Thursday, September 13, 2007

Tarawih di Masjid Agung Jawa Tengah


WALAU berkali-kali mengikuti tarawih ala Masjidil Haram, selalu saja tarawih di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) menerbitkan kesan mendalam. Ada semacam perasaan sejuk, ''nyess'', seperti kepala disiram dingin air kendi. Tak heran, saban tahun dilakukan, tarawih bernuansa Masjidil Haram itu tetap saja diminati jamaah.

Lihat saja, pelaksanaan tarawih hari pertama di MAJT Jl Gajahraya, Semarang, semalam. Dalam hitungan kasar, sekitar 3.000-an orang mengikuti shalat malam bulan Ramadan di masjid itu.

Ruang masjid utama yang mampu menampung 4.000 orang nyaris penuh. Sisi depan dan kanan diperuntukkan jamaah pria, sedangkan jamaah perempuan diposisikan di sisi kiri ruang tersebut.

Sekitar 100-an orang juga menjadi makmum di mezanin, lantai tambahan di ruang masjid utama. Barangkali mereka shalat di situ supaya lebih khusyuk.

Sejumlah jamaah, agaknya sengaja memilih shalat tarawih di plaza MAJT, di bawah payung elektrik. Kalau saja payung itu dikembangkan, boleh jadi nuansa Madinah yang akan muncul. Sebab, payung elektrik itu boleh dibilang ''replika'' peneduh serupa yang terpasang di pelataran Masjid Nabawi, Madinah.

''Shalat di plaza sini terasa lebih adem. Apalagi, anginnya semribit, sejuk. Membuat hati terasa damai,'' aku Husain, salah seorang jamaah dari Kendal, seusai shalat tarawih.

''Hampir setiap tahun saya menyempatkan tarawih di sini. Paling tidak, sehari dua hari untuk merasakan tarawih ala Masjidil Haram,'' imbuh dia, yang datang berombongan dengan kawan-kawannya.

Memang, jamaah shalat tarawih di MAJT tidak cuma berasal dari Semarang. Hal itu bisa ditilik dari ratusan mobil dan motor milik jamaah, yang memenuhi ruang parkir di basemen dan sebagian lagi di halaman samping dan depan. Sejumlah kendaraan dengan pelat nomor luar kota terlihat di sesela mobil dan sepeda motor berpelat nomor Semarang.

Satu Juz

Dari pelataran itu, suara KH Zainuri Ahmad Alhafidz yang semalam menjadi imam, terdengar sayup-sayup. Tapi suara dari peranti sound system yang terpasang di sejumlah sudut itu cukup untuk mengumandangkan Surah Al Baqarah secara jelas. Hafidz asal Salatiga itu dengan cengkok ala imam besar Masjidil Haram.

Tarawih ala Makkah memang merupakan daya tarik MAJT saban Ramadan. Bagi jamaah yang sudah pernah berhaji atau umrah, hal itu bisa menjadi obat rindu pada suasana di tempat kelahiran Islam. Sementara, bagi mereka yang belum menunaikan rukun Islam kelima, tarawih semacam itu bisa menjadi sarana ''icip-icip'' atmosfer ibadah di Tanah Suci.

Ya, ya, seperti juga tarawih-tarawih tahun sebelumnya, setiap malam imam yang memimpin shalat mengkhatamkan satu juz. Dengan cara itu, ketika tarawih terakhir nanti, akan khatam genap 30 juz Alquran.

Hal itu sangat mungkin dilakukan, mengingat tiga imam besar MAJT, yang memimpin tarawih secara bergantian merupakan hafidz atau penghapal Alquran bereputasi internasional.

Selain KH Zainuri yang bertugas semalam, dua imam lainnya adalah KH Ulil Abshor Alhafiz dari Jepara dan KH Ahmad Thoha Alhafiz dari Pekalongan. Ketiganya boleh dibilang pelatih tetap Kafilah Jateng untuk cabang tahfiz, pada Musabaqah Tilawatil Quran atau Seleksi Tilawatil Quran (MTQ/STQ). ''Tarawih kali ini terhitung lumayan cepat, baru pukul 21:00 sudah selesai,'' ujar Sekretaris Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Jateng Drs H Ahyani, yang semalam bertindak sebagai muazin.

Yang jelas, suasana tarawih di MAJT amat dekat dengan atmosfer kekhusyukan. Dengan tiupan angin di pelataran dan sayup suara imam bercengkok Masjidil Haram. Walhasil, dua jam untuk shalat 23 rakaat itu pun tak terasa melelahkan.




No comments: