Dengan matinya Saddam, harusnya raja Arab
berani meminta tentara AS mundur dari tanah Arab.

Semoga dengan persatuan dan kemandirian, ummat Islam
bisa kembali berjaya. Mohon sampaikan informasi ini
kepada muslim lainnya. Dimuat di media massa/blog juga
boleh. (syiar-islam)




No comments: