Thursday, January 15, 2009

Asyura dan Gaza

Syahadah dan pengorbanan merupakan di antara poin budaya Asyura yang
terindah. Pengorbanan dan syahadah Imam Husein as bersama para sahabat
pilihannya di jalan Allah Swt telah menjadikan peristiwa Asyura sebagai
semangat perjuangan yang abadi. Darah suci Imam Husein as telah
menggerakkan masyarakat untuk terus berjuang.
Allah
Swt telah menjadikan kemuliaan dan kejayaan ummat Islam di bawah
naungan perjuangan di jalan Allah Swt. Selama faktor kemuliaan dan
budaya kegigihan ada di tengah masyarakat, mereka akan berada di puncak
kemuliaaan dan ketegaran. Namun jika ummat Islam tidak mempunyai
semangat besar untuk melawan kezaliman, mereka pada dasarnya, tengah
membentuk faktor-faktor yang akan menghasilkan dekadensi. Dalam kondisi
krisis tersebut, Imam Husein as berkata, "Tidakkah kalian menyaksikan
bahwa kebenaran diabaikan dan kebatilan tidak dilawan? Dalam kondisi
seperti ini, seorang mukmin akan lebih memilih gugur syahid daripada
harus hidup dalam kondisi hina."
Di hadapan Allah Swt, syahadah
atau gugur syahid di jalan-Nya merupakan perbuatan yang termulia. Hal
yang membuat kesyahidan berharga adalah memilih syahid berdasarkan
keinginannya untuk menegakkan nilai-nilai sakral dan melawan kezaliman
dengan keberanian. Dengan ungkapan lain, kesyahidan merupakan
penyerahan hal yang paling berharga dalam kehidupan demi melindungi
agama dan nilai-nilai kemanusiaan. Kesyahidan Imam Husein as telah
menerangi jalan di tengah kegelapan bagi ummat Islam. Pemikir Islam,
Syahid Muthahari mengibaratkan syahid seperti lilin penerang yang rela
terbakar untuk memberikan penerangan. Para syahid adalah lilin-lilin
yang menerangi sejarah. Jika cahaya mereka tidak menerangi kezaliman,
manusia tidak akan menemukan jalan untuk menghadapi kazaliman.
Pada
hari Asyura, Imam Husein as ketika menyaksikan pengorbanan dan
kesyahidan para sahabatnya, berdoa kepada Allah Swt menunjukkan
kerinduannya yang luar biasa untuk gugur syahid di jalan kekasihnya.
Dalam munajatnya, Imam Husein as berkata, " Ya Allah, saya ingin syahid
sebanyak 70 kali, khususnya kesyahidan yang disebabkan membela agama
dan menghidupkan jalan atau syariat-Mu."
Dalam tradisi agama,
kesyahidan disebut sebagai puncak kesempurnaan dan tolak ukur penting
untuk mengukur amal-amal manusia. Allah Swt dalam surat Al-Imran
berfirman, "Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal,
tentunya ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta
rampasan yang mereka kumpulkan."
Dalam kajian studi sejarah
Asyura disebutkan bahwa Imam Husein as ketika diusulkan untuk berbaiat
kepada Yazid, penguasa zalim saat itu, menyatakan, berbaiat kepada
Yazid sama halnya dengan meninggalkan Islam. Imam Husein as tidak hanya
menolak legalitas pemerintahan Yazid, tapi beliau juga mengungkap kedok
kebatilannya. Melalui perjuangan dan keberaniannya, Imam Husein as
menyampaikan pesan kepada seluruh manusia bahwa masyarakat yang ideal
bergantung pada perlawanan terhadap kekuasaan yang lalim. Sebab, para
pemimpin yang lalim senantiasa mengancam masyarakat yang sehat. Bahkan,
para penguasa yang lalim terkadang memaksa masyarakat dunia supaya
memenuhi dan melayani arogansi mereka..

Pada intinya,
pengorbanan Imam Husein mempunyai nilai dan harga yang sangat mahal
sekali. Keluarga suci Rasulullah Saww termasuk saudara-saudara
perempuan dan anak-anak Imam Husein as dikepung oleh para musuh dalam
kondisi kehausan. Lebih dari itu, Imam Huseian as, cucu kesayangan
Rasulullah Saww dibantai dan kepala sucinya ditancapkan di ujung
tombak. Akan tetapi pengorbanan mahal Imam Husein as dan keluarga
sucinya mempunyai pengaruh dalam sepanjang sejarah manusia sejak
terjadinya peristiwa Asyura di Karbala. Dapat disimpulkan bahwa
perjuangan dan kegigihan Imam Husein as telah memperkokoh kesadaran dan
kebangkitan ummat Islam untuk melawan orang-orang yang lalim. Sejak
peristiwa Asyura, banyak pergerakan anti-kezaliman bermunculan dari
masa ke masa. Setelah tragedi besar tersebut, perlawanan Imam Husein as
terhadap Yazid terus terulang dalam sejarah di saat kebenaran dan
kebatilan disejajarkan. Semangat perjuangan Imam Husein as berfungsi
sebagai penggerak yang kuat bagi seluruh ummat manusia. Terkait hal
ini, Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma
Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Seluruh penjuru dunia dipengaruhi
dengan kebangkitan Imam Husein as. Asyura merupakan masalah yang tidak
pernah selesai. Jalan Imam Husein as merupakan jalan ketidaktakutan dan
perlawanan terhadap para musuh yang berkuasa. Gerakan beliau
menghancurkan pondasi kezaliman. Setiap mujahid dan pejuang menjadikan
gerakan Imam Husein as sebagai landasan spritualnya. "
Dengan
demikian, kegigihan ummat Islam dalam menghadapi kezaliman dan semangat
perjuangan mereka dalam melawan para penguasa yang lalim, dapat
disimpulkan terinspirasi dari budaya agung Asyura. Kini, kita
sepatutnya menyaksikan tragedi yang saat ini terjadi di Gaza.
Kesyahidan anak-anak kecil yang tertindas, perempuan dan
pejuang-pejuang Gaza mengingatkan semua pihak yang menyaksikannya pada
peristiwa Asyura. Dalam beberapa hari terakhir ini, Gaza terus menjadi
sasaran hujan rudal yang diluncurkan jet-jet tempur Zionis Israel.
Rumah sakit, sekolah taman kanak-kanak, sekolah umum, masjid dan
rumah-rumah penduduk tidak luput dari sasaran brutalitas Israel dan
rudal-rudal militer rezim ini. Hingga kini, ratusan warga termasuk
perempuan dan anak-anak kecil, gugur syahid menyusul serangan membabi
buta Israel yang dilancarkan dari udara.
Menyaksikan fenomena
tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa selama manusia tidak terdidik
dengan nilai-nilai mulia dan ilahi, meski itu terjadi di zaman modern
saat ini, mereka mempunyai kebuasan yang sama seperti yang terjadi pada
tahun 61 hijriah, tepatnya tragedi Karbala. Pada saat itu,
pasukan-pasukan Yazid dengan perlengkapan senjata yang lengkap
mengempung Imam Husein as dan para pengikutnya serta melarang perempuan
dan anak-anak kecil untuk mendekati sungai. Mereka dibiarkan kehausan.
Apa yang terjadi saat ini di Gaza sama seperti tragedi Asyura. Rezim
Zionis Israel yang didukung AS memblokade kawasan Gaza sama seperti
yang dilakukan Yazid terhadap keluarga suci dan para pengikut Imam
Husein as.
Perjuangan dan keberanian warga Gaza mencerminkan
bahwa rakyat tertindas ini menghendaki kemuliaan dalam kehidupan ini.
Bahkan, warga Gaza yang gugur syahid dalam jumlah besar sama sekali
tidak membuat menurunnya semangat untuk melawan para penjajah Israel.
Hal yang menakjubkan lagi, aksi blokade terhadap 1,5 juta warga dan
pembantaian massal di Gaza disaksikan oleh negara-negara dan lembaga
internasional. Namun, mereka sama sekali tidak angkat suara mengenai
pelanggaran hak-hak asasi manusia. Kondisi ini menuntut bangsa
Palestina, khususnya warga Gaza, untuk memetik pelajaran dari para
pejuang besar dalam sejarah seperti Imam Husein as yang tetap
menghadapi penguasa yang lalim. Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah
Lebanon, Sayid Hashem Safiyudin, mengatakan, "Kesyahidan yang terjadi
di bumi Palestina dan Lebanon telah menjadi sebuah budaya yang
berlanjut dari generasi ke generasi. Masyarakat kita mengambil
pelajaran kegigihan dan perjuangan dari perlawanan Imam Husein as di
Karbala."
Warga Gaza dengan kegigihan mereka menyatakan bahwa
mereka tetap menghadapi kesulitan dalam melawan kebatilan dan menolak
kehinaan seperti para pengikut Imam Husein as. Dengan cara kekerasan
dan pembantaian massal, AS dan Rezim Zionis Israel tidak akan mampu
memaksa warga Gaza untuk mengikuti ambisi mereka. Sebagaimana Imam
Husein as dengan pedangnya dapat mengalahkan pasukan Yazid, darah suci
warga Gaza juga akan mengalahkan senjata-senjata modern AS dan Israel.
Salam
kepada Husein yang menumbuhkan semangat perjuangan dan kegigihan bagi
para pejuang dalam sepanjang sejarah. Salam kepada para pejuang yang
memilih gugur syahid daripada hidup di tengah kehinaan. Assalamualaika
Ya Aba Abdillah Al Husein.




No comments: