Thursday, May 31, 2007

"Allah" dalam Islam dan Kristen


Konsep ketuhanan yang ada dalam Yahudi dan Kristen lebih 'membingungkan; dibanding pengertian 'ketuhanan' yang dimengerti dalam Islam

Oleh:


Qosim Nursheha Dzulhadi *

Bukan rahasia lagi bahwa umat Islam secara umum, dan khusus di Indonesia banyak dihadapi berbagai tantangan teologis. Dari “kristenisasi” terang-terangan hingga penggunaan istilah keagamaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dialektika Islam-Kristen di Indonesia menyisakan persoalan yang perlu diungkap dan diteliti secara serius.

Beberapa tulisan para pendeta Kristen di Indonesia banyak sekali menggunakan istilah-istilah Islam yang sudah resmi dan formal digunakan sebagai istilah “ekslusif” dalam Islam. Salah satu istilah yang sudah biasa digunakan adalah lafadz “Allah”. Lafadz ini adalah murni istilah Islam, tidak bisa sembarangan digunakan, meskipun ketiga agama Semit mengklaim masih menggunakannya.

Tulisan ini akan mengulas konsep “Allah” secara umum, yang biasa dikenal dalam agama-agama Semit (YahudiKristenIslam) yang dikenal sebagai Abrahamic religions. Dan kita akan melihat bahwa Islam benar-benar satu agama yang teguh ‘melestarikan’ konsep “Allah” ini.

Konsep “Allah” dalam Islam ini diakui dengan sangat baik oleh Dr. Jerald F. Dirk dalam bukunya “Salib di Bulan Sabit” (Serambi, 2006). Mantan diaken di ‘Gereja Metodis Bersatu’ ini mencatat bahwa “penggunaan kata Allah sering kali terdengar aneh, esoterik, dan asing bagi telinga orang Barat. Allah adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari pemadatan al dan Ilah. Ia berarti Tuhan atau menyiratkan Satu Tuhan. Secara linguistik, bahasa Ibrani dan bahasa Arab terkait dengan bahasa-bahasa semitik, dan istilah Arab Allah atau al-Ilah terkait dengan El dalam bahasa Ibrani, yang berarti “Tuhan”.

“El-Elohim berarti Tuhannya para tuhan atau sang Tuhan. Ia adalah kata Ibrani yang dalam Perjanjian Lama diterjemahkan Tuhan. Karena itu, menurutnya, kita bisa memahami bahwa penggunaan kata Allah adalah konsisten, bukan hanya dengan Al-Quran dan tradisi Islam, tetapi juga dengan tradisi-tradisi biblikal tertua”, kutipnya.

F. Dirk mungkin benar. Akan tetapi konsep Allah dalam Islam jauh lebih mendalam, karena bukan hanya sebagai ‘nama diri’ (proper noun). Dalam pembahasan ilmu Tauhid, konsep al-Ilah terkait erat dengan peribadatan. Oleh karenanya, dalam penjelasan “Laa ilaaha illa Allah” para ulama menjelaskan dengan “laa ma‘buda bihaqqin illa Allah”. (Tidak ada seorang tuhanpun yang berhak “diibadahi” secara benar (mutlak), kecuali hanya Allah saja).

Ini tentu berbeda dengan kata El dalam bahasa Ibrani, yang kemudian bisa menjadi El-Elohim, yang diartikan sebagai “Tuhannya para tuhan”. Berarti ada tuhan selain tuhan yang disebut El-Elohim itu. Namun dalam Islam, Allah atau Ilah hanya satu. Apalagi jika ditelusuri konsep Tuhan dalam agama Yahudi, yang banyak menyiratkan bahwa “Tuhan” Yahudi adalah ‘Tuhan nasionalistik’, atau private God bagi Yahudi. Di luar Yahudi Tuhannya berbeda.

Konsep keimanan kepada “wujud Allah” dalam Islam tidak pernah mengalami problem serius, karena konsep dasarnya sudah jelas dan fixed, tidak bisa ditawar lagi.

Imam al-Sanusi misalnya, menjelaskan bahwa tentang konsep “wujud” itu sangat jelas. Menurut mazhab Syeikh Abu al-Hasan al-Asy‘ariy, mengganggap wujud sebagai salah satu sifat merupakan satu bentuk tasamuh (toleransi). Sebab menurutnya, wujud adalah diri zat (mawjud) itu sendiri, bukan sesuatu yang lain dari zat; dan zat, jelas bukan sifat. Akan tetapi, karena dalam ucapan, wujud selalu disebut sebagai sifat zat, seperti dalam kalimat “Zat Tuhan kita Jalla wa ‘Azza adalah mawjud (ada)”, maka tidak ada salahnya kalau secara global ia dihitung sebagai salah satu sifat. Adapun menurut mazhab yang menganggap bahwa wujud itu lain dari zat, seperti imam al-Raziy, maka menghitungnya sebagai sifat adalah benar sepenuhnya, tanpa tasamuh. Ada pula yang berpendapat bahwa pada yang baharu, wujud itu lain dari zat, tetapi pada yang qadim tidak. Ini adalah mazhab para filosof. (Lihat, Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Yusuf al-Sanusi, Syarh Umm al-Barahin (Bahasan tentang Sifat Allah yang Duapuluh), terjemah: Lahmuddin Nasution, PT. Grafindo Persada, 1999: 32). Semua pendapat ini dapat dipahami dengan jelas dan mudah.

Absurditas ‘Trinitas’

Dalam agama Kristen, konsep Allah jauh lebih problematis. Ini disebabkan adanya konsep “Trinitas” yang hingga hari ini menjadi ‘teka-teki silang’ yang tak berujung.

Seorang penulis Kristen Koptik (Qibti), Arab-Mesir, Nashrullah Zakariya menulis satu buku yang berjudul al-Tsâlûts fî al-Masîhiyyah: Tawhîd am Syirkun bi’l-Lâh? (Trinitas dalam Kristen: Monoteis atau Syirik?), menulis, jika konsep keimanan kepada Allah terjadi lewat ‘advertensi Tuhan’ (al-I‘lân al-Ilâhiy). Tanpa ini, manusia tidak bisa mengenal Allah. ‘

Menurutnya, advertensi Tuhan’ ini terjadi lewat dua cara: Pertama, ‘advertensi umum’ (al-i‘lân al-‘âm). Ini adalah advertensi yang dengannya Allah menyingkap diri-Nya lewat dua hal: (1) Alam. Tentang ini, wahyu yang kudus (al-wahyu al-muqaddas) mencatat: “Langit menyatakan, keagungan Allah dan cakrawala mewartakan karya-Nya” (Mazmur 19: 1-2); dan (2), sejarah. Maksud dari sejarah adalah: berbagai interaksi Allah dengan manusia lewat pengalaman historiknya. Kitab suci menyatakan, “Ia tidak lupa memberi bukti-bukti tentang diri-Nya...” (Kisah Rasul-Rasul 14: 17).

Kedua, ‘advertensi khusus’. Jenis ini memiliki dua sumber: (1) tajassud (bersatunya Allah dengan Yesus, inkarnasi): dimana Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita secara jelas dan eksplisit lewat inkarnasi (tajassud) Kristus.

Di dalam Injil, Yohanes berkata: “Pada mulanya adalah ‘Firman’. Dan firman itu bersama Allah, dan firman itu adalah Allah. Firman sudah menjadi manusia, Ia tinggal di antara kita dan kita sudah melihat keagungan-Nya, seperti yang ada pada seseorang berasal dari seorang ayah, yang penuh dengan karunia dan kebenaran” (Yohanes 1: 1-15, rujuk Ibrani 1: 1-4 dan 1 Timotius 3: 3-5); (2) firman Allah yang termaktub dan pembenar atas – eksistensi – Nya yang berasal dari Kristus.

Yesus berkata: “Janganlah kalian menganggap bahwa Aku datang untuk menghapuskan hukum Musa dan ajaran nabi-nabi. Aku datang bukan untuk menghapuskannya, tetapi untuk menyempurnakannya. Ingatlah! Selama langit dan bumi masih ada, satu huruf atau titik yang terkecil pun di dalam hukum itu, tidak akan dihapuskan, kalau semuanya belum terjadi.” (Matius 5: 17-18).

Itu lah dua bentuk ‘advertensi Tuhan’ kepada manusia menurut Nashrullah Zakariya, yang terdapat di dalam Taurat (Torah) dan Injil. Menurutnya, hal itu menyatakan bahwa Allah itu “esa” (wâhid). Tetapi, Allah juga tidak hanya ‘mengumumkan’ diri-Nya sebagai Tuhan yang esa (al-Ilah al-wahid), advertensi itu terjadi berulang-ulang dari dirinya hingga menjadi “trinitas” (tsâlûtsan).

Setelah menjelaskan itu, Nashrullah bingung dan menyatakan bahwa dogma “trinitas” dalam Kristen tidak bisa dianggap sebagai hasil studi filsafat atau konsep rasionalitas an sich. Karena hal itu menurutnya tidak mudah untuk diterima oleh akal. Sumber dogma ini menurutnya berasal dari Allah itu sendiri. Allah lah yang mengumumkan dirinya sebagai Tuhan yang memiliki tiga oknum: “trinitas” (tsâluts), bukan “trinisasi” (tatslîts). Dan dalam apologi kaum Nasrani dalam membela Allah yang trinitas itu (Allah al-tsâlûts) merupakan bukti keimanan mereka kepada Allah yang esa, seperti yang dinyatakan oleh Allah sendiri tentang diri-Nya lewat firman-firman-Nya: kitab suci.

Padahal, jika mencukupkan diri pada ayat Torah di atas, konsep Allah jelas dapat dipahami. Tapi ketika dikaitkan dengan dogma “trinitas” yang hanya ada dalam Perjanjian Baru (Injil) konsep Allah menjadi ‘kabur’.

Penulis lain, Nasyid Hana dalam “Khamsu Haqâ’iq ‘an Allah”, (cet. II, 1999) menulis bahwa ketika Allah menciptakan para malaikat, Dia mempraktekkan sebagian sifat-sifat-Nya. Dan ketika menciptakan manusia, Dia mempraktekkan sifat-sifatnya kepada manusia.

Bagaimana mungkin Allah butuh kepada makhluk-makhluk-Nya dan mempraktekkan sifat-sifatnya kepada diri-Nya?

Lebih aneh lagi, sebagaimana ditulis Nasyid Hana, “Oknum-oknum itu bukanlah bagian-bagian dalam diri Allah. Maha suci Allah. Allah tidak terdiri dari tiga oknum. Maha suci Allah, tetapi Allah itu esa, dan setiap oknum itu adalah Allah, bukan bagian dari Allah. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah. Satu esensi tetapi tiga oknum.” Inilah konsep ketuhanan yang membingungan.

Membicarakan “oknum” saja dalam agama Kristen sudah berbelit-belit, karena memang sulit dinalar oleh akal sehat. Sampai sekarang, masalah “oknum Allah” ini masih terus dibahas dan diperdebatkan hingga kini.

Akibat kebingungan ini, banyak tokoh-tokoh Kristen menyikapi dogma “trinitas” lewat ekspresi rasa ‘ketidakpuasan. St. Anselm, misalnya, harus menulis Cur Deus Homo, St. Augustine juga menulis de Trinitate dan memproklamirkan slogan: “Credo ut intellegam” (aku percaya supaya aku bisa mengerti). Senada dengan Augustine, Tertullian menyatakan: “Credo quia absurdum” (aku beriman justru karena doktrin tersebut tidak masuk akal). Ini sangat kontra dengan Islam, dimana “rasio” sangat berperan dalam mengenal dzat Allah. Apa yang bertentangan dengan akal sehat, berarti ada yang “eror” dan harus dikritisi.

Dalam Islam, Allah menciptakan makhluk-Nya agar mereka mengenal-Nya lewat nama-nama-Nya yang baik (al-asma’ al-husna), sifatnya yang transenden: yang memiliki sifat kesempurnaan dan suci dari segala kekurangan.

Ketika mereka sudah mengetahui Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya, mereka melakukan ibadah kepada-Nya, yang tidak berhak diberikan kepada selain-Nya dan tidak mendekati-Nya kecuali dengan ibadah tersebut. Mereka juga memuji Allah swt. sebagaimna mestinya, sesuai dengan kemuliaan dzat-Nya dan keagungan otoritas-Nya. Ini dengan detail dijelaskan oleh Allah swt.: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS: Al-Thalaq [65]: 12).

Kata agar kamu mengetahui merupakan dalil bahwa tujuan dari penciptaan alam ini, baik alam atas maupun bawah; adalah untuk mengetahui Allah swt. Lengkap dengan nama dan sifat-sifat-Nya; yang dalam ayat tersebut disebutkan sebagiannya, yakni: kekuasaan total (al-qudrah al-syamilah) dan ilmu yang meliputi segala sesuati (al-‘ilm al-muhith). (Lihat, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Fushûl fî al-‘Ibâdah bayna al-Salaf wa al-Khalaf, dalam serial Nahwa Wahdah Fikriyyah li al-‘Āmilîna li al-Islâm (6), (Cairo: Maktabah Wahbah, 2005: 14).

Dengan demikian, terdapat perbedaan yang sangat prinsipil dalam konsep “Allah” dalam Yahudi, Kristen dan Islam. Dapat dibuktikan di dalam Al-Quran dan ulama-ulama klasik, bahwa Islam lah satu-satunya agama semit yang konsisten dalam melestarikan konsep “Allah”. Konsep Allah yang ‘nasionalistik’ adalah tidak benar dan harus ditolak. Dan konsep “Allah” yang ‘membutuhkan’ perantara (mediator) adalah mencederai kekuasaan dan keagungann-Nya. Maka, Islam menutup konsep “Allah” yang Mahasempurna dan tiada banding itu dengan firman Allah swt: “Laysa kamitslihi syai’un” (Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, ) (Qs. Al-Syura [42]: 11). Wallahu a‘lamu bi al-shawab. []

*) Penulis alumnus Al-Azhar University (Cairo-Egypt) jurusan Tafsir & ‘Ulumu’l-Qur’an. Peminat Qur’anic & Hadith Studies dan Christology. Tulisan ini diambil dari Majalah Suara Hidayatullah edisi Mei 2007





Thursday, May 24, 2007

Figur Ulama sekaligus Umaro'


Majelis Mujahidin Wacanakan Pencalonan Baasyir Pada Pilpres 2


Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) mulai mempersiapkan calon Presiden 2009, dan menghendaki adanya calon independen yang bisa menjadi Presiden 2009. Karenanya MMI mengedepankan wacana pencalonan Amir Majelis Mujahidin Ustad Abu Bakar Baasyir untuk menjadi RI 1.

Hal tersebut dikatakan Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia Fauzan Al-Anshari kepada Eramuslim, di Jakarta (24/5).

"Harus ada calon independen yang betul-betul mau menegakkan Syariat Islam, MMI sudah memikirkan untuk memajukan calon independen yaitu Ustadz Abu Bakar Baasyir untuk menjadi pemimpin 2009, " tegasnya.

Fauzan sebelumnya telah menyampaikan rencananya ini dalam Diskusi Publik di Universitas Mpu Tantular, Rabu kemarin.

Menurutnya, 193 juta penduduk Indonesia adalah Muslim, tetapi ajaran Islam yang berkembang di Indonesia sudah tidak sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul, karena dicederai oleh penguasa yang menolak penerapan syariat Islam.

“75 persen pemeluk Islam di Indonesia mendukung penerapan Syariat Islam, sehingga kami yakin semua itu akan mendukung pencalonan Ustadz ABB, ” ujarnya.

Lebih lanjut Fauzan menegaskan, penguasa masa datang di negeri ini harus mampu menjaga kemurnian Islam, apabila Ustad Baasyir menjadi RI-1 maka beliau akan menjadi pemimpin yang pertama kali yang menegakan syariat Islam di Indonesia. (eramuslim)





Agenda Misterius RAPERDA INJIL


sumber : Risalah Mujahidin Edisi 8 Th I Rabiul Akhir 1428 H / Mei 2007

Eksperimentasi rancangan peraturan daerah (raperda) Kota Injil, yang dimunculkan pertama kali pada 7 Maret 2007 oleh DPRD Kabupaten Manokwari, provinsi irian Jaya Barat, bagai menebar virus bencana. Kalangan Kristen menuntut raperda tersebut segera disahkan. Dalam suatu demonstrasi, para demonstran Kristen itu menyulut api konflik SARA:

Manokwari sebagai Kota Injil, harga mati. Bagi yang menolak segera angkat kaki, keluar dari Manokwari.


KETIKA sejumlah propinsi/kota/kabupaten di Indonesia membuat peraturan daerah (local regulation) sebagiannya dituduh ‘berbau’ syari’ah sehingga dinilai akan memecah belah kesatuan bangsa. Dari Aceh, Padang, lampung, sebagian pulau Jawa, Madura, NTB, Sulawesi Selatan, sampai Halmahera, kesadaran konstitusi bersyari’ah makin menguat.

Tak ketinggalan juga, Pemerintah dan DPRD Kabupaten Manokwari, Provinsi Irian Jaya Barat, tengah memfinalisasi rancangan peraturan daerah (raperda) pembinaan mental dan spiritual berbasis Injil. Namun, Raperda yang dimunculkan kali pertama pada 7 Maret 2007 itu dinilai sejumlah kalangan berpotensi merugikan pengembangan agama lain di daerah tersebut.

imageMenurut Wakil Ketua DPRD Manokwari, Amos H May, bahwa julukan Manokwari sebagai ‘Kota injil’ itu baru sebatas wacana. Usulan raperda itu hanyalah pokok pikiran yang diusung unsur gereja dan sejumlah pakar. “bentuknya baru berupa pokok pikiran, bukan raperda karena tidak diusulkan eksekutif dan legislatif,” ujarnya. (Republika online 23/3/2007).

Namun, dia mengakui jika usul tersebut sudah masuk ke eksekutif, walau ada sejumlah pasal yang bertentangan dengan peraturan di atasnya, terutama terkait cara peribadatan. “Hal bertentangan ini perlu dikaji, sehingga jika diberlakukan tidak menimbulkan konflik SARA,” kata Amos.

Di antara isi pasal raperda aitu adalah melarang pemakaian busana Muslimah di tempat umum, melarang pembangunan masjid di tempat yang sudah ada gereja. Dibolehkan dibangun masjid atau mushalla, asalkan disetujui tiga kelompok masyarakat (terdiri atas 150 orang) dan pemerintah setempat terlebih dahulu.

Raperda juga melarang azan, tetapi membolehkan pemasangan simbol salib di seluruh gedung perkantoran dan tempat umum. Keruan saja draft perda semacam ini menimbulkan kritik tajam dari aktivis NU yang terilang sangat akrab dengan kalangan gereja. ‘kami khawatir, raperda ini memunculkan kekerasan,” kata Junaidi, warga Manokwari yang juga aktivis GP Ansor.

Kerusuhan yang memecah kerukunan umat beragama di Ambon dan Poso, bisa terjadi di Manokwari jika Pemda dan DPRD setempat bersikukuh mengesahkan raperda itu. Kondisi demografis di Manokwari mirip dengan Ambon dan Poso. Menurut Junaidi, selisih penduduk non-Muslim dan Muslim di Manokwari tidak terpaut jauh. Sedangkan komposisi anggota DPRD, dari 25 anggota dewan, empat di antaranya Muslim.

Dari perspektif hukum, kata mantan ketua YLBHI, Munarman, raperda itu rancu dan diskriminatif terhadap raperda antimaksiat yang pernah diusulkan di beberapa daerah, tapi ditentang oleh LSM sekular. Bahkan, raperda antimaksiat itu dicap sebagai bentuk radikalisme. Padahal, raperda itu tak pernah melarang penganut agama selain Islam pergi ke tempat ibadah, atau mengelar ibadahnya. Jadi akan seperti apakah ‘Kota Injil’ yang akan digelar di manokwari?

Kabarnya, pemimpin KWI dan PGI menolak raperda itu, sehingga mendorong Robert Mandagie, mengirim surat dan memberi dasar pertimbangan tentang Manokwari sebagai daerah potensial bagi pengembangan kota injil. Pertimbangan dimaksud, antara lain:
  1. Dekat explorasi Gas Tangguh, butuh banyak SDM.
  2. Penduduk Papua juga adat, mayoritas Protestan Katholik.
  3. Perkembangan Islam pesat di Papua sampai ke pedalaman.
  4. Rencana pembangunan Islamic Center, tindakan positif dari pimpinan Islam bagi kemajuan umatnya.
  5. Di Papua belum ada Chistian Center yang sangat dibutuhkan untuk pembentukan karakter terutama bagi masyarakat adat. Yesus di dalam Injil mengajarkan kebenaran, cinta kasih dan damai.
  6. Manokwari pintu masuk agama Kristen, telah banyak misionaris meninggal dunia dalam mengabarkan Injil.

Apa Itu Kota Injil
Sebagai kitab suci Kristen, Injil tidak memiliki doktrin pemerintahan, politik dan negara. Bahkan secara tegas, menarik garis demarkasi antara kekuatan dunia dengan agama. Kristen mempunyai semboyan, “berikanlah hak kaisar pada kaisar dan hak Tuhan pada Tuhan.”

Berbeda dengan Islam, yang memiliki misi rahmatan lil alamin. Yaitu, pelaksanaan Syaria’at Islam melalui kekuasaan negara, memiliki konsep yang jelas dan praktis. Tujuannya, agar Islam dapat secara optimal memperbaiki masyarakat, menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negara adil makmur dan mendapat ampunan allah).

Karena itu, munculnya gagasan Kristenisasi struktural, dengan mengklaim diri punya otoritas menjadikan Injil sebagai dasar perda untuk membangun Kota Injil di Manowari, jelas sebuah klaim penuh keboongan dan agenda misterius terhadap kesatuan bangsa Indonesia.

Bila raperda ‘Kota Injil’ Manowari diterima, merupakan bukti otentik, bahwa Injil tidak memiliki konsep bernegara, sehingga mengajak masyarakat modern kembali ke jaman batu. Mungkin saja raperda Manokwari sekadar iseng, tapi rancangan peraturan itu saja sudah mengindikasikan, bahwa di dalam otak para penggagasnya terbayang masyarakat rimba belantara, barbar dan tidak beradab, yang dapat memicu suasana penuh permusuhan.

Seperti agama Hindu di Bali, mereka mempraktekkan aturan yang bersumber dari ajaran Hindu. Setiap hari raya NYEPI tiba, semua fasilitas umum harus berhenti untuk menghormati hari itu. Sehingga amat merugikan komunitas lain, terutama umat Islam. Dilarang shalat Jum’at di Masjid bila kebetulan hari raya NYEPI jatuh pada hari Jum’at. Diskriminatif dan tidak memiliki kepekaan sosial sama sekali.

Umat Islam tidak boleh berdiam diri terhadap gerombolan yang akan merobek-robek Indonesia sebagai negara kesatuan yang telah diperjuangkan dengan darah dan harta oleh ulama Islam pada tahun 1945, dimana pihak Kristen tidak punya andil sedikit pun dlaam hal ini.

Dalam hal kemerdekaan Indonesia, pihak Kristen tidak punya andil apa-apa, selain menjegal aspirasi umat Islam, baik dalam Piagam Jakarta maupun perda Syari’ah belum lama ini. Adalah fakta sejarah, mereka justru datang ke Nusantara sebagai bangsa penjajah yang menindas umat Islam selama 300 tahun.

Kota Nabi SAW
Bandingkan dengan suasana Kota Nabi SAW (Madinaturrasul) yang penuh toleransi, bebas, dan merdeka bagi warganya di bawah payung konstitusi Madinah. Sedang raperda kota Injil yang digagas Kristen Manokwari, benar-benar suram.

Piagam Madinah menyebutkan: Sesungguhnya siapa saja yang mengikuti kami dari orang Yahudi maka baginya ada hak pertolongan dan keteladanan.

Rasulullah SAW juga bersabda: Siapa saja yang membunuh seorang mu’ahad, ia tidak akan mencium harumnya surga. (HR Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Ahmad).

Bahkan Rasul SAW pernah menghukum bunuh (meng-qishash) seorang Muslim karena telah membunuh seorang Yahudi yang berada dalam jaminan keamanan pemerintah Islam yang dipimpin Rasulullah SAW sendiri.

Teks perjanjian Rasul SAW dengan penduduk Najran juga berunyi: Gereja mereka tidak boleh dihancurkan, pastornya tidak boleh dikeluarkan (tidak diusir), dan mereka tidak dipaksa meninggalkan agama mereka selama mereka tidak membuat suatu perkara atau memakan riba.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Mereka (yakni ahlu dzimmah) membayar jizyah agar harta mereka seperti harta kita dan darah mereka seperti darah kita.

Umar bin al-Khaththab berwasiat, “Aku berwasiat kepada Khalifah sesudahku akan dzimmah Allah dan Rasulullah, hendaknya ia berperang membela dan melindungi ahl adz-dzimmah dan hendaknya mereka tidak dibebani di luar kemampuan mereka.

Islam juga melarang memaksa non-Muslim agar meninggalkan agamanya untuk masuk Islam (QS Al-Baqarah [2] : 256).

Rasul SAW pernah bersabda: Siapa saja yang tetap memeluk agama Yahudi atau Nasrani, maka mereka tidak boleh dipaksa untuk meninggalkannya.

Kaum Yahudi bebas menjalankan agama mereka sebagaimana umat Islam bebas menjalankan agama mereka.”

“Kaum Yahudi dan Banu Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka dan bagi kaum mukminin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi orang yang beruat kelaliman dan kejahatan, merusak diri dan keluarga mereka.”


Ahlu Adz-Dzimmah dan Mu’ahad diperlakukan sama dengan kaum Muslimin, seperti tidak dipungut cukai (pajak). Ziyad bin Hudair berkata, “Kami tidak memungut ‘usyr (cukai) dari Muslim atau mu’ahad.” Ia juga berkata, “Kami memungut cukai dari para pedagang kafir harb sebagaimana mereka memungut cukai dari kita jika kita mendatangi mereka.

Ringkasnya, ahl-adz-dzimmah memiliki hak dan kewajiban seperti kaum Muslim sesama warga negara. Mereka berhak atas keadilan dan pelayanan sebagaimana kaum Muslimin. Di dalam sistem pemerintahan Islam, mereka mendapat jaminan atas lima hak dasar (HAM) yang oleh Abu Ishaq Al-Syatibi (Al-Muwafaqat, 2001; I/7-8) disebut sebagai kewajiban (dlaruriyyat), bukan sebagai hak (huquq), yaitu harus dipenuhi oleh setiap individu dan masyarakat:
  1. Hak beragama dan menjalankan keyakinannya (hifdz ad-din).
  2. Hak perlindungan dan keamanan (hifdz al-nafs)
  3. Hak berfikir dan berpendapat (hifdz al-‘aql)
  4. Hak berumah tangga dan mempunyai keturunan (hifsz al-nasl)
  5. Hak memperoleh harta (hifdz al-mal)


Selain itu, juga berhak mendapatkan perlakuan:
  1. Hak pemeliharaan (haq ar-ri’ayah)
  2. Hak perlindungan (haq al-himayah)
  3. Hak jaminan kehidupan (haq dhamanah al-‘aisy)
  4. Hak muamalat yang setara (haq al-mu’amalah bi al-mitsli)
  5. Hak diperlakukan secara lemah lembut (haq ar-rifq wa al-layin)

Realitas Sejarah
Berbagai keuntungan hidup demikian hanya akan mereka dapatkan di dalam pemerintahan Islam. Untuk semua itu, mereka tidak dimintai apapun kecuali hanya tunduk pada hukum-hukum Islam dan membayar jizyah. Setelah itu, mereka boleh ikut berperang bersama kaum Muslimin untuk membela keamanan bersama dengan mendapat gaji yang setara.

Hak-hak kewarganegaraan ahl adz-dzimmah dalam sistem pemerintahan Islam sama dengan yang dimiliki kaum Muslimin. Seluruh manfaat dan pelayanan yang dinikmati kaum Muslimin sebagai konsekuensi kewarganegaraan itu juga dinikmati oleh ahl adz-dzimmah. Jika mereka melakukan kejahatan/kriminal, mereka wajib mendapat sanksi secara adil. Pada masa kekhilafahan Islam, minoritas non-Muslim telah hidup lebih dari seribu tahun. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengajukan suatu pengaduan. Tidak seorang pun yang berbicara negatif tentang persatuan kaum Muslimin atas dasar akidah. Mereka justru ikut serta bersama kaum Muslimin dalam memperkuat persatuan tersebut.

Oleh karena itu, mestinya minoritas non-Muslim sekarang ini mendukung kembalinya sistem pemerintahan Islam sebagaimana dahulu mereka lakukan, sehingga kembali menikmati semua kebaikan itu. Bukan justru menuntut perda yang diskriminatif dan a-historis. Penerapan Syari’at Islam di lembaga negara akan mewujudkan persatuan bangsa Indonesia, karena di dalamnya terjamin hak-hak kaum minoritas, sehingga terciptalah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dan rahmatan lil’alamin dinikmati oleh seluruh rakyat yang majemuk itu. Wallahu a’lam.






Monday, May 21, 2007

Rakyat Indonesia Menyukai PEMIMPIN JAHAT



Risalah Mujahidin Edisi 8 Th I Rabiul Akhir 1428 H / Mei 2007, hal. 11-16


SEBAGAI negara dan bangsa yang telah 62 tahun merdeka, rakyat dalam semua lapisan , kecuali di lingkungan pejabat dan penjahat negara terus menerus mengeluh dengan berbagai macam penderitaan, kemiskinan, kebodohan, penyakit, pengangguran, kriminalitas yang semakin bringas dan biadab membuat kita harus bertanya, mengapa semua ini menimpa negeri kita?


Siapa biang kerok yang menangung kesalahan fatal ini? Apa sebabnya begitu lama bangsa ini dirundung kemurungan dan kenistaan, padahal kita mengaku sebagai bangsa religius, beradab, berhati lembut, dan berjiwa santun? Menguap ke manakah sifat-sifat baik dari bangsa ini, sehingga kini hanya menyisakan moralitas tercela dan rendah? Apakah pengakuan bahwa bangsa ini religius, berhati lembut dan berjiwa santun sekadar lip service dan propaganda palsu, ataukah fakta sejarahnya memang demikian?

Agaknya kita harus berani mengkritik diri sendiri dan membongkar topeng-topeng palsu bangsa kita dengan menengok sejarah masa lalu kita. Dari situ kita memulai untuk bercermin diri, untuk mengetahui dengan yakin apakah kita ini bangsa yang bobrok atau bangsa yang baik?

Menyukai Pemimpin Jahat
Bahwa Indonesia adalah bangsa yang bobrok, rusak moral, dan kacau fikirannya, sudah banyak contohnya. Selama ini, belum pernah Indonesia dinilai positif oleh dunia internasional, dan belum pernah rakyatnya merasakan kebaikan para pemimpin negaranya.

Di zaman orde lama, selama 22 tahun dipimpin Soekarno, Indonesia dikenal sebagai bangsa tempe, melarat, kemiskinan merajalela. Selama 32 tahun dipimpin Soeharto, rezim orde baru dikenal sebagai negara pelanggar HAM parah, sementara warisan hutang luar negeri bejibun, dan menjadi beban rakyat Indonesia. Setelah Orla dan Orba berlalu, negeri kita belum juga naik peringkat, malah lebih terpuruk dari sebelumnya.

Sejak BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, hingga Susilo Bambang Yudhoyono yang terkenal dengan slogan “bersama kita bisa”, berturut-turut Indonesia menduduki posisi teratas dalam hal jeleknya. Sebagai negara terkorup se Asia, produsen ekstasi terbesar di dunia, paling akrab dengan bencana, paling miskin rakyatnya, paling banyak hutang luar negerinya. Selain itu, negeri kita juga dikenal sebagai negara teroris, maju dibidang pornografi dan pornoaksi, dan yang paling parah negara pengekor asing paling setia.

Kondisi Indonesia yang kian carut-marut hampir dalam segala kehidupan, membenarkan adagium (anggapan), bahwa munculnya pemimpin jahat datang dari masyarakat yang rusak. Dan kerusakan di masyarakat, disebabkan berkuasanya pemimpin jahat, koruptor, perusak moral, mmengejar hawa nafsu, bohong kepada masyarakat. Pemimpin jahat biasa memanipulasi kepentingan pribadi dan partainya menjadi kepentingan negara dan masyarakat.

Firman Allah: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada mutrafin (orang-orang yang hidup mewah di negeri itu) supaya mentaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS al-Isra’ : 16).

Kepemimpinan mutrafin artinya serakah cirinya ada tiga: Hedonis; Menuntut rakyat memenuhi kepentingannya tetapi dia tidak bisa memenuhi kebutuhan rakyatnya; Tidak peduli dan tidak berpihak kepada rakyat miskin dengan berbagai aturan yang dibuat. Semua kebijakannya hanya menguntungkan kepentingan hidupnya sendiri. Adanya pengaruh-pengaruh merusak dari tiga kelompok kekuatan di tengah masyarakat akan berdampak lahirnya pemimpin-pemimpin yang buruk manajemennya, rusak moralnya dan berhati serigala dalam menghadapi kelompok masyarakat yang lemah.

Contoh, import barang mewah, mobil mewah, mendirikan rumahsakit mewah, industrialisasi, eksploitasi hutan dan tambang, nasionalisasi kebutuhan pokok masyarakat yang tidak memihak kepada rakyat luas. Jalan raya yang dibutuhkan rakyat tidak diurus, keretaapi tidak diurus, namun ketika anggota DPR butuh laptop malah dibiayai oleh uang negara. Kasus Lumpur Lapindo terkatung-katung, hak-hak tanah masyarakat dikalahkan oleh kepentingan penguasa untuk airport, mall, pabrik dan sebagainya. Rakyat dihargai hak-haknya setelah melawan, seperti yang dilakukan Aceh (GAM dan NII Daud Beureuh).

Mengapa rakyat Indonesia menolak pemimpin yang baik? Karena mental rakyat Indonesia adalah mental aji mumpung. Menderita sekian lama dapat kesenangan sedikit sudah lupa, tidak tahu diuntung. Dalam praktik demokrasi, pemimpin terpilih menunjukkan kualitas rakyat.

Menolak Pemimpin Baik
Sebagai bangsa yang baik, agak sulit bagi kita untuk menemukan faktanya. Mencari pejabat yang jujur dan bertanggung jawab saja, betapa sulitnya. Saat-saat menghadapi ujian nasional tahun ini, masyarakat disuguhi kenyataan memalukan: ujian nasional diawasi aparat kepolisian, dan soal ujian sebelum dibagikan pada hari-H disimpan untuk diamankan di lemari polisi. Kejujuran telah menjadi barang mewah dan langka di negeri ini. Belum lagi, kasus pencucian uang haram, yang merebak dan seakan menjadi zona aman bagi penjahat, termasuk pedagang narkoba.

Dalam kasus IPDN, orang baik-baik seperti Inu Kencana misalnya, dibenci oleh almamaternya sendiri. Sementara para pembunuh, pejabat jahat, diberi naik pangkat. Untuk itu marilah kita lihat respon masyarakat kita terhadap kepemimpinan yang baik sepanjang Indonesia menjadi negeri merdeka. Dengan fakta-fakta sejarah ini, semoga negara dan bangsa ini tahu diri dan bercermin pada masa lalunya. Fakta-fakta sejarah justru bericara kepada kita bahwa masyarakat Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga hari ini menolak dipimpin orang-orang yang baik.

Dalam sejarah Indonesia merdeka, sebenarnya tidak sepi sama sekali dari pemimpin yang baik, memperhatikan kepentingan rakyat, dan membangun negara yang berdaulat penuh.



Mr. Assaat (18 September 1904 – 16 Juni 1976) adalah tokoh pejuang Indonesia, pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa pemerintahan RI di Yogyakarta yang merupakan bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Selama dua tahun kekuasaannya, Mr. Assaat membuat program pemerintahan yang relevan saat itu, dan mencerminkan pembelaan kepada rakyat kecil yang baru saja lepas dari penjajah Belanda. Di antara program pemerintahannya adalah: Bisnis asing (Cina) tidak boleh masuk di Kabupaten ke bawah, kecuali hanya boleh di tingkat propinsi saja. Hal ini berkaitan dengan jaringan bisnis Cina yang menjadi tulang punggung PKI kala itu. Namun kebijakan Assaat ini dijegal di Parlemen, sehingga masa pemerintahannya tidak bisa bertahan dan kemudian dijatuhkan.


Mohammad Natsir (Minangkabau, Sumatera Barat, 17 Juli 1908 – Jakarta, 6 Februari 1993) adalah pemimpin Masyumi dan salah seorang tokoh politik dan tokoh Islam di Indonesia. Pada 5 September 1950 hingga 26 April 1951 Natsir dipilih menjadi Perdana Menteri RI. Hanya dalam waktu tidak lebih 8 bulan saja bertugas memimpin negara, Natsir berhasil menyatukan Indonesia yang saat itu terbagi dalam negara-negara bagian, sehingga dia ditunjuk menjadi Perdana Menteri, kemudian mengambil langkah penyelesaian damai dengan para pejuang Aceh di bawah kepemimpinan Daud Beureueh. Tetapi langkah ini ditorpedo oleh Soekarno (PNI dan PKI) dan menimbulkan konflik berkepanjangan di Aceh yang membuat rakyat Aceh terlambat menikmati masa-masa kemerdekaan.


Kabinet Burhanuddin Harahap, bertugas pada periode 12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956. Kabinet ini demosioner paad 1 Maret 1956 seiring dengan diumumkannya hasil pemilihan umum pertama Indonesia. Tidak sampai dua tahun menjadi PM atas rekomendasi wakil presiden Moh. Hatta, dia berhasil menciptakan reputasi spektakuler dalam menyelesaikan problem bangsa. Program pemerintahannya: satu, menurunkan harga kebutuhan pokok; dua, melunasi hutang luar negeri; dan tiga, mengadakan pemilu pertama yang demokratis. Sayangnya setelah pemilu yang paling jurdil terselenggara justru Sekarno (PNI dan PKI) memprovokasi rakyat untuk menggembosi partai Masyumi, sehingga PNI dan PKI memperoleh suara lebih banyak dari Masyumi dan NU. Akhirnya mandat Burhanuddin sebagai PM tidak dapat dipertahankan. Ia digantikan, justru dari PKI, yang terkenal dengan Perdana Menteri Asu (Ali Surahman). Indonesia kian terpuruk, secara ekonomi dan politik. Konflik daerah kian berkecamuk.


Kabinet Djuanda, disebut juga Kabinet Karya, memerintah pada periode 9 April 1957 – 10 Juli 1959. PM Djuanda yang dalam programnya menanggulangi pemberontakan daerah dan membenahi penyalahgunaan birokrasi oleh PNI dan PKI, tetapi gagal karena dihadang oleh PNI dan PKI dengan dukungan Soekarno.


Di masa reformasi, sebenarnya kita optimis akan dipimpin orang baik. Baharuddin Jusuf Habibie adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Namun jabatannya tidak bertahan lama, digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih pada 20 Oktober 1999 oleh suara MPR dari hasil Pemilu 1999. Dengan 373 suara MPR, Gus Dur mengalahkan calon presiden Megawati Soekarnoputri yang memperoleh 313 suara.

Di antara keberhasilan Habibie yang menjabat presiden hanya setahun lebih tiga bulan, berhasil membuka kran hak rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kekuasaan politik, membebaskan tahanan-tahanan politik, mengendalikan moneter sehingga rupiah menguat dan menciptakan jaring pengaman sosial (JPS) serta menyelenggarakan pemilu ke-2 yang paling demokratis. Tetapi Habibie dijegal oleh PDIP dan kaum oportunis politik yang merasa mampu memimpin negara, tetapi realitanya hanya menciptakan kemiskinan dan kekacauan di tengah rakyat, akhirnya Habibie harus turun tahta walaupun dengan hati yang berat.


Di negeri ini terbukti kepemimpinan orang baik tidak pernah bertahan lama. Sekalipun nama-nama pemimpin yang kita sebutkan di atas bukanlah pemimpin ideal yang dikehendaki Islam, namun mereka muncul di tengah kegalauan politik yang menyengsarakan rakyat. Mereka orang-orang terbaik di antara yang paling jelek.

Sementara itu, orang-orang jahat, koruptor, bertahan hingga puluhan tahun. Soekarno berkuasa lebih dari 22 tahun, dan Soeharto yang korup berkuasa selama 32 tahun. Kenyataan demikian bisa disaksikan dalam pemilihan Pilkada yang sekarang berlangsung di berbagai daerah dan provinsi. Mulai dari Cawagub-cawagub, bupati dan calon bupati hingga terpilih, yang muncul hampir semuanya tidak terbebas dari pekat. Ada yang kedapatan mengisap sabu-sabu, berjudi, bahkan sedang berbuat mesum.

Dalam praktik demokrasi, pemimpin terpilih menunjukkan kondisi dan kualitas rakyat pemilih. Maka, benarlah sabda Rasululah SAW dalam sebuah hadits riwayat Al-Baihaqi dari Ibnu Shihab: “Sebagaimana keberadaan kamu, maka begitulah munculnya pemimpin-pemimpin di tengah-tengah kamu.”

Kepemimpinan Syar’i
Proses memperbaiki masyarakat, sekaligus dalam memperbaiki kepemimpinan dalam masyarakat diajarkan dalam Al-Qur’an. Mengangkat para Rasul atau nabi untuk menjadi pemimpin di tengah masyarakat, sebagaimana Allah sebutkan dalam QS As-Sajdah ayat 24 yang artinya: “Dan Kami angkat di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk dengan Syari’at Kami ketika mereka menerimanya dengan kesabaran dan mereka beriman kepada ayat-ayat Kami.”

Petunjuk Al-Qur’an di atas menjelaskan proses munculnya pemimpin yang baik di tengah masyarakat. Yaitu, bilamana masyarakat beriman kepada ayat-ayat Allah, kemudian bersabar serta konsisten menjalankan syari’at-Nya sebagai pedoman hidup, walaupun menghadapi tantangan hidup yang berat. Sebaliknya, bila masyarakat condong pada perbuatan maksiat, melecehkan agama Allah, mengumbar kebringasan hawa nafsu, dan menjadikan kaum perempuan sebagai komoditas seni, budaya, dan politik untuk memperdayakan masyarakat, maka tentulah memberi peluang besar munculnya para pemimpin yang bermoral rusak, berpikrian materialistis, bermental hedonis, dan berprilaku feodalis kolonialis.

Berkuasanya pemimpin demikian, pasti mengundang bencana bagi masyarakat di belahan bumi mana pun mereka berada. “Ketika para pemimpin kamu adalah orang-orang baik di antara kamu, dan orang kaya kamu adalah orang-orang dermawan di antara kamu dan urusan kamu diselesaikan secara musyawarah, maka berada di muka bumi lebih baik bagi kamu daripada di liang kubur. Tetapi bila pemimpin-pemimpin kamu orang yang jahat di antara kamu dan orang-orang kaya kamu adalah orang-orang yang bersifat kikir di kalangan kamu dan persoalan kamu tergantung penyelesaiannya kepada kaum perempuan kamu. Maka liang kubur lebih baik bagi kamu daripada tinggal di permukaan bumi.” (HR Turmudzi).

Hadits di atas menggambarkan, bahwa munculnya pemimpin jahat akibat adanya kerusakan di tengah masyarakat, terutama disebabkan kerusakan yang terjadi sebelumnya. Fakta semacam ini ratusan kali terjadi di belahan dunia sejak ribuan tahun yang lalu sebagaimana dapat kita baca dalam sejarah.

Dalam urusan pemimpin, Islam tidak main-main. Seorang dapat dipilih sebagai pemimpin negara, setidaknya memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

Orang yang paling mengerti Al-Qur’an dan Sunnah.

Paling baik akhlaknya di antara umat.

Mengerti kepentingan umat dan mampu menyelesaikannya.

Sabar menghadapi segala macam problema umat dan paling bijaksana untuk menetapkan kebijakan.

Mengerti karakter musuh-musuh umat sehingga dapat mempertahankan keutuhan umat.

Sederhana di dalam kehidupannya, sehingga tidak membebani rakyat dengan berbagai belanja negara yang bersifat pemborosan dan mewah.






Doktrin Perang Israel Dalam Talmud (2)


Dokter Ang Swee Chai pagi hari segera menuju Rumah Sakit Gaza yang terletak tidak jauh dari kamp pengungsian Sabra-Shatila. Sepanjang hari Beirut Barat dihujani bom yang dimuntahkan dari tank dan pesawat pembom.

“Pukul empat kurang lima belas menit di sore hari, zona pengeboman telah mendekati jarak tiga perempat kilometer dari rumah sakit, orang-orang yang berusaha meninggalkan kamp telah kembali dan mengatakan jika semua jalan yang mengarah ke kamp telah diblokir oleh tank-tank Israel, ” tulis Dokter Ang.

Tidak sampai sejam kemudian, tentara Israel menyerbu Rumah Sakit Akka dan menembak mati para perawat, dokter, dan seluruh pasien. Seluruh perempuan di rumah sakit tersebut diketahui diperkosa dahulu sebelum dibunuh. Orang-orang yang berada di sekitar rumah sakit berlarian ke sana kemari mencari tempat yang dianggapnya aman. Mereka berteriak-teriak bahwa tentara Israel mengejar mereka dengan tank.

Ketika malam tiba, suara dentuman meriam dan ledakan besar tidak lagi terdengar, hanya saja rentetan senapan mesin masih berlangsung sepanjang malam. Langit di atas kamp Sabra-Shatila terang benderang oleh peluru-peluru suar yang ditembakkan oleh tank dan helikopter.
Menjelang pagi, raungan pesawat tempur kembali terdengar disusul suara ledakan keras di sana-sini. Rentetan tembakan tidak pernah berhenti.

“Ini membuatku bertanya-tanya apakah di kamp itu masih ada pejuang-pejuang Palestina?” tanya Dokter Ang keheranan karena ia tahu betul bahwa tidak ada seorang pejuang Palestina pun yang masih ada di kamp.

Ketika hari mulai siang, Dokter Ang kedatangan banyak sekali perempuan-perempuan Palestina yang terluka tembak. Dari mereka Doker Ang mengetahui jika tentara Israel mengawal anggota-anggota milisi Kristen Phalangis untuk membantai orang-orang Palestina di kamp Sabra-Shatila.

Dalam bukunya, Dokter Ang yang menjadi salah satu saksi mata tragedi pembantaian kamp Sabra-Shatila menulis, “Tentara-tentara Israel dan sekutunya itu merangsek ke rumah-rumah dan gang-gang kecil sambil menembakkan senjata mereka dengan royal. Granat dan dinamit mereka lemparkan ke jendela-jendela rumah yang penuh berisi orang. Para perempuan banyak yang diperkosa sebelum dibunuh. Para bayi Palestina diremukkan tulang-tulang dan kepalanya sebelum dibunuh. Banyak anak-anak kecil dilempar ke dalam api yang menyala-nyala, yang lain tangan dan kakinya dipatahkan oleh popor senjata. Untuk pertama kalinya, aku menangis di sini. ”

Sejarah mencatat, pembantaian Sabra Shatila merupakan genosida paling berdarah. Hanya dalam waktu tiga hari, tidak kurang dari 3. 297 orang Palestina—kebanyakan para perempuan dan anak kecil, bahkan bayi-bayi—menemui ajal dengan cara yang amat mengerikan. Anehnya, PBB dan dunia internasional tidak mengecam tragedi besar ini. Media Barat pun banyak yang berupaya menutup-nutupi fakta yang terjadi.

Doktrin Rasisme Talmud

Yang jadi pertanyaan: Mengapa orang-orang Israel itu mampu melakukan kesadisan dan kebiadaban yang amat mengerikan terhadap orang Palestina yang sama sekali tidak berdaya apa-apa.
Jawabannya diberikan sejarawan Illan Pappe, seorang Yahudi yang menyandang julukan “Orang Israel yang paling dibenci di Israel”.

Pappe adalah salah satu sejarawan Yahudi yang memilih memihak pada hati nurani dan tanpa takut membongkar mitos-mitos Zionisme.
Saat ditanya, kenapa orang Israel bisa melakukan berbagai kekejaman terhadap orang Palestina, Pappe menjawab, “Ini buah dari sebuah proses panjang pengajaran paham, indoktronasi, yang dimulai sejak usia taman kanak-kanak, semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada, dan penuh kebencian: Orang itu memang penuh kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah dirampas tanahnya. ” (Baudoin Loos, “An Interview of Illan Pappe, ” 29 Nov 1999, http://msanews. Mynet.net/Scholars/Loos/pappe. Html).

Indoktrinasi terhadap anak-anak Israel berlanjut hingga ia besar. Ayat-ayat Talmud dijadikan satu-satunya “pedoman moral” bagi mereka. Yang paling utama adalah indoktrinasi bahwa hanya bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang yang lain adalah hewan.

Sejak Usia Dini

Penanaman doktrin rasisme yang terdapat dalam Talmud dilakukan para orangtua kaum Zionis kepada anak-anak mereka sejak dini. Survey yang diadakan oleh Ary Syerabi, mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat dia bergabung dengan London Institute for Economic Studies, sungguh mengguncang nalar kita.

Ketika itu Ary ingin mengetahui perasaan apa yang ada di dalam benak anak-anak Israel terhadap anak-anak Palestina sebaya mereka yang sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu Ary memberikan sehelai kertas dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata, “Tulislah surat buat anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan pada mereka. ”

Hasilnya sungguh mencengangkan. Anak-anak Israel yang menyangka suratnya benar-benar dikirim kepada anak-anak Palestina menulis surat mereka dengan sebenar-benarnya, keluar dari hati terdalam. Apa saja yang mereka tulis?

Salah satu surat ditulis oleh seorang anak perempuan Israel berusia 8 tahun. Ia mengaku menulis surat kepada anak perempuan Palestina seusianya. Isi suratnya antara lain:

“Sharon akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung… dan membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami, wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) dari mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian…ha…ha…”

Bocah Israel itu menggambar sosok Sharon dengan kedua tangannya menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.(!)

Ayat-Ayat Talmud

Di bawah ini adalah segelintir ayat-ayat Talmud yang dijadikan doktrin perang tentara Israel. Dalam peperangan, seorang tentara Israel wajib mendaras Talmud dalam kesempatan yang khusus. Terlebih di hari Sabbath (Sabtu).

- “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta menipu Ghoyim (non-Yahudi)” (Baba Kamma 113a)
- “Semua anak keturunan Ghoyim sama dengan binatang, ” (Yebamoth 98a)
- “Seorang Ghoyim yang berbaik pada Yahudi pun harus dibunuh, ” (Soferim 15, Kaidah 10)
- “Barangsiapa yang memukul dan menyakiti orang Israel, maka ia berarti telah menghinakan Tuhan, ” (Chullin, 19b)
- “Orang Yahudi adalah orang-orang yang shalih dan baik di mana pun mereka berada. Sekali pun mereka juga melakuan dosa, namun dosa itu tidak mengotori ketinggian kedudukan mereka, ” (Sanhedrin, 58b)
- “Hanya orang Yahudi satu-satunya manusia yang harus dihormati oleh siapa pun dan oleh apa pun di muka bumi ini. Segalanya harus tunduk dan menjadi pelayan setia, terutama binatang-binatang yang berwujud manusia, yakni Ghoyim, ” (Chagigah 15b)
- “Haram hukumnya berbuat baik kepada Ghoyim (Non-Yahudi), ” (Zhohar 25b)






20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (Bag.1)



Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 sesungguhnya amat tidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena organisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya merupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen).



Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para penguasa sekular. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.

Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan yang teramat nyata.

Anehnya, hal ini sama sekali tidak dikritisi oleh tokoh-tokoh Islam kita. Bahkan secara menyedihkan ada sejumlah tokoh Islam dan para Ustadz selebritis yang ikut-ikutan merayakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei di berbagai event. Mereka ini sebenarnya telah melakukan sesuatu tanpa memahami esensi di balik hal yang dilakukannya. Rasulullah SAW telah mewajibkan umatnya untuk bersikap: “Ilmu qabla amal” (Ilmu sebelum mengamalkan), yang berarti umat Islam wajib mengetahui duduk-perkara sesuatu hal secara benar sebelum mengerjakannya.

Bahkan Sayyid Quthb di dalam karyanya “Tafsir Baru Atas Realitas” (1996) menyatakan orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah sama dengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang ustadz bahkan profesor. Jangan sampai kita “Fa Innahu Minhum” (kita menjadi golongan mereka) terhadap kejahiliyahan.

Agar kita tidak terperosok berkali-kali ke dalam lubang yang sama, sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan seekor keledai sekali pun, ada baiknya kita memahami siapa sebenarnya Boedhi Oetomo itu.

Pendukung Penjajahan Belanda

Akhir Februari 2003, sebuah amplop besar pagi-pagi telah tergeletak di atas meja kerja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam kelahiran Maninjau tahun 1924. Di dalam amplop coklat itu, tersembul sebuah buku berjudul “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa” karya si pengirim. Di halaman pertama, KH. Firdaus AN menulis: “Hadiah kenang-kenangan untuk Ananda Rizki Ridyasmara dari Penulis, Semoga Bermanfaat!” Di bawah tanda tangan beliau tercantum tanggal 20. 2. 2003.

KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan ringan antara penulis dengan beliau, masih terbayang jelas seolah baru kemarin terjadinya. Selain topik pengkhianatan the founding-fathers bangsa ini yang berakibat dihilangkannya tujuh buah kata dalam Mukadimmah UUD 1945, topik diskusi lainnya yang sangat konsern beliau bahas adalah tentang Boedhi Oetomo.

“BO tidak memiliki andil sedikit pun unuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya, ” tegas KH. Firdaus AN.

BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.

Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, ” papar KH. Firdaus AN.

Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.

Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya... Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ”

Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938.

Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.

Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895.

Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.

Dalam tulisan kedua akan dibahas mengenai organisasi kebangsaan pertama di Indonesia, Syarikat Islam, yang telah berdiri tiga tahun sebelum BO, dan perbandinganya dengan BO, sehingga kita dengan akal yang jernih bisa menilai bahwa Hari Kebangkitan Nasional seharusnya mengacu pada kelahiran SI pada tanggal 16 Oktober 1905, sama sekali bukan 20 Mei 1908. (Bersambung/Rizki Ridyasmara/eramuslim)





Friday, May 11, 2007

Sebuah Kesaksian Kebiadaban Israel di Lebanon & Palestina







Ang Swee Chai: Saya Ingin Dunia Tahu Kekejaman Israel








SIAPAKAH ANG SWEE CHAI......?????? ANDA PERLU BACA LEBIH LANJUT

From Beirut to Jerusalem
Sebuah Kesaksian Kebiadaban Israel di Lebanon & Palestina


Kekejaman yang dilakukan Israel terhadap Libanon dan Palestina tidak akan pernah berhenti sebelum Israel menguasai kedua wilayah tersebut dan gencatan senjata yang disepakati tidak akan mampu bertahan lama itu, hal itu pernah terjadi diawal agresi pertama pada tahun 1982. Hal tersebut dikatakan oleh penulis buku 'Tears of Heaven From Beirut to Jerusalem' DR. Ang Swee Chai dalam peluncuran bukunya di MP Book Point, Kawasan Cipete, Jakarta, Selasa (22/8).

“Perdamaian itu tidak akan terwujud tanpa adanya keadilan dan rasa kemanusiaan,” ujar dokter bedah yang mengabdikan dirinya sejak Perang Israel-Libanon meletus tahun 1982.

Menurut Ang, dirinya menjadi saksi korban-korban pembantaian yang dilakukan oleh Israel terhadap wanita dan anak-anak. Kondisi itu telah mengubah pandangannya yang semula mendukung Israel dan menganggap orang-orang Arab sebagai teroris, kini ia mendukung upaya kemanusiaan untuk menyelamatkan korban-korban kekejaman Israel yang pada umumnya adalah bangsa Arab.

Keberpihakan Ang pada masyarakat Palestina dan Libanon dibuktikannya dengan bergabung dalam perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina dan dengan beberapa rekannya, Ang membentuk Medical Aid for Palestine yang memberikan bantuan medis kepada rakyat Palestina baik di wilayah pengungsian maupun di wilayah pendudukan Israel.

“Saya tidak bisa melupakannya, pembantaian itu telah menjadi bagian dari hidup saya, karena itu saya berkeliling untuk menuturkan pengalaman saya kepada orang-orang, saya ingin dunia mengetahui kekejaman yang dilakukan oleh Israel,” tandasnya.

Ia mengungkapkan, hampir setiap hari korban yang harus ditangani secara cepat tak henti-hentinya berdatangan, bahkan sampai larut malam terutama pada saat kondisi genting.

Ang mengaku dedikasinya terhadap Palestina tidak akan pernah berhenti, apalagi saat ini sudah lebih banyak lembaga kemanusiaan dari berbagai negara yang mendukung perdamaian di Palestina dan Libanon, untuk itu dirinya berusaha minimal setahun sekali mengunjungi Palestina dan Libanon.(novel/eramuslim)

--------------------------------------------------------------------------------


FROM BEIRUT TO JERUSALEM
SEBUAH KESAKSIAN TENTANG KEBIADABAN ISRAEL DI LEBANON DAN PALESTINA
Kamp pengungsi Sabra-Shatila. Aku sedang bertugas di kamp, baru tiba sebulan sebelumnya sebagai sukarelawan dokter bedah untuk merawat para korban selama serangan pasukan Israel di Lebanon.

Pembantaian anak-anak, wanita, orang tua dan orang-orang lemah tak bersenjata itu sungguh menyentakkanku. Aku merasa sangat gusar karena harus menemukan kebenaran tentang orang-orang yang berani dan murah hati, melalui kematian mereka. Hingga saat itu, aku tak pernah tahu bahwa para pengungsi Palestina itu ada. Sebagai seorang Kristen fundamentalis, dulu aku mendukung Israel, membenci orang-orang Arab, dan memandang PLO sebagai teroris yang harus dikutuk dan ditakuti.

Pengalamanku di Sabra-Shatila membuatku sadar bahwa orang Palestina juga manusia. Upaya pihak-pihak adikuasa yang berkonspirasi menjelek-jelekkan mereka, pupus sudah di mataku. Bagaimana mungkin mereka adalah orang jahat, jika mereka adalah korban ketidakadilan yang amat besar? Seperti orang-orang lain, aku harus menghadapi kenyataan pahit, aku harus bertobat; kebodohan dan prasangkaku telah membutakan mataku dari penderitaan bangsa Palestina.

Mereka yang selamat mendorongku untuk memberikan kesaksian di hadapan Komisi Penyelidikan Kahan bentukan pemerintah Israel. Dan, dalam perjalanan melintasi perbatasan Lebanon menuju Yerusalem, aku sadar sedang menempuh perjalanan yang diimpikan oleh para pengungsi Palestina. Tanpa disengaja, aku sedang melakukan ziarah ke tanah air mereka dan pulang ke rumah.

Lalu, pada masa Intifada yang pertama, aku bertugas di rumah sakit Al-Ahli di Gaza sebagai konsultan dokter bedah PBB dan telah merawat banyak dari mereka yang terluka. Bangunan rumah sakitku itu sering diserang dari udara oleh para tentara yang memburu para pemuda; bangsal-bangsal ibu-ibu hamil diserbu oleh tentara Israel yang bersenjata lengkap; suatu penghinaan terhadap ibu-ibu yang tengah melahirkan. Para pasien yang terbaring di meja-meja operasiku diancam. Seorang kru televisi BBC memfilmkan Kehidupan Di Bawah Pendudukan, menampilkan beberapa orang dari kami yang sedang bertugas di bawah kondisi-kondisi yang tak terperikan itu. Para juru rawat pria menghabiskan dua tahun di penjara menyusul perekaman film itu. Para tentara Israel itu membuat masa tugasku di Gaza menjadi tak tertahankan, dan perlu waktu bertahun-tahun sebelum aku dapat kembali.

(Dinukil dari buku Tears of Heaven: From Beirut to Jerusalem, karya Dr. Ang Swee Chai ,Mizan 2006.)

Siapakah Dr. Ang Swee Chai?

18 September 2002
Physician returns to Sabra and Shatila 20 years after bloody massacres
[Dokter Kembali ke Sabra dan Shatila, 20 Tahun Setelah Pembantaian Berdarah]
Reem Haddad

Liputan Khusus untuk The Daily Star
Untuk alasan yang bahkan ia sendiri tak dapat jelaskan, foto-foto rontgen itu masih tersimpan di flatnya di London. Kadang-kadang, ia mengeluarkannya dan melihat-lihatnya lagi. Salah satunya adalah foto rontgen anak 7 tahun yang ditembak 3 kali. Seluruh keluarganya dibunuh. Ia masih ingat nama anak itu: Mounir. Ada pula foto rontgen wanita korban pertama pembantaian yang datang meminta perawatan kepadanya pada hari di bulan September 1982 itu. Ia tertembak di sikunya. Sang dokter bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan wanita itu setelah ia meninggalkan rumah sakit hari itu. Ia menduga, besar kemungkinan wanita itu sudah lama mati.

Dan sekarang, 20 tahun kemudian, sang dokter kembali menyusuri gang-gang di kamp pengungsian Sabra and Shatila. Penduduk kamp mengenal wanita ahli bedah ortopedis oriental yang mungil itu sebagai dr. Swee. Dunia lebih mengenalnya sebagai dr. Ang Swee Chai, penulis From Beirut to Jerusalem, yang merupakan kesaksiannya tentang pembantaian Sabra-Shatila. Sang dokter ada di Beirut bulan yang lalu selama seminggu untuk membantu BBC membuat laporan peringatan pembantaian itu. Program dokumenter itu berdasarkan pengalamannya di kamp, dan banyak penduduk masih mengenalinya,­ dan ia pun masih mengenali mereka. Seorang pria setengah baya terkaget-kaget saat mendadak distop sang dokter. Ah, rupanya kamu, sapanya kepada pria yang kebingungan itu. Kamu dulu anak muda tukang bikin onar. Ekspresi kekagetan pria itu berubah menjadi kegembiraan karena mengenali wanita itu. Dr. Swee! katanya. Sang dokter tersenyum. Ia tidak pernah lupa pasien-pasiennya. Bagaimana saya bisa melupakan Sabra dan Shatila? katanya. Saya ada di sana saat peristiwa itu terjadi.

Ironisnya, Ang, yang berasal dari Singapura tetapi sekarang tinggal di Inggris, tumbuh dengan mendukung Israel. Ia diberi tahu bahwa orang-orang Arab adalah teroris. Namun pada 1982, media Inggris menyiarkan pemboman membabi-buta Beirut oleh pesawat-pesawat Israel. Terguncang, pandangannya terhadap Israel mulai berubah. Saat itulah ia mendengar seruan internasional yang meminta sukarelawan dokter bedah ortopedis (tulang) untuk merawat korban perang di Beirut. Wanita mungil ini—tingginya hanya kurang dari 1,5 meter berhenti dari pekerjaannya di London, berpamitan kepada suaminya, dan berangkat menuju kancah perang sipil di Beirut. Begitu tiba di negeri itu, Ang bergabung dengan Palestinian Red Crescent Society (Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina) dan ditugaskan di Rumah Sakit Gaza di kamp Sabra dan Shatila.

Kemudian, Ketua Palestinian Liberation Organization (PLO), Yasser Arafat, dan para pengikutnya harus dievakuasi dari negara itu. Sebuah gencatan senjata disepakati dan banyak penduduk kamp yang sebelumnya mengungsi, pulang ke kamp dan membangun kembali kehidupan mereka. Di mana-mana saya lihat anak kecil, wanita, dan orang tua memperbaiki rumah mereka, kenangnya. Ada atmosfer penuh harapan, karena mereka percaya setelah PLO pergi, Israel akan membiarkan warga Palestina hidup tenang. Saya juga mempercayainya. Atmosfer itu tidak bertahan lama. Tiga pekan kemudian, Presiden Lebanon yang baru saja terpilih, Bashir Gemayel, dibunuh.

Semua orang di kamp segera menjadi ketakutan, kata Ang. Mereka khawatir orang-orang Palestina akan disalahkan. Ketakutan mereka terbukti. Pagi hari berikutnya, 15 September, pesawat-pesawat Israel menyerbu kamp. Dari lantai atas RS Gaza, dr. Ang dapat melihat asap membubung dari berbagai tempat. Asap semakin lama semakin mendekat, katanya. Saat malam tiba, asap itu berjarak setengah kilometer di sekeliling kami. Saya dapat mendengar pemboman dari segala penjuru.

Kebanyakan pasien yang ia rawat pada hari itu terluka terkena pecahan bom. Namun, hari berikutnya, seorang wanita dibawa ke rumah sakit. Sikunya tertembak. Wanita itu keluar rumah untuk mengambil air untuk keluarganya, dan saat itulah ia ditembak. Wanita itu adalah korban pembantaian pertama dan foto rontgen wanita itu masih disimpan dr. Ang sampai sekarang. Sejak saat itu, terjadilah malapetaka, katanya.

Orang-orang yang dibawa ke rumah sakit tertembak di kepala, rahang, dada. Kebanyakan dari mereka sudah mati saat tiba di rumah sakit. Keadaan terus bertambah buruk. Para dokter berkutat dengan pasien-pasien di ruang-ruang operasi di basement, bekerja tanpa henti. Itu terus berlangsung sampai malam. Kamar mayat sudah tak mampu menampung jenazah korban.

Sampai saat itu pun, Ang dan tim dokter belum menyadari bahwa ada pembantaian sedang berlangsung. Saya hanya bertanya-tanya, Mengapa orang-orang ini berkeliaran di jalan-jalan? katanya. Saat itu, saya juga merawat bayi-bayi dan orang lanjut usia. Saya biasa membeli kopi dari orang-orang tua itu. Saya benar-benar tidak paham. Barulah kemudian ia diberi tahu bahwa milisi Kristen (saat itu sejumlah milisi Kristen adalah sekutu Israel) memasuki rumah-rumah dan membunuhi penghuninya. Sementara itu, rumah sakit kehabisan persediaan darah, makanan, dan obat-obatan. Hari berikutnya, orang-orang bersenjata memasuki rumah sakit dan memerintahkan semua orang yang memegang paspor luar negeri untuk meninggalkan tempat itu. Dipaksa meninggalkan tempat itu, para dokter digiring melalui kamp. Pemandangan saat itu masih terus menghantuinya sampai sekarang. Ada banyak orang dikumpulkan, pria, wanita, dan anak-anak yang memandang kami dengan mata penuh ketakutan, kenangnya. Mayat ada di mana-mana. Saya tersandung sesosok mayat. Dalam kengerian, ia lihat mata mayat itu telah dicungkil.

Buldoser-buldoser menghancurkan rumah-rumah rumah-rumah yang baru 3 hari yang lalu ia kunjungi untuk minum kopi bersama penghuninya. Seorang wanita berlari ke arah Ang dan menyerahkan bayinya. Milisi menodongkan senapan mereka. Wanita itu mengambil kembali bayinya. Setelah pembantaian, Ang menjelajahi kamp untuk mencari wanita dan bayinya itu. Ia tidak bisa menemukan mereka. Saya tahu mereka sudah dibunuh, katanya. Ang kemudian bersaksi di depan Komisi Kahan yang menyelidiki pembantaian itu. Komisi itu memutuskan bahwa Menteri Pertahanan Ariel Sharon (yang di kemudian hari menjadi Perdana Menteri) bertanggung jawab secara personal atas pembantaian itu dan dipaksa mundur dari jabatannya pada 1983.

Sang dokter pulang ke London, tetapi tidak bisa hidup tenang. Saya tidak bisa melupakannya, katanya. Pembantaian itu telah menjadi bagian dari hidup saya. Ia berkeliling untuk menuturkan pengalamannya kepada orang-orang. Saya ingin dunia mengetahui pembantaian itu, katanya. Saya butuh melakukannya. Saya bertanggung jawab melindungi pasien saya. tetapi saya tidak mampu. Sebagai dokter, saya telah gagal.

Pada 1984, Ang dan beberapa pekerja medis membentuk badan amal untuk membantu warga Palestina. Mereka menamakannya MAP, Medical Aid for Palestine. Mereka bertujuan membangun kembali rumah sakit-rumah sakit Palestina dan menyediakan suplai obat-obatan. Setelah dimulainya Intifada, Ang mengalihkan perhatiannya untuk membantu warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Dua tahun kemudian, ia menerbitkan bukunya, From Beirut to Jerusalem. Buku itu segera meraih sukses, ribuan kopi terjual. Setahun kemudian, terbit sebuah buku dengan judul yang sama, tetapi dari penulis lain. Buku itu menyebabkan calon pembaca bingung. Penjualan buku Ang pun menurun. Saya bisa saja menuntut, tetapi saya tidak ingin melakukannya, katanya. Lebih baik saya menggunakan uang dan tenaga saya untuk membantu para pengungsi. Mereka membutuhkan orang-orang yang memperjuangkan nasib mereka.


Sumber: The Daily Star
ENGLISH VERSION : http://berita.swaramuslim.net/galery/foto_AngSweeChai.htm
LIHAT SECARA LENGKAP DI : http://berita.swaramuslim.net/more.php?id=5281_0_12_91_M

Israel Laknatullah.......... Doktrin Perang Israel Dalam Talmud (Bag.1)



Doktrin Perang Israel Dalam Talmud (Bag.1)
sumber www.eramuslim.com



London, musim panas 1982. Malam demi malam siaran teve dihiasi dengan pemberitaan keadaan terkini tentang serangan Israel ke Lebanon. Lewat udara dan darat, tentara zionis itu membombardir wilayah-wilayah di Lebanon yang dituding sebagai tempat persembunyian pejuang-pejuang Palestina.


Salah seorang warga London yang setia menyimak perkembangan serangan Israel ke Lebanon itu adalah Ang Swee Chai, seorang perempuan, dokter ortopedis kelahiran Malaysia. Sebagai seorang tenaga medis, Dokter Ang begitu miris melihat banyaknya korban sipil yang jatuh akibat serangan itu yang terdiri dari anak-anak kecil dan perempuan tak berdosa.

Dalam bukunya yang menggetarkan “From Beirut to Jerusalem” (Kualalumpur, 2002), Dokter Ang menulis, “Lebanon dan Beirut adalah nama-nama asing bagiku. Sedangkan Israel sebaliknya. Gereja telah mengajarkanku bahwa anak-cucu bangsa Israel adalah anak-anak pilihan Tuhan. Teman-temanku sesama Kristiani mengatakan bahwa berkumpulnya orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia di Negeri Israel adalah pemenuhan janji Tuhan yang terdapat dalam pengabaran-pengabaran di Kitab Injil. ”

“Aku berpihak pada Israel untuk alasan lain, ” lanjutnya, “Di London, aku menghabiskan waktu berjam-jam menonton acara teve yang menyiarkan penderitaan luar biasa orang-orang Yahudi di tangan Nazi. …Penciptaan Negara Israel, yang memberi semua orang Yahudi sebuah rumah yang membuat mereka terbebas dari penganiayaan dan siksaan, menurutku adalah suatu tindak keadilan—bahkan suatu keadilan dari Tuhan. ”

Namun pandangan dokter Ang berbalik seratus delapanpuluh derajat ketika lewat layar kaca dirinya menyaksikan kebrutalan yang dilakukan tentara Israel terhadap para pengungsi Palestina di Lebanon.

“Ini benar-benar membuatku marah. Aku tidak bisa memahami mengapa Israel melakukan hal demikian. …Dalam Kitab Perjanjian Lama, raksasa Goliath adalah termasuk orang Filistin penakluk yang meneror lawan-lawannya. Kisah David dan Goliath menjadi salah satu kisah kesukaanku. Pada anak-anak kecil aku suka sekali bercerita bagaimana si kecil David bisa mengalahkan si raksasa Goliath, ” tulis Dokter Ang yang sosok tubuhnya sendiri sangat mungil, tingginya hanya 150 sentimeter.

“Meski demikian, dari ulasan teve yang selalu kulihat, tampaknya Israel telah berubah menjadi Goliath; seorang raksasa yang angkuh yang membawa kehancuran, teror, dan kematian kepada saudaranya, Lebanon. …Mengebom orang-orang sipil, dan banyak dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, adalah cara pengecut dalam perang. Apakah Tuhan telah berpaling dari Lebanon?”

Dokter Ang kemudian menulis betapa sedih dirinya menyaksikan kebiadaban yang dipertontonkan ‘bangsa terpilih’ tersebut. “Pertama karena mereka telah disakiti oleh Israel, kedua karena aku seorang Kristen, dan ketiga aku adalah dokter. Aku sama sekali tak habis pikir betapa Israel tega menjatuhkan bom-bom fosfor ke tengah penduduk sipil di dalam kota yang sangat padat tersebut. ”

Tidak Sekadar Membunuh

Penderitaan bangsa Palestina dan Lebanon membuat Dokter Ang berangkat ke Beirut sebagai dokter sukarelawan. Di hari-hari pertama di Lebanon, Dokter Ang telah menjumpai banyak fakta bahwa di wilayah ini Israel telah melakukan semacam uji coba berbagai macam bom-bom terbaru buatan mereka.

Beberapa bom mutakhir Israel tersebut antara lain: Implosion bomb atau vacuum bomb yang dijatuhkan dari udara dan ketika meledak mampu menghisap satu blok bangunan sepuluh lantai ke dalam tanah hanya dalam beberapa detik, membuatnya menjadi tumpukan beton dan mengubur seluruh penghuninya hidup-hidup.

Selain itu ada lagi fragmentation bomb atau cluster bomb, yang juga dijatuhkan dari pesawat tempur. Beberapa puluh meter di atas udara, cluster bomb yang awalnya terlihat hanya satu akan memecah diri menjadi ratusan bola-bola besi kecil seukuran bola tenis dan menyebar dalam radius ratusan meter persegi. Bom-bom kecil ini tidak segera meledak dan tergeletak di dalam tanah. Jika seorang anak kecil mengutak-atiknya karena dikiranya sebuah mainan, maka bom ini akan meledak dan membunuh atau merusak bagian tubuh di anak tersebut. Bom ini biasanya sengaja dijatuhkan di lokasi padat penduduk.

Lalu ada fosfor bomb yang bersifat membakar. “Zat fosfornya menempel di kulit, paru-paru, dan usus para korban selama bertahun-tahun, terus membakar dan menghanguskan serta menyebabkan nyeri berkepanjangan. Para korban bom ini akan mengeluarkan gas fosfor hingga nafas terakhir, ” ujar Doker Ang.

Dalam bukunya, dokter yang bersuamikan seorang warga Inggris ini mengatakan bahwa Israel jelas tidak ingin sekadar membunuh musuh-musuhnya namun juga ingin membuat musuh-musuhnya menderita berkepanjangan sebelum menemui ajal.

Pembantaian Sabra-Shatila

Sabra-Shatila adalah nama dua buah kamp pengungsian Palestina di wilayah Beirut Barat yang letaknya berhimpitan. Selain Sabra-Shatila, ada pula kamp pengungsi Mar Elias, Bour el-Brajneh, dan sebagainya.

Seperti layaknya kamp-kamp pengungsian Palestina lainnya, kamp pengungsian Sabra-Shatila yang luasnya tidak begitu besar dihuni oleh ribuan warga Palestina. Mereka tinggal di dalam kamar-kamar sempit dan kumuh di mana fasilitas sanitasi dan kesehatan sangat tidak layak.

Beberapa pekan bertugas di Beirut, untuk menghentikan serangan membabi-buta yang dilakukan Israel, para pejuang Palestina akhirnya dievakuasi keluar dari Beirut diangkut dengan kapal-kapal laut di bawah kawalan Perancis dan Italia. PBB Mengirim sejumlah pasukan penjaga perdamaian. Sebab itu, Israel kemudian menghentikan serangannya, setidaknya untuk sementara waktu. Ini terjadi beberapa saat mendekati September 1982.

Di Beirut, orang-orang keluar dari tempat perlindungan dan membersihkan semua puing-puing dan jalanan. Harapan hidup kembali bersinar di mata-mata mereka. Bukan itu saja, sesuai permintaan PBB, para ibu-ibu Palestina juga menyerahkan semua senjata api yang tadinya disimpan di dalam rumah sebagai alat penjagaan diri kepada lembaga internasional.

“Harapan akan perdamaian terlihat di mata mereka. Para ibu-ibu Palestina menyerahkan semua senjata yang mereka miliki. Mereka mulai membersihkan jalan dan puing-puing rumahnya. Anak-anak kecil mulai bisa berlarian, bermain di jalan-jalan yang masih terlihat kotor oleh puing-puing yang disingkirkan ke pinggirnya. Mereka sangat yakin bahwa kehidupan akan pulih seperti sedia kala, ” ujar Dokter Ang.

Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Setelah jalan-jalan bersih dari tumpukan karung-karung berisi pasir, bersih dari beton-beton dan batu-batu yang tadinya sengaja dipasang sebagai barikade, setelah keluarga-keluarga Palestina di kamp pengungsian tidak lagi memiliki senjata, maka suatu malam, 14 September 1982, sebuah ledakan besar terdengar di seantero Lebanon. Calon Presiden Lebanon dari kalangan Kristen, Bashir Gemayel terbunuh.

Esok paginya, saat hari masih gelap, udara Lebanon dipenuhi gelegar raungan pesawat-pesawat tempur Israel. Burung-burung besi itu secara royal menjatuhkan bom-bom yang kembali melantakkan Beirut.

Bumi tempat Dokter Ang Swee Chai berpijak dirasakan bergetar oleh deru ratusan tank Merkava milik Israel yang berkonvoi masuk Beirut dan mengepung kamp pengungsian Sabra-Shatila. Tank-tank ini diikuti oleh tentara infanteri Israel dan sekutu mereka, Milisi Phalangis, yang terdiri dari orang-orang Kristen Lebanon bersenjata yang memang dekat dengan kaum Yahudi.

Kamp-kamp pengungsian yang waktu itu hanya dihuni oleh kaum wanita, jompo, dan anak-anak kecil serta bayi, karena para pejuang Palestina yang terdiri dari laki-laki muda telah pergi, kembali senyap. Mereka kembali masuk kembali ke rumah-rumahnya yang telah hancur dan mengunci diri di dalamnya. Kepungan yang dilakukan tank-tank dan tentara Israel sangat rapat sehingga seekor kucing pun tak akan bisa meloloskan diri.(Bersambung)

Tuesday, May 8, 2007

Kuasai dan Amankan!


Saat masih sekolah di SMP hingga kuliah dulu, saya masih ingat doktrin wawasan nusantara. Lucunya, saya saat itu tak paham implementasi dasar pemahaman atas wawasan nusantara tersebut. Lucunya lagi, saya mulai paham ketika berusaha memahami soal sisi politik energy Indonesia saat geger perang Afghanistan!


Indonesia adalah negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Dan sesuai konsep wawasan nusantara, Indonesia terletak secara strategis di antara dua benua.

Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim ternyata memiliki potensi pertambangan yang sangat luar biasa; di antaranya pada sektor migas. Walau memiliki potensi yang luar biasa untuk kepentingan dalam negeri Indonesia, penguasaan sektor migas ternyata tidak dikuasai oleh bangsa Indonesia sendiri.

Liberalisasi sektor migas telah terjadi di Indonesia. Kekayaan alam kita disedot habis oleh negara maju, dan kita diberi imbalan seonggok uang atas hasil penjualan migas kita; atas nama kontrak bagi hasil. Di sisi lain, migas kita lari ke negara-negara maju demi kestabilan roda gerak ekonomi industri mereka. Kita? Cuman melongo aja!

Liberalisasi migas terjadi di Indonesia berkat operasi intelijen yang dijalankan oleh negara-negara maju. Pengajuan pembuatan rancangan undang-undang migas didanai oleh lembaga asing. Ketua Komisi VII DPR RI saat itu yang menyetujui rancangan undang-undang migas, sayangnya berasal dari partai politik yang berasaskan Islam. Tujuan lembaga asing saat itu cuman satu: penguasaan secara tanpa sadar sumber daya alam Indonesia. Beruntung kita tak sadar. Jika kita sadar dikooptasi dan kita melawan, kemungkinan besar Indonesia akan diserang AS dan sekutunya, seperti layaknya Iraq dan penggulingan Soekarno. Yang jelas, negara kita telah kehilangan kontrol atas dampak investasi asing yang masuk di sektor migas

Kuasai dan Amankan!
Pasal 33 UUD 1945 (asli)
1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.
2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.
3. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pasal-pasal tersebut merupakan dasar geopolitik dan geostrategis bangsa Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim. Sektor migas harus dianggap layaknya kebutuhan bahan pokok. Sektor migas merupakan sektor strategis kehidupan rakyat. Sektor strategis harus dikuasai negara.

Liberalisasi yang tak terkontrol di sektor migas, dan menghilangkan peran negara, mengakibatkan hilangnya kekayaan alam yang seharusnya digunakan atau dimanfaatkan rakyat di Indonesia. Bukan malah cuman dapat duitnya semata.

Penguasaan negara atas sektor minyak bukan berarti menolak investasi swasta nasional ataupun asing. Tapi, berapa jauh negara mengatur dan menerima porsi raw material dan uang royalti yang menguntungkan bagi bangsa, dan digunakan untuk bangsa sendiri. Kunci dari perubahan menuju ke arah itu terletak pada revisi undang-undang yang mengatur sektor migas dan revisi kontrak migas.

Energi adalah penggerak perekonomian. Wajar jika negara-negara maju sangat rakus untuk mengamankan pasokan energi dalam negerinya. Kapankah kita mempunyai kesadaran seperti itu? Jangan menjadi negara yang memalukan, apalagi negara ini mayoritas adalah muslim. Jika suatu saat nanti dikuasai kembali oleh negara, satu hal yang tak boleh terlupakan: penindakan korupsi yang menggerogoti ekonomi kita sejak
Jadi, intinya, persoalan di dunia saat ini adalah penguasaan sektor energi untuk keamanan roda ekonomi negara di dunia. Intinya, persoalan saat ini bukanlah masalah agama. Bukan pula soal Islam. Bukan soal teroris (terorisme kerjaan intelijen pro asing!). Tapi, soal energi! Bukan soal duit dari jualan sumber energi, tapi soal barang mentah dari sumber energinya!!

Tuesday, May 1, 2007

Pemerintah Gagal Tangani Buruh

Hari buruh atau May Day diperingati hari ini,........ jalanan di jakarta macet, yang beruntung adalah sodara2 PKL yang sering diusir trantib di Monas. Istilah jawane' mremo,.... ya lumayan lah sekali2 buruh berbagi rejeki dengan PKL........


Jakarta hari ini, Setiap kali memperingati Hari Buruh Internasional (May Day), ribuan buruh selalu turun ke jalan untuk berdemonstrasi. Ini menjadi bukti kegagalan pemerintah dalam menangani masalah perburuhan di Indonesia.

Agar buruh tidak kembali turun ke jalan, setidaknya ada 3 hal yang harus diatasi pemerintah agar kaum pekerja ini mendapatkan kenyamanan.

Tiga hal itu adalah peningkatan kesejahteraan buruh dengan menaikkan upah minimum, menyelesaikan persoalan buruh yang di-PHK yang belum mendapatkan pesangon, dan penghapusan sistem outsourcing.

Ini adalah bukti belum ada perbaikan terhadap nasib buruh oleh pemerintahan SBY. Pemerintah harus lebih serius menangani buruh, pemerintah sebagai pemegang kebijakan harus memperhatikan nasib buruh. Karena pembiaran terhadap buruh adalah bentuk terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Masih banyak buruh yang di-PHK belum mendapat gaji dan pesangon. Penolakan buruh outsourcing juga tidak ada tindak lanjut. Masih banyak pabrik yang menggunakan buruh kontrak. Pemerintah harus tegas terhadap yang begini ini.

Terkait dengan revisi UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, yang ternyata masih banyaknya kelemahan dalam UU tersebut yang merugikan buruh. Karena itu, harus ada upaya perbaikan terhadap UU tersebut yang lebih berpihak kepada peningkatan kesejahteraan nasib buruh.

Penolakan buruh terhadap revisi tahun lalu karena draf revisinya lebih membunuh nasib buruh. Kalau revisinya untuk peningkatan kesejahteraan, mungkin para buruh akan terima revisi undang2 tersebut.

Hanya karena pemerintah ditekan oleh AS dan sekutunya yang sedang menjajah Indonesia dengan model VOC Millenium,..........

kenapa rakyat ngga sadar juga,........... padahal dalam Islam telah diatur tentang sistem pengupahan kepada buruh, yaitu tercantum dalam QS Al- An'aam : 141 "Dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya."

dalam firman Allah swt yang lain juga disebutkan :
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah, tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ( Al-Baqoroh 282 )

Sungguh Alquran, adalah kitab sempurna yang di wariskan kepada kita umat muslimin,........

kenapa pemimpin kita tidak mau menerapkan syariat Islam,......?????????

Apakah pemimpin kita mau menjadi orang2 jahilliyah,..........??????

Apakah kita dipimpin oleh orang2 fasiq,...........????????

Astaghfirullahaladziim,.......... aku mohon ampun kepada Allah swt.

Jangan Pernah Putus Asa

Jangan Pernah Putus Asa

Allah swt. berfirman dalam surat Yusuf : 87.
"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."


Seorang muslim yang benar adalah seorang yang mampu menanggung musibah-musibah yang dialaminya dengan teguh dan sabar dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan memberikan hikmah yang terbaik untuknya. Seorang yang beriman, tentu mengetahui bahwa takdir Allah swt akan menjadi kebaikan baginya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Pahala dari sabar adalah surga. Anak, Isteri/Suami dan harta benda yang kita miliki bisa merupakan ujian dari Allah SWT dan jika suatu saat Allah berkehendak menguji atau bahkan mengambilnya kembali, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali bersabar dan tidak lantas berputus asa.
Allah SWT telah berfiman ”Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ”Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan secara sempurna dan rahmat dari tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ” (Al-Baqarah: 155-157).

Rasulullah SAW juga telah memperingatkan kita agar tidak berputus asa, karena dengan berputus asa, seseorang justru akan menyiksa diri sendiri. Lihatlah kasus orangtua yang membunuh anaknya karena mereka miskin, itu adalah salah satu contoh orang yang berputus asa dari rahmat Allah. Seandainya mereka mau berusaha, Insya Allah, Allah akan membukakan pintu rezekinya untuk mereka. Namun jika mereka hanya berputus asa bahkan sampai membunuh anaknya, saya yakin justru mereka akan menderita, selain mendapat dosa, batin mereka akan tersiksa......... padahal kalo mereka mau menyimak makna dari firman Allah pada
surat Yusuf : 86 yang artinya : "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya."
hanya kepada Allah swt. kita berserah diri dan jiwa kita yang selalu berada dalam kekuasaan-NYA.jangan pernah berputus asa, atas apa yang telah ditakdirkan Allah swt,......... karena putus asa adalah perbuatan orang2 kafir........... makanya berhati-hatilah sodaraku..........
mungkin menurut kita tidak baik, tapi menurut Allah swt, menyimpan hikmah yang tidak kita ketahui.........dan yang menurut kita baik, bisa jadi suatu hal yang dimurkai oleh Allah swt......Maha benar Allah swt dengan segala firmannya.........