Wednesday, July 25, 2007

Menyusuri Jejak Ash-Shiddiq



Jika tak ada halangan, bulan Oktober nanti kita akan punya astronot Melayu pertama. Namanya Sheikh Muszaphar Shukor. Dokter spesialis bedah tulang di Rumah Sakit Universiti Kebangsaan Malaysia ini akan menembus Stratosfir dengan pesawat Soyuz TMA-11 milik Rusia, sebagai bagian dari kesepakatan kedua negara dalam transaksi jet tempur senilai satu miliar dolar.

Namun begitu, Shukor bukan Muslim pertama yang menembus langit. Faktanya, sejak tahun 1985 sudah delapan orang Muslim yang menjadi astronot maupun kosmonot.

Pangeran Sultan ibn Salman ibn Abdul Aziz Al-Saud dari Arab Saudi (1985). Pilot Kolonel Muhammad Faris dari Angkatan Udara Suriah (Juli 1987). Kolonel Musa Manarov asal Azerbaijan di Angkatan Udara Uni Soviet (Desember 1987 sampai Desember 1988). Abdul Ahad Mohmand asal Afghanistan (1988). Tokhtar Aubakirov dari Kazakhstan (1991). Talgat Musabayev juga asal Kazakhstan (1994). Pilot jet tempur Russia asal Uzbekistan, Salizhan Sharipov (2004). Anousheh Ansari, perempuan Iran warganegara Amerika (September 2006).

Sedangkan antariksawan Muslim pertama yang sesungguhnya sudah kita kenal dengan baik, Muhammad ibn Abdullah Salallaahu ‘alaihi wa sallam. Jalur misi ruang angkasanya pasti tak bisa ditandingi misi manapun sampai akhir zaman.

Perjalanan Malam beliau menempuh tiga etape: pertama, perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem; kedua, perjalanan ruang angkasa menembus tujuh lapis langit sampai ke Sidratul Muntaha; terakhir, perjalanan pulang ke kota Makkah sebelum subuh.

Konon kabarnya, perjalanan Isra’ Mi’raj (tahun 621 Masehi) itu telah mengilhami banyak kajian ilmiah mengenai ruang angkasa selama berabad-abad.

Meskipun begitu, catatan terpenting dari Isra’ Mi’raj bukanlah penemuan-penemuan ilmiah masa kini yang sedikit demi sedikit menjelaskan ‘kebenaran’ peristiwa itu.

Catatan terpentingnya adalah, bagaimana seorang Muslim meyakini secara sempurna dan menerima kebenaran peristiwa itu sebagai fakta. Keyakinan itu utuh mengalir di sekujur syaraf dan pembuluh darah seorang Muslim, dengan ataupun tanpa adanya penjelasan ‘ilmiah’.

Model terbaiknya adalah keyakinan pria bernama Abdullah ibn Abu Quhafah alias Abu Bakr, semoga Allah ridha kepadanya.

Fajar baru saja menyingsing ketika Sang Nabi menyampaikan laporan perjalanannya itu kepada para pemimpin Musyrikin Qurays. Begitu mendengar penyampaian Nabi itu, tokoh nomor satu mereka Umar ibn Hisyam alias Abu Jahl menyeringai gembira. Ia merasa memperoleh satu lagi alasan guna menunjukkan kepada publik betapa ‘gilanya’ Muhammad yang mengaku sebagai utusan Tuhan.

Dengan semangat itulah Abu Jahl segera menyebarluaskan ‘ocehan’ Muhammad itu kepada publik, terutama kepada Abu Bakr. Pria ini adalah pengusaha dan tokoh yang disegani karena akhlaq dan kejujurannya. Posisinya sedang dipojokkan terus karena kesetiaannya kepada Muhammad dan ajarannya. Abu Jahl berharap, setelah mendengarkan “cerita gila” tentang Perjalanan Malam itu, goyah lah loyalitas Abu Bakr.

Memang terbukti, beberapa orang Makkah yang tadinya bersimpati kepada Sang Nabi menjadi ragu dan surut. Namun reaksi Abu Bakr sungguh di luar dugaan. Seakan-akan tanpa berpikir lagi, pria yang kelak menjadi khalifah pertama sesudah kematian Sang Nabi itu, memberikan respon mantap seorang sahabat sejati, “Jika memang benar Muhammad mengatakan demikian, maka dia telah berkata benar, dan sungguh aku akan membenarkannya jika ia mengatakan yang lebih dari itu.”

Sejak itu gelar Ash-Shiddiq (yang benar, jujur, dan membenarkan) tersemat di jantung hatinya, berkilau-kilau di sepanjang koridor sejarah sampai hari ini, sampai akhir dunia, jika Allah menghendaki.

Keyakinan Abu Bakr yang murni dan solid itu setidaknya telah membenarkan enam hal fundamental, yang apabila salah satu saja kita ragukan maka berpotensi cacat lah keimanan kita sebagai seorang Muslim.

Pertama, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa Allah Maha Berkuasa atas setiap milimeter ruang bumi dan langit yang nyaris tak berbatas itu. Dia Maha Berkuasa juga atas seluruh makhluk dan benda di dalamnya. Enteng saja bagi Allah memindah-mindahkan makhluknya menembus jutaan tahun cahaya.

Kedua, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa Jibril ‘alaihissalam adalah Malaikat utusan Allah dengan kemampuan luar biasa sehingga mampu menjalankan tugas besar pada malam itu, mendampingi Muhammad menembus dimensi ruang dan waktu.

Ketiga, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa Muhammad ibn Abdullah Salallaahu ‘alaihi wa sallam, adalah lelaki yang sangat diistimewakan dan secara khusus diutus Allah untuk tugas menyeru seluruh manusia dari semua ras, negeri dan zaman.

Bagi Abu Bakr, setiap patah kalimat serta tindakan Muhammad adalah benar. Bahkan bila ada yang keliru, lantas diluruskan Allah pun, diyakini Abu Bakr sebagai proses yang benar.

Sebagai bagian dari keyakinan sempurna itu, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa malam itu Muhammad melakukan suatu perjalanan yang hampir tak mampu difahami akal manusia.

Keempat, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa telah mendahului Muhammad ratusan nabi dan rasul. Mereka semua sudah melaksanakan tugas dari Allah menyeru ummat demi ummat manusia, di zaman yang lampau, supaya hidup di dunia dengan menyembah dan mentaati Allah saja.

Malam itu di Masjidil Aqsa, dengan pengaturan canggih Allah Ta’ala, Nabi Muhammad bertemu muka dengan para nabi dan rasul dari berbagai zaman dan negeri, bahkan mengimami mereka shalat berjama’ah. Beliau juga dipertemukan dengan rasul-rasul utama di lapisan-lapisan petala langit.

Kelima, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa Neraka dan Syurga merupakan fakta. Bahwa kehidupan Akhirat yang kekal sesudah kehidupan dunia yang sebentar ini adalah fakta. Bahwa adegan-adegan yang disaksikan oleh Muhammad yang terjadi di Neraka dan Syurga pada malam itu adalah fakta. Bahwa balasan yang kelak akan diterima manusia di Akhirat adalah fakta, sesuai persis seadil-adilnya dengan sikap manusia kepada Allah dan cara hidupnya kepada syariat Allah selama di dunia.

Keenam, Abu Bakr meyakini dan membenarkan, bahwa shalat telah di-fardhu-kan langsung oleh Allah Ta’ala kepada manusia lewat Sang Nabi. Sebelum itu, Sang Nabi melaksanakan shalat dua kali sehari, pagi dan petang, sebagaimana yang disyariatkan sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Shalat lima waktu adalah rahmat Allah untuk manusia, yang disampaikan dengan cara yang istimewa. Mereka yang bersegera memenuhi panggilan shalat dan menjaganya, berarti bersegera menyongsong rahmat Allah. Sebaliknya, mereka yang mengabaikannya berarti menampik rahmat Allah.

Keenam keyakinan tersebut adalah paket keimanan Abu Bakr Ash-Shiddiq terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj, dan seyogianya juga menjadi paket keimanan kita yang sempurna dan tak berbelah bagi.

Sedikit saja kita membiarkan bisikan lembut di hati kita yang menolak atau mengingkari sebagian dari paket keimanan itu, cacatlah syahadat kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Nah, jikalau urusan utuhnya keyakinan ini sudah kita sempurnakan, boleh lah sekarang kita nikmati lezatnya berbagai temuan ‘ilmiah’ mutakhir manusia di bidang teknologi ruang angkasa.

“Dialah (Allah)

yang mengajari manusia

apa-apa yang tidak diketahuinya...”

(terjemahan kalimat Allah dalam surah Al-‘Alaq [96] ayat 5)

Shadaqallaahul ‘Azhiim wa shadaqa Rasuulul Kariim.

Benarlah Allah Yang Maha Agung, benarlah Rasul-Nya yang mulia.





No comments: