Thursday, September 13, 2007

Pengendalian diri dalam Puasa

Pengendalian diri, itulah sesungguhnya inti yang diajarkan oleh ibadah puasa. Semua kemaslahatan dalam hidup niscaya akan diperoleh dengan pengendalian diri, pengekangan keinginan-keinginan yang berpotensi menabrak tatanan nilai-nilai, penjungkirbalikan etika, atau penafian moral. Gema tuntunan untuk menjadi "orang bertakwa" - muttaqin - hakikatnya adalah orientasi maslahat untuk semua, karena takwalah yang mendasari keberimbangan hidup, dalam level vertikal sekaligus horisontal, pencapaian kaffah antara kemampuan merajut hablun-minallah, dengan rajutan sosial hablun-minannas.

Datangnya puasa Ramadan umumnya disambut dengan kesadaran semangat kontemplatif. Seperti iktikad bertapa mencari pencerahan hidup, karena ada kesadaran selama sekian bulan sebelum ini melewati hari-hari untuk survive. Ketika harus berkompetisi di tengah pergulatan sosial-ekonomi, pasti akan selalu muncul kelalaian-kelalaian, sehingga mungkin kita keluar dari ambang toleransi persaingan. Apakah kita telah menabrak rambu-rambu keindahan silaturahmi, apakah telah sengaja maupun tidak sengaja menginjak hak-hak orang lain, atau apakah kita menjadi seperti robot yang bergerak tanpa terisi baterei kemanusiaan.

Di tengah arus kompetisi survivalitas itulah manusia cenderung sering kehilangan kendali diri. Spiritnya lebih ke kompetisi. Isian berdiri di batas minimalis dan maksimalis akan terabaikan. Kita lupa begitu banyak orang lain yang merasakan penderitaan kekurangan pangan, rawan gizi, terpinggirkan, menghadapi hidup penuh ketidakpastian untuk memenuhi (sekadar) kebutuhan-kebutuhan dasar. Sementara kita terus menumpuk yang kita bisa menumpuknya, merancang pendapatan sejauh kita bisa meraihnya, mengotak-atik anggaran kesejahteraan karena kita punya kekuasaan, mengakses apa pun yang terkait dengan kekuasaan itu.

Puasa tahun 1428 Hijriah kali ini juga mengetengahkan berbagai potret tentang kesenjangan yang masih dan terus membentang. Antara gemuruh kinclong kehidupan dengan para mustadh'afin yang hidup dengan segala ketidakpastian masa depan. Sikap kendali diri, seperti yang diajarkan oleh ibadah puasa, mestinya dielaborasi ke arah upaya-upaya pengentasan nasib mereka, sebagai tanggung jawab bersama. Yakni kita yang merasa memiliki kekuasaan, harta, dan akses untuk berpihak kepada orang-orang terpinggirkan itu. Tanggung jawab yang mestinya tidak hanya terketuk saat kita memasuki bulan Ramadan!

Nabi Muhammad mengajarkan keberpihakan total kepada orang miskin dan mustadh'afin. Lewat ajaran puasa, dapat ditangkap konteks jelas, karena kita pun akan dihadapkan pada perasaan yang sama ketika menghayati bagaimana ketidakberdayaan saat lapar datang tak tertanggungkan, dahaga tak tertahankan, serta tidak mampu mengakses keinginan apa pun dengan kekuatan yang terbatas. Sikap berpihak seperti itu mestinya memancar sebagai produk Ramadan, dengan mengalirkannya ke nadi kehidupan kita selama bulan-bulan pascapuasa, tidak sekadar berlalu dengan berakhirnya bulan suci itu.

Memperkuat kendali diri menjadi kunci menuju kemaslahatan. Manusia muttaqin bukanlah sekadar mereka yang tangguh dalam spiritualitas individual, melainkan yang melengkapinya dengan pancaran spiritualitas sosial. Jadi pemaknaan produk puasa ini pun sesungguhnya bukan sekadar membentuk manusia sebagai individu dengan mentalitas Ramadan, tetapi bagaimana individu itu memerankan fungsi sosialnya. Jika sebuah masyarakat terisi pribadi-pribadi berwatak penuh kendali diri, kita bisa berharap tentang kemaslahatan dan kedamaian yang merupakan penjabaran Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.





No comments: