Thursday, October 18, 2007

“Islam dan Masa Depan Indonesia: Meneropong Sebuah Pergumulan Peradaban”

Umat Islam harus bekerja keras membangun generasi baru yang berkualitas seperti ’Salahuddin al-Ayyubi’. Baca Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke 210

Oleh: Adian Husaini

Pada 4 Oktober 2007, saya diminta CIDES (Center for Information and Development Studies) untuk menjadi pemakalah dalam sebuah diskusi bertema “Islam dan Masa Depan Indonesia: Meneropong Sebuah Pergumulan Peradaban”. Acara dibuka oleh Mensesneg Hatta Rajasa. Ceramah pembukaan oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin. Pemakalah lain adalah Dr. Yudi Latif, mantan Wakil Rektor Universitas Paramadina.

Menurut Din Syamsuddin, meskipun umat Islam merupakan mayoritas penduduk Indonesia, tetapi masih belum memberikan peran yang signifikan terhadap perjalanan bangsa Indonesia. Ini berbeda dengan masa-masa pra-kemerdekaan, ketika umat Islam menjadi faktor penentu dalam perlawanan melawan penjajah. Bahkan, Din Syamsuddin mengingatkan jika tidak melakukan upaya-upaya yang serius, umat Islam – dan bahkan bangsa Indonesia – bisa menjadi tamu di negeri sendiri. Din juga menyorot satu kelemahan gerakan reformasi yang tidak memiliki cetak biru dalam pembentukan Indonesia masa depan.

Meskipun bukan merupakan pernyataan yang baru, tetapi kata-kata Din Syamsuddin tersebut memang perlu kita renungkan. Setelah hampir 10 tahun berlalu, banyak yang bertanya: apa sebenarnya hasil reformasi yang dapat dinikmati oleh masyarakat? Yang jelas jawabnya: “kebebasan!” Semua orang kini bebas bicara, baik bicara yang baik maupun yang buruk. Majalah Playboy bisa terbit leluasa di negeri ini. Pornografi pun semakin marak. Paham-paham dan pemikiran-pemikiran yang melecehkan Islam, semakin leluasa beredar di kampus dan media massa.

Acara-acara menjelang Sahur di bulan Ramadhan pun banyak diwarnai dengan hal-hal yang justru bertentangan dengan kesucian bulan Ramadhan. Banyak pelawak tampil vulgar bahkan secara terang-terangan melecehkan sabda Rasulullah saw, agar laki-laki jangan berpenampilan wanita dan sebaliknya. Meskipun MUI sudah mengingatkan itu semua, tetapi ”biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.” Media massa itu sepertinya tahu benar, bahwa dalam era kebebasan ini, merekalah yang berkuasa. Bukan masyarakat dan bukan MUI.

Dalam kesempatan itu, saya menyampaikan sebuah makalah tentang Islam dan Indonesia masa depan. Disamping perlu memikirkan hal-hal jangka dekat dan menengah, umat Islam di Indonesia perlu merumuskan dan melakukan satu perjuangan yang berdimensi jauh ke depan. Terutama untuk menyiapkan generasi baru yang mampu mengibarkan risalah Islam di negeri ini dan juga di forum internasional. Itu semua sangat tergantung pada umat Islam Indonesia itu sendiri.

Belum lama ini buku Hakadza Zhahara Jīlu Shalahuddin wa Hakadza ’Ādat al-Quds karya Dr. Majid Irsan al-Kilani diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Secara bebas, judul buku itu berarti “Demikianlah bangkitnya generasi Shalahuddin dan demikianlah al-Quds kembali ke tangan Islam.” Buku ini menarik, terutama dari sudut pandang kebangkitan sebuah peradaban. Penerjemah buku ini, yang merupakan alumni Universitas Islam Madinah, menceritakan, bahwa dosen pembimbing mereka, Dr. Ghazi bin Ghazi al-Muthairi, adalah yang mengenalkan dan meminta mereka membaca buku ini.

Buku ini sebenarnya bercerita tentang kebangkitan sebuah peradaban, yakni bagaimana kaum Muslim mampu bangkit dari keterpurukan selama sekitar 50 tahun dalam masa Perang Salib. Titik balik Perang Salib terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di bawah komandan Imam al-Din Zanki, ayah Nur al-Din Zanki. Dua tahun sesudah itu, Zanki wafat, tahun 1146. Ia telah meratakan jalan buat anaknya, Nur al-Din, untuk memimpin perjuangan melawan Pasukan Salib. Pada 544/1149, Nur al-Din meraih kemenangan melawan pasukan Salib dan pada 549/1154 ia sukses menyatukan Suriah di bawah kekuasaan Muslim. Nur al-Din digambarkan sebagai sosok yang sangat religius, pahlawan jihad, dan model penguasa sunni.

Setelah meninggalnya Nur al-Din pada 569/1174, Shalahuddin al-Ayyubi, keponakan Nur al-Din, memegang kendali kepemimpinan Muslim dalam melawan pasukan Salib. Ia kemudian dikenal sebagai pahlawan Islam yang berhasil membebaskan Jerusalem pada tahun 1187.

Sejarah memang biasanya bercerita tentang kepahlawanan dan kepemimpinan para penglima perang dan penguasa. Sejarah Islam yang diajarkan di sekolah-sekolah pun banyak bercerita tentang sejarah kekuasaan Islam, mulai Rasulullah saw sampai runtuhnya kekuasaan Islam di Turki Utsmani. Ini akhirnya menimbulkan persepsi di banyak kalangan, bahwa memperjuangkan Islam harus dimulai dengan merebut dan menduduki kursi kekuasaan, tanpa melihat proses yang panjang dalam melahirkan sebuah kekuasaan yang tangguh.

Pada sisi lain, banyak yang menfokuskan diri hanya kepada faktor-fektor eksternal dalam Perang Salib, seperti kekejaman pasukan Salib dalam membantai umat Islam, sehingga kurang melihat secara mendalam faktor-faktor internal yang justru menjadi penyebab utama kekalahan umat Islam.

Sebagai contoh, dalam melihat sejarah Islam di Indonesia, selain perlu menyimak keberhasilan pendirian Kerajaan Demak, perlu juga ditelaah secara mendalam, proses panjang dakwah Islam yang akhirnya memungkinkan berdirinya Kerajaan Demak tersebut. Para juru dakwah adalah para wali atau ulama yang bekerja keras dalam mengubah kondisi masyarakat Indonesia, meskipun rakyat ketika itu dipimpin oleh penguasa non-Muslim. Pada akhirnya, rakyat di wilayah itu sendiri yang melahirkan pemimpin-pemimpin muslim, sehingga berdirilah berbagai kerajaan Islam di wilayah ini.

Maulana Malik Ibrahim, misalnya, diperkirakan tiba di Jawa tahun 1399 M. Kerajaan Islam pertama di Jawa (Demak) baru berdiri tahun 1478 M. Raja Demak pertama, Raden Patah, adalah santri dari Sunan Ampel, yang tak lain adalah putra dari Maulana Malik Irahim. Adalah sangat mungkin bahwa sebelum Maulana Malik Ibrahim, sudah ada pendakwah-pendakwah Islam yang menapakkan kakinya di Tanah Jawa. Hanya saja mereka tidak meninggalkan catatan sejarah. Sebab, diperkirakan Islam sudah bertapak di Tanah Jawa.

Dalam seminar tentang Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, 17-20 Maret 1963, di Medan, Hamka mengungkapkan bukti dari buku Preaching of Islam karya Sir Thomas Aranold, bahwa pada tahun 674 M telah dijumpai orang Arab Islam di Jawa. Dan tahun 684 telah ada perkampungan Arab Islam di Pesisir Barat Sumatra. (Lihat, Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, (Bandung: al-Maarif, 1981; juga Risalah Seminar Sejarah Masuknja Islam ke Indonesia, (Medan: Panitia Seminar Sedjarah Masuknja Islam ke Indonesia, 1963).

Kajian yang mendalam seperti ini sangat diperlukan agar tidak muncul kekeliruan persepsi di kalangan sebagian aktivis Islam bahwa aktivitas merebut kekuasaan adalah merupakan jalan pintas menegakkan Islam, tanpa mau mengkaji secara mendalam kondisi masyarakat dan umat Islam itu sendiri. Dalam hal ini, karya Dr. Al-Kilani bisa dikaji dengan serius.

Tahun 1095 Perang Salib dimulai. Tahun 1099, Jerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Meskipun memiliki negara dan pemimpin (khalifah), umat Islam berada dalam kondisi yang sangat terpuruk. Sekitar 88 tahun kemudian tampillah pahlawan Islam terkenal, Shalahuddin al-Ayyubi, yang berhasil membebaskan kembali al-Aqsha dari kekuasaan pasukan Salib, pada tahun 1187. Buku ini memaparkan data-data, bahwa Shalahudin bukanlah pemain tunggal yang ”turun dari langit”. Tetapi, dia adalah produk sebuah generasi baru yang telah dipersiapkan oleh para ulama yang hebat. Dua ulama besar yang disebut berjasa besar dalam menyiapkan generasi baru itu adalah Imam al-Ghazali dan Abdul Qadir al-Jilani.

Menurut Dr. Majid Irsan al-Kilani, dalam melakukan upaya perubahan umat yang mendasar, al-Ghazali lebih menfokuskan pada upaya mengatasi masalah kondisi umat yang layak menerima kekalahan. Di sinilah, al-Ghazali mencoba mencari faktor dasar kelemahan umat dan berusaha mengatasinya, ketimbang menuding-nuding musuh. Menurut al-Ghazali, masalah yang paling besar adalah rusaknya pemikiran dan diri kaum Muslim yang berkaitan dengan aqidah dan kemasyarakatan. Al-Ghazali tidak menolak perubahan pada aspek politik dan militer. Terdapat catatan sejarah, bahwa al-Ghazali juga terus berupaya melakukan kontak-kotak politik dengan penguasa yang baik. Tapi, yang dia lebih tekankan adalah perubahan yang lebih mendasar, yaitu perubahan pemikiran, akhlak, dan perubahan diri manusia itu sendiri. Untuk itu, al-Ghazali melakukan perubahan dimulai dari dirinya sendiri dahulu, kemudian baru mengubah orang lain. Kata penulis buku ini:

”Al-Ghazali lebih menfokuskan usahanya untuk membersihkan masyarakat muslim dari berbagai penyakit yang menggerogotinya dari dalam dan pentingnya mempersiapkan kaum Muslim agar mampu mengemban risalah Islam kembali sehingga dakwah Islam merambah seluruh pelosok bumi dan pilar-pilar iman dan kedamaian dapat tegak dengan kokoh.”

Dalam bukunya, al-Kilani mengutip Ibn Katsir dalam Bidayah wal-Nihayah, yang menggambarkan parahnya kondisi umat Islam saat itu. Umat dicekam penyakit ashabiyah (fanatisme mazhab) yang parah, kerusakan pemikiran, dan gaya hidup mewah pada kalangan elite. Gubernur Abu Nashr Ahmad bin Marwan, seorang gubernur ketika itu, mengucurkan anggaran 200.000 dinar dalam setiap acara hiburan yang digelarnya. Tahun 516 Hijriah, saat Menteri Sultan al-Mahmud terbunuh, bertepatan dengan saat istrinya keluar dari rumah dengan diiringi 100 pelayan dan kendaraan-kendaraan terbuat dari emas. Padahal, pada saat yang sama, banyak rakyat yang menderita kelaparan. Ketika pasukan Salib membantai puluhan ribu kaum Muslim, sebagian ulama berusaha menggelorakan semangat jihad kaum Muslim, tetapi gagal. Ada cerita yang menyebutkan, sebagian pengungsi membawa tumpukan tulang manusia, rambut wanita, dan anak-anak, korban kekejaman pasukan Salib, kepada khalifah dan para sultan. Ironisnya, Khalifah justru berkata: ”Biarkan aku sibuk dengan urusan yang lebih penting. Merpatiku, si Balqa’, sudah tiga hari menghilang dan aku belum melihatnya.”

Dari hasil kajiannya terhadap gerakan kebangkitan umat di era Perang Salib, Dr. al-Kilani menyimpulkan, bahwa yang pertama kali harus dilakukan adalah perubahan dalam diri manusia itu sendiri. ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi yang ada pada satu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS ar-Ra’d:11).

Nabi saw juga menyatakan: ”Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh. Namun, jika ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, itu adalah qalb.” (HR Muslim). Era kejayaan dan kekuatan sepanjang sejarah Islam tercipta ketika terjadi kombinasi dua unsur, yaitu unsur keikhlasan dalam niat dan kemauan serta unsur ketepatan dalam pemikiran dan perbuatan.

Bahkan, menurut al-Ghazali dan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, perubahan itu harus dimulai dari ulama dan juru dakwah itu sendiri. Karena itu, sebagaimana al-Ghazali, Abdul Qadir al-Jilani juga sangat keras sikapnya terhadap ulama-ulama jahat. Ia menasehati jurid-muridnya: ”Wahai anak-anakku! Jangan terpedaya dengan ulama-ulama yang tidak mengenal Allah itu. Semua ilmu yang mereka miliki justru menghancurkan diri mereka sendiri dan tidak membawa berkah. Mereka itu mengerti hukum-hukum Allah namun tidak mengenal Allah Azza wa-Jalla.” Disamping dikenal sebagai seorang ulama sufi yang zuhud, Abdul Qadir al-Jilani adalah pakar fiqih mazhab Hanbali. Dia juga aktif berdakwah kepada non-Muslim, sehingga dikabarkan ada lebih dari 5.000 orang non-Muslim yang masuk Islam melalui dirinya.

Jika strategi ini direfleksikan dalam perjuangan umat Islam Indonesia, maka sudah saatnya umat Islam Indonesia melakukan introspeksi terhadap kondisi pemikiran dan moralitas internal mereka, terutama para elite dan lembaga-lembaga perjuangannya. Sikap kritis terhadap pemikiran-pemikiran asing yang merusak tetap perlu dilakukan, sebagaimana juga dilakukan oleh al-Ghazali. Tetapi, introspeksi dan koreksi internal jauh lebih penting dilakukan, sehingga ’kondisi layak terbelakang dan kalah’ (al-qabiliyyah lit-takhalluf wa al-hazimah) bisa dihilangkan, dan akhirnya umat akan meraih kejayaan dengan izin Allah.

Jadi, tugas umat Islam bukan hanya menunggu datangnya pemimpin yang akan mengangkat mereka dari keterpurukan. Umat Islam dituntut untuk bekerja keras dalam upaya membangun satu generasi baru yang akan melahirkan pemimpin-pemimpin berkualitas ’Salahuddin al-Ayyubi’. [Depok, 23 Ramadhan 1427 H/5 Oktober 2007/www.hidayatullah.com]

No comments: