Disadari atau tidak, kebanyakan para penguasa negeri Muslim saat ini bekerja bukan untuk kepentingan rakyatnya. Kebanyakan mereka bekerja demi melayani kepentingan asing. Penguasa semacam ini layak disebut penguasa pengkhianat. Bagaimana sesungguhnya fakta para penguasa pengkhianat ini? Apa saja wujud dan bentuk pengkhianatan mereka? Bagaimana umat bisa mengenali mereka? Bagaimana pula caranya agar para penguasa pengkhianat ini bisa dicegah kemunculannya? Itulah beberapa pertanyaan yang coba kami sampaikan kepada KH M. Shiddiq al-Jawi. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana Ustadz melihat para penguasa di negeri Islam saat ini?

Para penguasa negeri Islam umumnya adalah para pengkhianat. Indikasi pengkhia-natan mereka yang menonjol ada dua. Pertama: mengadopsi ideologi penjajah, yakni Kapitalisme-sekularisme. Dengan kata lain, mereka tidak menjalankan Islam sebagai sistem kehidupan bernegara dan bermasyarakat dalam bentuk negara Khilafah. Kedua: menjadi antek penjajah. Mereka berkolaborasi untuk mewujudkan dominasi penjajah atas umat Islam.

Memang, semua penguasa negeri Islam mengklaim bekerja hanya demi kepentingan rakyat. Itu klaim mereka. Di sinilah kita perlu bersikap kritis dan jangan terlalu lugu. Menurut saya, dengan standar persepsi Islam, pengkhianatan dapat diartikan sebagai segala tindakan yang menyalahi amanah yang ditetapkan oleh Islam, baik amanah dari Allah Swt. untuk menegakkan ajaran Islam maupun amanah dari sesama manusia untuk mewujudkan segala kepentingan manusia, dalam kerangka ketaatan kepada Allah Swt.

Maka dari itu, penguasa disebut pengkhianat jika mengabaikan kewajiban untuk menerapkan syariah dalam institusi negara Khilafah. Khilafah ini kan jelas diamanahkan oleh Islam. Bukankah menerapkan syariah untuk kehidupan publik adalah kewajiban penguasa? Jadi, kalau penguasa tidak menjalankan amanah itu, apa lagi namanya kalau bukan penguasa pengkhianat? Contoh penguasa seperti ini adalah Mustafa Kemal Attaturk, yang pada tahun 1924 telah mengubah sistem Khilafah menjadi sistem republik sekular. Presiden RI pertama, Soekarno, adalah pengagum dan pengikut Mustafa Kemal Attaturk.

Selain itu, penguasa juga disebut pengkhianat jika membiarkan hegemoni kafir atas negeri Islam, atau malah menjadi kolaborator dalam konspirasi jahat itu. Mengapa? Karena Allah Swt. mengharamkan kondisi seperti itu. Hegemoni kafir itu jangan sampai ada. Itu amanah Allah. Coba baca surat An-Nisa’ ayat 141: Wa lan yaj‘alallâhu lil kâfirîna ‘alal mu’minîna sabîlâ. Contoh penguasa seperti ini adalah penguasa Afganistan sekarang, Presiden Hamid Karzai. Dia agen Amerika Serikat.

Seperti apa bentuk-bentuk pengkhianatan penguasa terhadap umat?

Yang utama, pengkhianatan ideologi. Artinya, penguasa negeri Islam justru mengambil ideologi penjajah kafir, yakni Kapitalisme-sekularisme, termasuk segala macam ide turunannya seperti demokrasi, HAM, pasar bebas, liberalisme, pluralisme, dan sebagainya. Ini yang paling utama. Mengapa? Sebab, pengkhianatan ideologi ini sifatnya mendasar. Artinya, ia akan menjadi titik tolak yang dapat mengakibatkan pengkhianatan di bidang-bidang lain, seperti pengkhianatan politik, pengkhianatan ekonomi, dan seterusnya. Seharusnya penguasa negeri Islam mengadopsi ideologi Islam. Namun, mereka malah mengadopsi ideologi penjajah. Bukankah ini pengkhianatan?

Bentuk pengkhianatan lainnya adalah pengkhianatan politik, baik politik dalam negeri maupun luar negeri. Pengkhianatan politik luar negeri, misalnya, berpihak kepada Amerika Serikat dalam propaganda palsu dan aksi kejam mereka untuk memerangi apa yang disebut “terorisme”; atau dalam kasus serangannya yang brutal kepada Afganistan, Irak, dan negeri-negeri Islam lainnya; atau dalam kasus resolusi sanksi nuklir atas Iran baru-baru ini.

Pengkhianatan politik dalam negeri contohnya adalah tindakan penguasa mengeluarkan berbagai kebijakan dalam negeri tetapi ada maksud melayani kepentingan kaum penjajah. Misalnya, tindakan meratifikasi keputusan WTO tahun 1995 menjadi undang-undang agar Indonesia terjun ke dalam pasar bebas; kebijakan penguasa mengangkat atau mempertahankan menteri-menteri kabinetnya yang menjalankan agenda lembaga keuangan internasional pro-penjajah, seperti IMF dan Bank Dunia.

Bentuk pengkhianatan lainnya adalah pengkhianatan ekonomi. Misalnya, utang luar negeri. Padahal utang luar negeri ini sebenarnya bukan semata instrumen pembiayaan pembangunan, melainkan lebih sebagai senjata politik dari negara kreditor untuk memaksakan pandangan-pandangan politik dan ekonominya kepada negara debitor. Dengan berutang luar negeri kepada IMF atau Bank Dunia, misalnya, lembaga-lembaga itu dapat memaksakan program-programnya yang penuh dengan penindasan, penghisapan, dan eksploitasi. Misalnya adalah apa yang disebut SAP (Structural Adjustment Programme). Bentuk programnya antara lain privatisasi dan pencabutan subsidi berbagai kebutuhan publik seperti kesehatan, pendidikan, energi, dan lain-lain. Naiknya BBM tahun 2005 yang kejam dan bikin sengsara itu, dan makin mahalnya pendidikan, adalah akibat program ini. Pengkhianatan ekonomi ini juga terwujud dengan lahirnya berbagai UU yang lebih banyak menguntungkan asing, seperti UU Migas, UU Sumber Daya Air, dan UU Penanaman Modal.

Indikator apa yang bisa dipakai untuk mengenali penguasa pengkhianat umat itu?

Tadi sudah saya sebutkan. Penguasa dikenali sebagai pengkhianat dengan dua indikator utama. Pertama: mengadopsi ideologi penjajah, yakni kapitalisme-sekularisme. Kedua: menjadi agen penjajah. Namun, ada hal lain yang ingin saya tekankan, yakni pengkhianatan itu terkait masalah persepsi. Kalau seorang Muslim mengadopsi sekularisme, dia tidak akan memandang penguasa sekular sekarang sebagai pengkhianat. Dia malah akan menganggap penguasa sekular itu sebagai pahlawan yang hebat dan pantas dielu-elukan. Orang-orang sekular di Turki, misalnya, memandang Mustafa Kemal Attaturk sebagai pahlawan. Padahal kalau dilihat dari kacamata Islam, dia itu jelas pengkhianat.

Namun perlu diingat, ada indikator pengkhianatan yang faktual, bukan semata persepsi. Misalnya, pengkhianatan penguasa mengambil utang luar negeri. Utang luar negeri, dampaknya antara lain adalah kemiskinan. Kemiskinan bisa dirasakan semua orang, siapa saja, penganut sekular atau Islam.

Mengapa dan bagaimana bisa muncul penguasa pengkhianat umat, padahal penguasa itu dipilih oleh rakyat bahkan melalui Pemilu secara langsung?

Karena masalah yang ada bukan sekadar figur individu penguasa, melainkan juga sistem yang ada. Masalahnya bukan sekadar pada sopir, tapi juga pada mobilnya. Nah, masalahnya, sistem yang ada telah didesain dan dikonstruksi mengikuti ideologi penjajah, yaitu sekularisme. Di sinilah masalahnya. Sekularisme telah dijadikan paradigma bagi institusionalisasi sistem kehidupan yang ada. Jadi, segala macam aturan atau tindakan, bahkan cara berpikir, telah terpola sedemikian rupa dalam sistem yang ada mengikuti paradigma ideologi penjajah itu. Ini kondisi dalam negeri. Kondisi luar negeri juga menyediakan sejumlah penjelasan mengapa seorang penguasa menjadi pengkhianat. Hegemoni Kapitalisme global melalui aktor-aktor utamanya dapat memaksa seorang penguasa menjadi pengkhianat. Tiga aktor utama globalisasi—yaitu negara-negara kapitalis, lembaga-lembaga internasional (seperti IMF, WTO, Bank Dunia), dan berbagai korporasi multi nasional (MNC)—mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk menyeret aktor keempat, yakni penguasa negeri Islam yang lemah, untuk menjadi aktor pembantu, yang tugasnya betul-betul menjadi pelayan kepentingan Kapitalisme global, alias kepentingan penjajah.

Inilah kiranya yang dapat menjelaskan mengapa muncul penguasa pengkhianat umat, walaupun dia dipilih langsung oleh rakyatnya.

Bagaimana Barat memunculkan penguasa pengkhianat agen mereka itu di tengah umat Islam? Apa tujuan mereka?

Antara lain dengan permainan citra. Dulu Mustafa Kemal sebelum mengganti Khilafah dengan republik diberi gelar Al-Ghazi (Pejuang) dan gelar Pahlawan Gali Poli, karena dia memenangkan pertempuran melawan asing di sana. Padahal itu rekayasa Inggris. Begitu pula Pak Harto dulu sebelum menggantikan Soekarno, sangat masyhur sebagai pahlawan yang menyelamatkan negara dari pemberontakan G 30 S/PKI tahun 1965. Padahal ada tangan-tangan Amerika lewat agen-agen CIA yang merekayasa semua itu. Tujuan Barat memunculkan agen-agen mereka adalah agar ideologi Kapitalisme dapat tertancap di negeri Islam dan selanjutnya agar negeri Islam itu dapat didominasi dan dieksploitasi guna kepentingan Barat.

Apa peran para penguasa antek itu?

Namanya juga antek alias agen, perannya jelas melayani kepentingan majikannya, yaitu negara-negara kapitalis. Pada saat yang sama jelas ada manfaat yang diperoleh oleh agen itu untuk dirinya pribadi, sementara rakyat banyak dikorbankan. Itulah modus dan ciri khas dari mekanisme pengkhianatan penguasa antek. Namun, penguasa antek kadang pintar menyembunyikan perannya yang jahat itu, karena dia berlindung di balik slogan “kepentingan nasional,” Di sinilah rakyat harus kritis.

Mengapa umat masih juga memberikan kepercayaan kepada para penguasa semacam ini? Apa yang mesti dilakukan?

Banyak sebabnya. Yang paling utama, karena umat belum mempunyai kesadaran politik (al-wa’yu as-siyasi). Orang yang tidak atau belum punya kesadaran politik, berarti pemahaman faktanya lemah dan parsial, misalnya tidak tahu kalau penguasanya telah berkhianat dan berkonspirasi dengan Kapitalisme global. Mungkin juga dia menggunakan perspektif yang salah. Umat menilai penguasa tidak dengan perspektif Islam, tapi dengan perspektif sekular. Padahal bagi umat Islam, perspektif itu seharusnya bukan ideologi sekularisme, melainkan Islam itu sendiri sebagai ideologi yang utuh. Jadi, yang harus dilakukan adalah mencabut ideologi sekularisme dan menanamkan ideologi Islam agar menjadi perspektif umat. Selain itu, umat harus diberikan informasi politik, misalnya kita bongkar pengkhianatan penguasa mereka. Umat juga harus diberi wawasan politik global agar pandangannya tidak sempit, tapi bergerak dinamis dari skala nasional menuju skala global.

Bagaimana menghalangi munculnya para penguasa pengkhianat di tengah umat?

Yang dapat menghalangi munculnya penguasa pengkhianat adalah umat itu sendiri. Sebab, umatlah sesungguhnya pemilik kekuasaan yang hakiki. Kalau umat mengerti bahwa seorang calon pemimpin berpotensi menjadi pengkhianat, umat sendirilah yang akan memutuskan untuk menghentikan dukungannya. Masalahnya adalah bagaimana agar pilihan umat itu tepat, yaitu berdasarkan kaidah-kaidah Islam. Di sinilah pentingnya menumbuhkan kesadaran politik atas dasar Islam seperti yang saya jelaskan tadi.

Ketika sistem Islam diterapkan, bagaimana kemungkinan munculnya penguasa pengkhianat umat dan agen penjajah? Bagaimana pula Islam mencegah dan menindaknya?

Dalam sistem Islam (Khilafah) masih ada potensi munculnya penguasa pengkhianat. Ibarat mobil bagus, masih ada kemungkinan sopirnya brengsek. Namun, potensi itu kecil karena sistem Islam yang diterapkan akan dapat meminimalkan pengkhianatan itu. Antara lain adalah penerapan sanksi ta’zîr, yaitu sanksi yang jenis dan kadarnya diserahkan kepada hakim. Penguasa pengkhianat harus diadili di hadapan Mahkamah Mazhalim. Jika terbukti pengkhianatannya sangat membahayakan eksistensi syariah atau Khilafah, misalnya mempropagandakan sekularisme, dia dapat dijatuhi sanksi yang berat. Misalnya, dihukum mati dengan cara digantung, atau ditembak, atau dipenggal kepalanya dengan pedang di hadapan publik.(AL-WA'IE / HTI)