Friday, July 20, 2007

Menengok Jalur Gaza Sesudah Dikuasai Hamas


Tanah seluas 365 kilometer, yang dikenal Jalur Gaza itu kacau balau. Penculikan, pembakaran hingga pembunuhan sejumlah ulama. Bagaimana kiprah Hamas?

Hidayatullah.com--Harakah Muqawwamah Islaminyah atau Hamas, mulanya muncul sebagai kelompok sosial pada tahun 1978. Sejarah pertumbuhan Hamas tak terlepas peran almarhum Syekh Ahmad Yassin yang mendirikan organisasi sosial dan dakwah di daerah pendudukan Jalur Gaza dan Tepi Barat pada tahun 1973. Hamas makin populer ketika aksi intifadah meruyak melawan tentara Zionis Israel.

Bagaimanapun, intifadhah sebagai bukti bahwa perlawanan adalah solusi terbaik. Bahkan ia menjadi momok paling menakutkan Zionis-Yahudi. Seolah tak kehilangan akal, Israel –didukung Barat—justru mengkampanyekan ke seluruh dunia, bila Hamas adalah kelompok ’garis keras’ dan gerakan teror. Tak luput dengan media Indonesia yang ikut-ikutan menggunakan bahasa diplomasi Israel dengan menyebut Hamas sebagai kelompok ’militan’ atau ’garis keras’, yang kebanyakan mengambil sumber dari media Barat. Bagaimana sesunguhnya kiprah Hamas? Thoriq dariwww.hidayatullah.com akan melakukan analisa-khusus dengan mengambil beberapa sumber Timur Tengah.

***

Gerakan intifadah, bagi Israel ibarat negara paling menakutkan. Begitu takutnya, sampai tentara Israel pun dikenal kasar dan tega menghadapi anak-anak Palestina yang berusia di bawah belasan tahun. Segala jenis siksaan dan tindak kekejaman dilakukan, meski demikian, anak-anak Palestina bukannya kapok. Perlawanan dengan batupun terus dilakukan di mana-mana. Jika ketahuan dan tertangkap, tentara Israel tak segan-segan mematahkan tangan anak-anak Palestina. Di pihak Hamas dan warga Palestina sendiri korban juga terus berjatuhan. Di tahun ketiga intifadah saja sudah 973 orang Palestina tewas.

Sudah banyak cara dilakukan AS dan Israel untuk menumpas Hamas, yang sampai sekarang tidak mau mengakui keberadaan negara Israel, termasuk menggunakan kekuatan senjata, politik dan ekonomi dengan memutuskan bantuan keuangan Hamas dari seluruh dunia termasuk bantuan dari relawan dan negara Islam. Namun Hamas tetap hidup karena bagi Hamas mati lebih mulia daripada hidup dijajah.

Sebagaimana halnya Amerika. Ibarat setali tiga uang. Amerika jelas berada di arus utama negara-negara Barat yang mengomandani pemboikotan pemerintahan Hamas ketika menang Pemilu.

Amerika tidak sudi mendukung terbentuknya pemerintahan Hamas karena kelompok ini dianggap tak tunduk pada AS dan Israel. Sementara itu, Amerika seolah menutup mata, bagaimana Zionis-Israel jauh lebih kejam melakukan tindakan teror terhadap bangsa Palestina. Bahkan sebelum banyak lembaga HAM lahir.

Sebuah laporan yang disusun Hisam Abdu Raabbah dan Muhammad al-Nitcha di majalah terbitan Kuwait Al Mujtama' edisi 1192 menuliskan, ternyata Zionis-Israel telah melakukan aksi terorisme jauh sebelum negara itu berdiri pada tahun 1948. Tercatat dalam kurun waktu 1936-1939 teroris Zionis telah melemparkan bom terhadap warung kopi, pasar, dan terminal bangsa Arab di Haiva,Tel Aviv dan Al-Quds.

Tindakan teror Zionis dilancarkan oleh organisasi teroris seperti Haghana, Shtern, Irgun dan Itsil yang pemimpin organisasi ini juga sekarang banyak memimpin Israel seperti Ariel Sharon yang kini sedang mengalami stroke. Hasil teror yang dilancarkan organisasi teroris Yahudi dengan persekongkolan jahat bersama negara-negara Barat itu, lahirlah Israel, yang kini dikenal dunia.

Berbagai tindakan teror yang dilancarkan Zionis selama ini telah memastikan perjalanan sejarah bangsa Yahudi sebagai sejarah yang berlumuran darah. Boleh dikata, tak ada bentuk teror yang dikenal masyarakat dunia yang tidak dilakukan orang-orang Yahudi. Mereka melancarkan metode-metode penjajahan dan penindasan yang paling mengerikan termasuk melakukan pembunuhan, pembantaian massal, meratakan rumah-rumah, menghancurkan desa-desa, membakar kebun-kebun dan pohon sampai mengusir dan mendeportasi bangsa Palestina.

Amerika juga tidak sedikit melakukan tindakan terorisme akbar di dunia ini. Masih segar dalam ingatan bagaimana AS meluluhlantakkan Afghanistan dan Iraq yang semuanya mendapat legitimasi internasional. Sekarang Iran menunggu giliran, AS akan menggunakan kekuatan militernya menyerang Iran dengan dalih isu nuklir.

Kalau bicara tentang pemerintahan bentukan Hamas tidak ingin mengadakan pembicaraan damai dengan Israel. Memang Hamas tidak pernah melihat iktikad baik Israel mau berdamai dengan Palestina dan dunia Arab. Terbukti sejak perjanjian damai Oslo yang alot sampai beberapa tahun dan perjanjian peta jalan damai yang disponsori empat negara besar tetap saja dimentahkan Israel.

Gaza, setelah Dikuasai Hamas

Pertengahan bulan lalu, Hamas menyatakan bahwa mereka telah berhasil mengontrol seluruh wilayah Gaza. Akan tetapi situasi Gaza sebelum dan pasca pertempuran antara Hamas dan Fatah sampai sekarang tidak banyak diketahui. Sebagian besar media masa pun tidak mengungkap situasi yang berjalan di jalur Gaza saat ini, kecuali beberapa media Muslim, salah satunya adalah Mafkarah Al Islam, yang memiliki koresponden di jalur Gaza Palestina.

Sebagaimana dikutip Mafkarah Al Islam, kondisi Gaza pasca pertempuran begitu jauh sebagaimana banyak ditulis media asing (baca Barat) yang juga diikuti koran-koran Indonesia.

Sebelum pecahnya pertempuran antara Fatah dan Hamas yang berakhir dengan menyingkirnya Fatah dan pasukannya, kondisi jalur Gaza amat parah untuk bisa diceritakan. Di sana telah terjadi kevakuman keamanan dan para penduduk hidup dalam “cengkraman” rasa takut amat sangat, yang tidak pernah dirasakan sepanjang waktu walau Gaza berada dalam cengkraman imperialis Israel.

Kondisi seperti itu telah menyebabkan jatuhnya ratusan korban, penghancuran, serta pembakaran aset rakyat dan negara. Juga meningkatnya aktivitas kejahatan seperti perampokan, serta aksi penculikan terhadap para ulama dan imam masjid penghafal Al Qur’an serta pecahnya baku tembak dikarenakan masalah-masalah remeh, yang terjadi antar kelompok, pribadi atau antar keluarga.

Sekedar catatan, secara ekonomi, dengan luas hanya 365 kilometer persegi dan berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa, Jalur Gaza adalah tempat yang sempit. Ia tidak mampu menghidupi diri sendiri, tetapi sangat bergantung pada bantuan luar. Apalagi di saat Hamas kehilangan dukungan internasional. Boleh dibilang, dua pertiga dari jumlah penduduk itu hidup di bawah garis kemiskinan.

Jalur Gaza pun identik dengan penjara besar karena semua pintu gerbang menuju Jalur Gaza masih dikontrol Israel. Sejak kasus penyanderaan serdadu Israel, Gilad Shalit, Juni 2006, Israel lebih sering menutup semua pintu gerbang menuju Jalur Gaza.

Kekacauan merembet pada ketiadaan hukum. Termasuk permusuhan terhadap pengadilan-pengadilan, yaitu dengan membebaskan para tertuduh dengan paksa dari tuduhan, serta melepaskan orang-orang yang telah divonis dengan kurungan dan pengintimidasian terhadap para hakim supaya mau melepaskan pekerjaanya.

Kerusuhan bahkan berlanjut pada pembunuhan sejumlah ulama. Juga serangan terhadap Masjid. Menurut perhitungan Mafkarah Al Islam menunjukkan, bahwa lebih dari 30 masjid di jalur Gaza menjadi sasaran penyerangan dan penembakan secara langsung.

Dr. Shalih Raqab wakil Kementrian Wakaf dari jalur Gaza menyatakan, bahwa sembilan ulama terbunuh di tangan sempalan revolusi. Biasanya, mereka menjadikan orang-orang berjenggot dan mereka yang terlihat sebagai aktivis Islam sebagai sasaran. Puluhan kaum Muslim yang berjenggot telah menjadi korban penyiksaan sempalan pengikut Ahmad Dahlan. Dan kekejaman yang paling buruk dari trend ini adalah hal yang telah dilakukan oleh sekelompok dari petugas keamanan pengikut Mahmood Abbas ketika menculik Hisam Abu Qainash pada hari Senin, (11/6). Qainas dilemparkan dari lantai lima belas. Tidak ada sebab kecuali karena ia diketahui berjenggot. Namun situasi itu terhenti tatkala Hamas menguasa Gaza.

Semenjak Jalur Gaza dikuasai Brigade Izzuddin Al-Qasam, kota kecil ini terkendali. Prostitusi, obat terlarang diberantas. Tapi pers Indonesia kok memberitakan lain?

Hidayatullah.com--Bagaimana keadaan para imam masjid yang berjenggot? Keamanan jalur Gaza? Serta bagaimana penduduk Palestina hidup setelah berkuasanya Al-Qasam di sana?

Sejumlah pendunduk dari berbagai tingkatan mengungkapkan dengan gembira ketenangan yang mereka rasakan, yang telah hilang sejak beberapa tahun.

Adalah Syakir Ashfur. Pelajar dari Khan Yunis Gaza selatan yang juga mahasiswa di Universitas Islam Gaza mengungkapkan bahwa dia bisa aktif kembali untuk pergi ke universitas setelah sebelumnya hal itu tidak bisa ia lakukan dikarenakan ia berjenggot. Selain itu, ujarnya, posisi Universitas Islam Gaza sendiri berada di tengah-tengah titik konflik.

”Aku menghadapi kesulitan yang amat sangat ketika pergi untuk melaksanakan shalat Subuh dan isya di masjid. Aku merasa tidak akan kembali dalam keadaan hidup setelah shalat, kami merasa tidak aman sama sekali.”

Namun kekhawatiran itu ternyata tak terjadi. Yang terjadi adalah hancurnya kelompok Dahlani. Yang dimaksud dengan Dahlani ada pengikut setia pasukan Ahmad Dahlan, kelompok bersenjata di bawah Presiden Mahmood Abbad.

Menurut Ashfur, hancurnya sempalan Dahlani adalah bentuk murka Allah terhadap mereka, dikarenakan pembangkangan mereka terhadap Allah, ulama dan para imam masjid.

”Istriku sudah tidak menanantiku lagi di depan pintu setelah hancurnya sempalan Dahlani, dikarenakan dia sudah tidak mencemaskan keselamatanku lagi setelah kembali dari masjid,” ujarnya sembari tersenyum.

Padahal, menurutnya, dulu, rumah sakit-rumah sakit pun tidak pernah berhenti mengumumkan keadaan darurat, dan beberapa rumah sakit yang berada di jalur Gaza pun tidak mampu lagi menampung jumlah korban yang disebabkan vakumnya keamanan. Unit darurat terbuka di setiap rumah sakit, hingga seakan-akan tempat itu telah berubah menjadi barak militer.

”Kami tidak membesar-besarkan jika kami mengatakan, jika engkau datang menjenguk salah seorang pasien engkau merasa berada di dalam barak militer yang penuh dengan prajurit dengan bermacam jenis senjata.”

Tidak Ada Korban

Sebuah Organisasi Independen untuk Hak-Hak Penduduk Palestina dalam data statistiknya pada tahun 2007 menunjukakkan bahwa dalam satu bulan rata-rata 54 orang tewas di jalur Gaza dikarenakan perselisihan keluarga, pencurian dan sebab-sebab lainnya yang menyebabkan hilangnya rasa aman.

Adapun sekarang, hanya dalam waktu dua minggu Gaza di bawah kontrol Al-Qasam beberapa sumber dari kalangan medis menyebutkan bahwa seluruh rumah sakit yang berada di penjuru Gaza tidak didatangi seorang pasien pun yang sakit atau terluka dikarenakan hilangnya kontrol keamanan.

Juga tidak tersiar lagi dari radio-radio setempat berita jatuhnya korban akibat keamanan yang tidak terkendali, sebagaimana yang biasa tersiar sebelum Al-Qasam berkuasa, dimana beberapa keluarga jika ada perselisihan mereka tidak segan-segan untuk menggunakan senjata api dan peluru bahkan kemungkinan sampai kepada tahap penggunaan bom dan mortar.

Menurut Ashfur, saat ini tidak memungkinkan lagi bagi siapa saja untuk mengeluarkan dan “memamerkan” senjata api, karena hal itu akan menyebabkan penyitaan senjatanya dan penangkapan terhadapnya. Ashfur menambahkan, kira-kira sepakan yang lalu terjadi pertengkaran antar beberapa keluarga di sebuah kamp pengungsian di Gaza barat. Namun, tak ada lagi penyelesaikan dengan senjata. kecuali tongkat.

Minuman Keras dan Obat Terlarang

Setelah Al-Qasam mengumumkan bahwa seluruh penjuru jalur Gaza dikuasai di pagi hari, tepatnya, Jumat, 15 Juni 2007, Izzuddin Al-Qasam terus bergerak-tanpa melakukan “istirahat” yang biasa dilakukan pasukan setelah memenangkan pertempuran.

Pasukan Al-Qasam bergerak menuju pusat-pusat penjualan minuman keras yang terkenal dengan At Tahliyah daerah Khan Yunis, Gaza daerah selatan. Tempat itu bisa dikuasai seluruhnya oleh Al-Qasam dan dibunuhnya tiga “dedengkot” penjual dan produsen obat-obatan terlarang kemudian memusnahkan barang haram ini dengan jumlah yang amat besar.

Ahmad Asthal, salah satu penduduk yang tinggal satu wilayah dengan pusat obat-obat terlarang itu mengungkapkan rasa gembiranya atas “hukuman” yang ditimpakan kepada tiga “bandar” obat-obat terlarang itu. Ia menceritakan bahwa para penduduk enggan melakukan shalat jenazah untuk tiga orang itu, bahkan mereka menolak tiga janazah itu dibawa ke masjid, hanya dua orang saja yang mengubur mereka di pemakaman Khan Yunis.

Tempat Prostitusi

Selain membasmi minuman keras, Al-Qasam juga mendatangi rumah-rumah bordir dan tempat praktek prostitusi yang sebelumnya dilegalkan oleh pihak yang bertanggung jawab.

Sekarang sudah tidak ditemukan lagi di jalur Gaza. Sudah banyak diketahui bahwa di tempat inilah Israel menciptakan “tentara” dengan jumlah yang amat besar dari orang-orang Palestina sendiri, yaitu dengan mengambil gambar ketika meraka melakukan perzinaan dan mengancam akan menyebarkan gambar itu jika ia enggan membantu Israel. Biasanya, pria-pria yang direkam gambarnya ini lantas diperas agar bersedia menjadi ”mata-mata” Israel.

Juru bicara dari petugas keamanan, Islam Syahwan menegaskan bahwa sejak Al-Qasam mengendalikan jalur Gaza, tidak ditemukan lagi praktek asusila di seluruh penjurunya.

Bubarnya Pasar Senjata

Sebelum Al-Qasam datang, perdagangan senjata berjalan sangat liar. Perdagangan ini, kabarnya “didirikan” oleh para penguasa sempalan revolusi, di mana senjata api bisa diperjualbelikan dengan bebas di sana, baik untuk mereka yang gemar berkelahi atau anak-anak muda yang suka pamer senjata.

Sehingga jadilah pasar mobil yang berada di jalan Shalahuddin timur kota Gaza sebagai pusat perdagangan senjata yang diperuntukkan khusus bagi rakyat sipil. Adapun gerakan perlawanan tidak pernah “merendahkan martabat” untuk pergi ke pasar mobil guna membeli senjata dari para penghianat. Gerakan perlawanan memiliki sumber persenjataan sendiri yang dirahasiakan, guna menghadapi Zionis.

Abdullah Hijazi, seorang penduduk yang tinggal di dekat pasar mobil mengatakan, ”Beberapa waktu yang lalu kami tidak merasakan ketenangan ketika tidur dan istirahat, dikarenakan percobaan senjata oleh para pedagang senapan dan pistol, serta penjajahan dagangan mereka kepada para pengunjung pasar.”

Hijazi menambahkan, ”Tidak mungkin hidup di tengah letusan senapan dan di antara pedagang senjata serta obat-obat terlarang. Dan kami tidak memungkinkan untuk melarang mereka, karena hanya berbicara kepada mereka pun nyawa menjadi taruhannya.”

Ia juga mengatakan, ”Akan tetapi saat ini keadaan telah berubah, berbalik 360 drajat, anda tidak melihat lagi orang menenteng di jalanan Gaza, bahkan di pasar mobil sekalipun, dan kami tidak lagi mendengar letusan-letusan senjata api sehingga memungkinkan bagi anak-anak kami untuk keluar dari rumah sejak Al-Qasam menguasai Gaza, juga mereka bisa menikmati transportasi air serta pergi ke sekolah tanpa dibayangi kekhawatiran atas nyawa mereka,” ujarnya sebagaimana dikutip Mafkarah Al Islam.

Meski demikian, Hijazi sempat juga melontarkan kritikan, dengan mengatakan, mestinya Al-Qasam mengambil langkah seperti ini sejak dulu.

Mengatur Lalu-Lintas

Selain itu, ada suasana simpati yang dilakukan para pejuang sayap militer Hamas, Izzuddin Al-Qasam. Selain mengontrol keamanan, mereka juga menertibkan lalu-lintas.

”Untuk pertama kalinya Anda merasakan bahwa Anda berjalan di atas jalan-jalan teratur yang belum pernah terbayangkan sebelumnya dan yang lebih unik lagi, bahwa yang mengatur lalu litas adalah para remaja masjid yang umurnya tidak lebih dari 18 tahun, dimana mereka menggunakan gamis berwarna kuning yang memakai tanda Harakah Muqawamah Islamiyah (Hamas). Keadaan ini disambut gembira oleh para pengemudi kendaraan yang mulai merasakan kenyamanan saat berkemudi.”

Dan yang paling mencolok dari personel Al Qasam adalah konsistensi mereka dalam melaksanakan shalat berjamaah di pos-pos penjagaan mereka, di mana, kata Hijazi, akan dijumpai sekumpulan dari mereka berada di tengah pasar mencari tempat yang agak luas dan meletakkan senapan-senapan di depan mereka, lalu mendirikan shalat.

Seorang pengemudi yang bernama Syaikh dari Distrik Tengah mengatakan, ”Saya tidak mengira bahwa peraturan akan berlaku di jalanan Gaza. Dulu kami –para pengemudi- mengatakan bahwa Gaza adalah negara tanpa peraturan, tidak pernah sedetik pun berlalu di halte, kecuali terjadi percekcokan yang terkadang berakhir dengan penggunaan senjata api. Akan tetapi keadaan telah berubah, seorang remaja yang berumur 16 tahun telah menjadi petugas pengatur lalu-lintas yang berada di tangah-tengah lalu-lalang…”

Setelah beberapa presatasi diraih oleh Brigade Izzuddin Al-Qasam, apakah Gaza akan tetap aman? Ataukah “arus revolusi” telah bersumpah agar Gaza tidak pernah aman sesuai dengan keinginan Washington dan Tel Aviv? Ataukah ini hanya “bulan madu” yang akan berakhir dan berlalu, karena tank-tank Zionis telah berbaris menanti di belakang NATO, menunggu lampu hijau untuk menghakimi Gaza?

Agak naif bagaimana ketika asing begitu buruk menggambarkan Hamas dan Gaza tanpa pernah merujuk sumber-sumber utama di tempat itu. Yang lebih naif lagi, media dan pers Indonesia justru ikut-ikutan menkopi-nya.


No comments: