Friday, April 3, 2009

Berkaca Pada Politik Islam di Turki


Bagian - 1

Apa yang dicapai Erdogan sekarang ini sesungguhnya bukanlah hasil sulapan semalam, namun hasil dari proses keteladanan, kesungguhan, dan keteguhan politik Islam di Turki sekuler. Model perjuangan para politisi Islam dan juga partai politik Islam di Turki modern banyak menginspirasi partai-partai Islam di berbagai negara di dunia.
Keberanian Perdana Menteri Turki, Recep Tayyib Erdogan (Rajab Thoyib Erdogan), mendamprat Presiden Zionis-Israel, Shimon Perez, dalam pertemuan Davos, Januari lalu mengagetkan seluruh dunia.

Bukan saja membuat kagum para akivis kemanusiaan dunia, namun juga membuat merah telinga Shimon Perez sendiri yang sangat terlihat dari gestur wajahnya yang tertekan saat Erdogan meninggalkan begitu saja podium tanpa menyalami Perez.

Banyak orang Islam di berbagai negeri mengeluh, mengapa bukan para pemimpin Arab yang bersikap demikian, mengapa bukan para raja-raja dan pangeran Saudi dan juga Presiden Mesir yang mampu bersikap jantan seperti itu, mengapa mereka malah memperlihatkan sikap pengecut terhadap Zionis-Israel? Liga Sekjen Arab, Amr Mousa sendiri, menyatakan salut dengan Erdogan, “Saya rasa tidak ada satu pun orang Arab yang berani bertindak seperti Erdogan!”

Di Indonesia, banyak kalangan menyatakan mengapa bukan SBY yang berani bersikap demikian? Pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Jangankan berani mendamprat Zionis secara langsung, menghadapi pernyataan kontroversial salah seorang petinggi Demokrat yang membuat kuping Golkar merah saja sudah kalang-kabut.

Nyali pemimpin seperti itu sudah bisa terbaca ketika Bush mau berkunjung ke Bogor beberapa tahun lalu. Ketika itu SBY amat sangat berlebihan dalam menyambut Bush, merusak sebagian lahan Kebun Raya Bogor untuk dibangun Helipad yang akhirnya tidak dipakai Bush, menempatkan tentara berseragam dengan perlengkapan tempur garis pertama dalam jarak setiap dua meter mengepung rapat istana Bogor, bagaikan seorang lurah di pedesaan yang menyambut kehadiran seorang Kaisar Dunia. Sebab itu dia dilecehkan Bush, yang dengan nakalnya meloncat keluar dari mobilnya saat berhenti tepat di depan SBY.”

Dari podium pertemuan Davos tersebut, Erdogan langsung pulang ke Turki. Di negerinya, Erdogan disambut bagaikan pahlawan besar. Turki modern telah menorehkan sejarahnya sendiri dengan tinta emas, dan mengatakan kepada dunia, jika Turki adalah sebuah bangsa yang besar dan berani membela keadilan dan kebenaran.

Padahal dunia juga tahu jika Turki Modern adalah Turki yang masih menjunjung tinggi asas sekularisme, bersahabat dekat dengan Uni Eropa dan Amerika, membuka hubungan diplomatik dengan Zionis-Israel, dan sebagainya. Namun siapa tahu, jauh di lubuk hati orang-orang Turki, mereka sungguh-sungguh mendambakan sebuah Turki yang sangat gemilang saat Turki masih menjadi sentral bagi kekhalifahan Islam.

Apa yang dilakukan Erdogan terhadap tokoh Zionis tersebut seolah mengulangi sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel.

Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.

Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”

Turki dan Palestina

Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.

Sebab itu pula, ketika sekolah-sekolah di Turki yang notabene mengaku Sekular setiap hari mengumpulkan amplop berisi sumbangan uang para murid untuk diberikan kepada rakyat Palestina di jalur Gaza yang tengah dibantai Zionis-Israel, lembaga-lembaga pendidikan yang berkhidmat pada penguasa Saudi model seperti ini—termasuk yang berdiri di Indonesia—tidak tergerak hatinya untuk turut menyumbangkan amplop berisi uang kepada rakyat Palestina.

Bahkan di masjid-masjid, ketika umat Islam mendirikan sholat ghaib bagi Muslim Palestina, para taklid-buta Saudi ini tidak bersedia melakukannya dengan alasan bid’ah. Naudzubillah min dzalik!

Ada sebuah hadits Rasulullah SAW tentang hari akhir yang berbunyi, “Kamu akan akan memerangi Semenanjung Arabia, lalu Allah akan menaklukkannya untukmu. Setelah itu Persia, di mana Allah akan menaklukkannya untukmu. Kemudian Rum, di mana Allah akan menaklukkannya untukmu. Kemudian kamu akan memerangi Dajjal, dan Allah akan menaklukkannya untukmu.” (HR. Muslim).

Adakah hadits tersebut memerintahkan pasukan Muslim di bawah komando Imam Mahdi untuk menghancurkan para pemimpin Saudi yang kelakuannya seperti sekarang ini? Wallahu’alam bishawab. Semoga saja tidak dan semoga saja tidak semua pemimpin Saudi dan para pengikutnya seperti itu. Amin.

Politik Islam Turki

Saat ini Erdogan mendapat nama yang harum, bukan saja di mata rakyat sipil Turki, namun juga di mata para pemimpin militer Turki yang selama ini dikenal sebagai penjaga garis Sekulerisme paling gigih dan konservatif. Padahal, mereka tahu semua jika Erdogan berasal dari partai yang kental dengan Islam dan memiliki seorang isteri yang juga menutup aurat.

Apa yang dicapai Erdogan sekarang ini sesungguhnya bukanlah hasil sulapan semalam, namun hasil dari proses keteladanan, kesungguhan, dan keteguhan politik Islam di Turki sekuler. Model perjuangan para politisi Islam dan juga partai politik Islam di Turki modern banyak menginspirasi partai-partai Islam di berbagai negara di dunia. Dalam tulisan kedua akan dipaparkan sejarah awal Turki sekuler dan awal kembang-tumbuhnya partai Islam di sana.


Bagian - 2

Salah satu proyek mereka adalah mendirikan pusat-pusat kajian ketimuran yang pada akhirnya meracuni pemikiran-pemikiran Islam generasi muda Turki dengan model Islam yang berpihak ke Barat.

Turki merupakan sebuah negeri yang unik karena letak wilayahnya berada di dua benua yakni Asia dan Eropa, atau istilahnya negara Eurasia. Laut Marmara yang merupakan bagian dari Turki digunakan secara internasional sebagai patokan batas wilayah Benua Eropa dengan Asia, sebab itu Turki juga disebut sebagai Negara Transkontinental. Secara ideologis, negara ini juga menjadi pembatas antara negara-negara Kristen Eropa (The Christendom) di sebelah utaranya dengan negara-negara Arab di sebelah selatan. Sebab itu, ketika Perang Salib pecah di akhir abad ke-11 Masehi, wilayah Turki menjadi jalur utama perlintasan tentara Salib dari Eropa menuju ke Yerusalem. Pun ketika Tentara Salib kalah dan pulang dari Yerusalem ke Eropa pada tahun 1187, lagi-lagi wilayah Turki dipakai sebagai tempat perlintasan.

Ankara merupakan ibukota Turki Modern (Turki Sekuler), namun kota terbesar dan paling bersejarah adalah Istanbul. Negeri ini juga merupakan saksi hidup dari catatan sejarah dan peradaban dunia yang besar, seperti halnya Kekaisaran Byzantium dan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah.

Saat ini Turki berbentuk Repulik yang menjaga prinsip-prinsip sekularisme dengan militer sebagai garda terdepannya. Hal tersebut merupakan ‘buah karya’ dari konspirasi Yahudi Internasional yang menyusupkan seorang agennya bernama Mustafa Kamal, seorang Yahudi Dumamah dari Tsalonika, yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utmaniyah secara total pada tahun 1924. Sejak itu Islam dengan segala atributnya menjadi baang haram di Turki Modern. Adzan pun dilakukan dengan bahasa Turki. Kenyataan ini merupakan kontradiksi yang sangat ironis, bagaimana bisa sebuah kekhalifahan Islam yang besar, yang mewarsi sebagian besar daerah Imperium Byzantium dan wilayahnya menjulur dari Eropa hingga ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kepulauan Maluku (Jazirah Al-Muluk).

Turki Utsmaniyah

Kekaisaran Byzantium melemah di abad ke-13 Masehi. Sejumlah kabilah melepaskan diri dari kekuasaannya. Salah satu kabilah yang melepaskan diri berada di daerah Eskisehir, utara Turki sekarang. Kabilah ini dipimpin oleh Ertugul dan diteruskan oleh anaknya bernama Osman I yang pada tahun 1299 mendirikan Kesultanan Utsmaniyah.

Osman I seorang yang sangat pemberani dan menerapkan politik kombinasi antara jihad-dakwah sehingga mampu membebaskan wilayah-wilayah di sekitarnya dan meneranginya dengan cahaya Islam. Sebab itu Osman I memiliki nama panggilan "kara" yang dalam bahasa Turki sebutan untuk hitam disebabkan keperkasaannya. Sosok pendiri Kekhalifahan Turki Utsmaniyah ini sangat dihormati rakyat Turki hingga sekarang, sehingga di negeri ini ada sebuah “kalimat doa” yang berbunyi, “Semoga dia sebaik Osman.” Dan di beberapa kalangan tarekat yang banyak terdapat di Turki, terdapat mitos yang berasal dari sebuah cerita lama dari abad pertengahan yang mengisahkan jika Osman pernah bermimpi menjadi seorang pembebas bagi Turki yang membebaskan berbagai wilayah yang menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmaniyah saat itu. Cerita ini dikenal sebagai “Mimpi Osman”.

Sepeninggal Osman I, pembebasan demi pembebasan wilayah sekitarnya menjadikan Turki Utsmaniyah kian berjaya. Dalam usia 21, Mehmed II melakukan pembaharuan dengan merombakan struktur kesultanan dan juga angkatan perangnya. Di zaman Mehmed II inilah, Kota Konstantinopel dibebaskan dan diganti namanya menjadi Islambul, atau dalam lidah Eropa, Istanbul. Ini terjadi pada 29 Mei 1453.

Di masa The Great Suleyman atau Sulaiman yang Agung, 1520-1560, Beograd dibebaskan (1521) dan sejumlah wilayah di sekitarnya juga ikut. Di tahun 1529, pasukan Turki Utsmaniyah telah berada di gerbang kota Wina. Namun disebabkan musim dingin yang hebat jatuh lebih awal, maka pasukan ini mundur. Di sebelah Timur, Bagdad berhasil dibebaskan dari kekuasaan Persia sehingga mendapatkan hak kontrol atas Mesopotamia dan Teluk Persia. Di masa ini, armada laut Turki Utsmaniyah sangat kuat dan disegani.

Roda sejarah selalu berputar, ada saat pasang ada pula saat surut. Demikianlah sunnah kehidupan. Cahaya Islam yang sudah berada di gerbang depan Eropa membuat Vatikan dan sejumlah kerajaan Salib cemas. Dendam kesumat atas kekalahan mereka dalam Perang Salib di Yerusalem beberapa abad lalu belumlah sirna dari ingatan. Sebab itu, dengan sekuat tenaga, mereka menyatukan barisan untuk menghadang cahaya Islam yang dibawa oleh Turki Utsmani dan juga berusaha keras menghancurkannya.

Gerakan penghancuran terhadap kekhalifahan ini dimulai dari para ahlul-zimmah, orang-orang Kristen dan juga Yahudi, yang berada di wilayah Turki. Mereka mendapatkan keistimewaan di zaman kekuasaan Sulayman II. Namun menjelang tahun 1520, mereka ini menuntut untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum Muslimin. Hak ini mereka manfaatkan untuk melindungi tokoh-tokoh asing yang tengah menggalang kekuatan anti kekhalifahan.

Dalam bekerja mereka menggunakan dua strategi: mendatangkan sekutu mereka dari luar dan menggalang kerjasama dengan tokoh-tokoh Islam lokal yang bisa “menukar akidah Islamnya dengan kenikmatan duniawi”. Akhirnya, Sultan terdesak untuk meneken perjanjian dengan Bizantium (1521), Perancis (1535), dan Inggris (1580). Semua ini mengakibatkan kekuatan kaum kafir bertambah. Jumlah mereka bertambah dari hari ke hari.

Salah satu proyek mereka adalah mendirikan pusat-pusat kajian ketimuran yang pada akhirnya meracuni pemikiran-pemikiran Islam generasi muda Turki dengan model Islam yang berpihak ke Barat. Di Indonesia, gerakan ini sama persis dengan gerakan Islam liberal.

Bagian - 3

Awalnya para peserta kongres menginginkan agar masalah hancurnya Kekhalifahan Islam di Turki dibahas. Namun agenda ini menemui kegagalan karena Raja 'Abdul 'Aziz bin Sa'ud sebagai tuan rumah kongres menolak membicarakan hal ini

Secara perlahan namun pasti, “lembaga-lembaga pengkajian” yang dipimpin para orientalis Barat ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Jumlah orang-orang kafir pun meningkat. Lewat penguasaan jaringan media dunia, Yahudi Internasional menghembuskan stigma jahat kepada Turki Utsmani jika Turki merupakan “The Sickman From Asia”, Orang Sakit Dari Asia. Sejumlah kebijakan ekonomi Turki disabotase. Dan perekonomian Turki pun terpuruk.

Dari luar, strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman. Sistem Monarkhi Absolut merupakan bid’ah kubro.

Para pemuda Arab diracuni pemikirannya untuk meninggalkan Islam dan menuhankan Nasionalisme Arab. Maka pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab sebagai jalan baru untuk berjuang. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.

Dari dalam kekhalifahan sendiri, Konspirasi Yahudi menanamkan banyak orang untuk bisa bekerja demi kepentingannya. Salah satunya adalah Rasyid Pasha, menteri luar negeri di era Sultan Abdul Majid II (1839) ini memperkenalkan Naskah Terhormat (Kholkhonah), yang sesungguhnya merupakan copy-paste dari UU sekuler Eropa.

Pada 1 September 1876, pihak Konspirasi berhasil mengangkat Midhat Pasha, seorang Mason, jadi perdana menteri. Dia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD sekuler Belgia (dikenal sebagai Konstitusi 1876). Namun Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak Konstitusi ini karena isinya bertentangan dengan syari'at Islam. Midhat Pasha pun dipecat. Hal ini menyebabkan Konspirasi menjalankan agenda B, yakni melakukan pemberontakan yang dijalankan oleh Gerakan Turki Muda yang berpusat di Salonika, sebuah pusat komunitas Yahudi Dumamah, tempat Mustafa Kemal berasal (1908). Kemudian, atas bantuan Barat, Sultan Abdul Hamid II dipecat dan dibuang ke Salonika.

Dalam Perang Dunia I (1914), Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli. Inggris kemudian sengaja mendongkrak popularitas Mustafa Kemal dengan memunculkannya sebagai pahlawan Perang Ana Forta (1915). Mustafa Kemal menjadi populer dan kemudian menggerakan revolusi nasionalisme. Dia menghasilkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan melucuti semua wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Akhirnya Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan sebagainya mendeklaraskan diri sebagai negara nasionalis sendiri yang lepas dari Utsmaniyah. Ideologi Islam dibuang dan digantikan dengan ideologi Nasionalisme.

Saat itu, banyak tokoh Islam yang tertipu dan termakan propaganda Barat mengatakan jika politik Islam atau “politik aliran” sudah bukan masanya lagi, alias sudah ketinggalan zaman.

Sejak saat itu, Mustaf Kemal secara cepat dan gradual berhasil menguasai Turki. Pada 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun trakyat masih banyak yang mendukung kekhalifahan yang kekuasaannya sebenarnya sudah banyak yang lumpuh. Oleh rakyat, Mustafa Kemal dinyatakan murtad. Namun Mustaf Kemal melakukan aksi tandingan dengan mengorbankan darah Muslim Turki. Akhirnya pada 3 Maret 1924, Mustafa Kemal memecat Khalifah dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Turki dijadikan negara sekuler. Semua simbol-simbol keagamaan, terutama Islam, dihapuskan dan terlarang.

Reaksi Dunia Islam, Saudi Memboikot

Dunia Islam menyatakan belasungkawa dan sangat prihatin atas apa yang terjadi di Turki. Dari Indonesia, Syarikat Islam membentuk sebuah komite pada 4 Oktober 1924, diketuai oleh Wondosoedirdjo dan wakilnya, KH. Abdul Wahab Hasbullah. Tujuan didirikan komite ini adalah untuk membahas undangan kongres khilafah di Kairo, Mesir. Lalu ditindaklanjuti dengan Kongres Al-Islam Hindia III di Surabaya (24-27 Desember 1924). Kongres ini dihadiri ulama dari seluruh penjuru Hindia Belanda dan menyepakati untuk mengirimkan utusan, wakil umat Islam Indonesia, ke kongres dunia Islam. Utusan ini terdiri dari Suryopranoto (SI), Haji Fakhruddin (Muhammadiyah) dan KHA. Wahab dari kalangan tradisional.

Disebabkan ada perbedaan pendapat dengan kalangan Muhammadiyah, KH. Abdul Wahab dan kawan-kawannya menggelar rapat dengan kalangan ulama tradisionil dari Surabaya, Semarang, Pasuruan, Lasem, dan Pati. Berdirilah Komite Merembuk Hijaz sebagai pegimbang Komite Khilafah yang “jatuh” ke tangan Muhammadiyah dan menyerukan kepada Ibnu Sa'ud, Raja Saudi, agar tradisi keagamaan yang sudah berjalan selama ini jangan dihentikan. Komite Merembut Hijaz ini kemudian dikenal dengan sebutan Nahdlatul Ulama, diresmikan di Surabaya, 31 Januari 1926.

Di tahun 1927 berlangsung Kongres Khilafah II di Mekkah. Agus Salim (Syarikat Islam) hadir dalam kapasitas sebagai utusan Hindia-Belanda. Awalnya para peserta kongres menginginkan agar masalah hancurnya Kekhalifahan Islam di Turki dibahas. Namun agenda ini menemui kegagalan karena Raja 'Abdul 'Aziz bin Sa'ud sebagai tuan rumah kongres menolak membicarakan hal ini.


Bagian - 4

Hidup di bawah tekanan dan penindasan kekuatan sekularis Turki yang menguasai hampir seluruh bidang kehidupan, sipil maupun militer, ternyata tidak memadamkan api keislaman rakyatnya.

Sejak Mustafa Kemal menguasai Turki pada tahun 1923, Yahudi dari Salonika tersebut berusaha keras memisahkan Turki dengan Islam. Bentuk kekhalifahan diganti dengan bentuk Republik sekuler. Mustafa Kemal dan para pengikutnya juga meracuni rakyat Turki dengan mengatakan jika Islam itu identik dengan kekolotan dan keterbelakangan, sedangkan Barat merupakan simbol kemajuan dan modernitas. Mustafa Kemal pun memindahkan ibukota Turki dari Istanbul ke Angora atau Ankara.

Sebagai perwira militer, Mustafa Kemal menggunakan angkatan bersenjata Turki sebagai garda terdepan dalam menghancurkan keislaman. Bahkan angkatan bersenjata Turki dinyatakan sebagai pendukung utama ideologi Kemalis yang sangat anti Islam, dan sebab itu tentara Turki memiliki peran ganda sebagai “Tentara Politik”. Mustafa tentu tidak sendirian, kekuatan Barat senaniasa berada di belakangnya.

Secara resmi, Sekularisme dijadikan garis politik utama yang sama sekali tidak boleh diganggu-gugat. Semua simbol keislaman dilarang. Adzan harus menggunakan bahasa Turki, jilbab dan peci haji tidak boleh dipakai, pengadilan agama dibubarkan, hukum pernikahan Islam diganti dengan hukum positif sekuler, bahkan pada tahun 1925 Mustafa Kemal melarang adanya kelompok tarekat dan juga ibadah haji bagi warganegaranya.

Sebagai garda terdepan penjaga Sekularisme, angkatan bersenjata Turki berkali-kali melakukan intervensi politik seperti yang terjadi pada tahun 1960-an.

Pemanfaatan Sentimen Keislaman

Hidup di bawah tekanan dan penindasan kekuatan sekularis Turki yang menguasai hampir seluruh bidang kehidupan, sipil maupun militer, ternyata tidak memadamkan api keislaman rakyatnya. Dengan penuh kerahasiaan, tumbuh di berbagai komunitas tarekat-tarekat Islam, terutama Tarekat Nusairiyah. Menjamurnya berbagai tarekat yang mengkhususkan diri di dalam pembinaan ruhiyah anggotanya merupakan ciri khas sistem kekuasaan yang menindas, di mana pun dan kapan pun itu.

Secara resmi negara memang menindas Islam, tapi negara tetap tidak bisa mengenyampingkan kekuatan Islam begitu saja, sebab basis pemilih Muslim yang sangat besar mau tidak mau harus diambil hatinya. Hal inilah yang kemudian menjadi lucu, bagaimana sebuah partai sekuler dan tidak pernah perduli pada Islam misalnya, tetapi memanfaatkan simbol-simbol keislaman untuk berkampanye dan membujuk para pemilih di daerah pedesaan.

Partai yang didirikan oleh Mustafa Kemal sendiri, yaitu Partai Rakyat Republik (CHP) tetap harus memanfaatkan sentimen keislaman untuk bisa memperoleh perolehan suara di hati umat Islam yang taat yang masih sangat banyak berada di pedesaan. Dalam rangka merebut hati umat Islam-lah, CHP pada tahun 1947, melonggarkan simpul asas sekularismenya dan memasukkan kembali mata pelajaran pendidikan agama yang bersifat pilihan di sekolah-sekolah umum, mendirikan pusat-pusat pelatihan calon khatib dan da’i, bahkan Universitas Ankara membuka kembali Fakultas Teologi. Menyusul hal itu, pada tahun 1949, CHP mengizinkan makam dan tempat suci dibuka kembali. Walau begitu, untuk tetak memperkuat asas sekularisme maka CHP memberlakukan pasal 163 UU Hukum Pidana, yang berisi pelarangan propaganda yang menyerang asas utama sekularisme Turki.

Pada Pemilu 1950 dan 1954, CHP dikalahkan Partai Demokrat. Partai sekuler ini pun banyak menunggangi sentimen keislaman guna menarik dukungan dari rakyat. Pengumandangan adzan yang tadinya harus menggunakan bahasa Turki kini boleh menggunakan bahasa Arab kembali, pendidikan keagamaan diperluas, jumlah sekolah-sekolah khatib diperbanyak, masjid-masjid baru dibangun kembali, sedangkan masjid-masjid lama yang pernah ditutup dibuka kembali dan difungsikan sebagaimana semula.

Apa yang dilakukan kubu Partai Demokrat mendapat penentangan keras dari kalangan Kemalis dan angkatan bersenjata. Bahkan mereka menuding Partai Demokrat telah jelas-jelas mengkhianati asas Sekularisme Turki yang diusung Mustafa Kemal. Akhirnya, situasi yang panas tersebut berakhi pada aksi kudeta yang dilancarkan angkatan bersenjata Turki pada pagi dini hari, 27 Mei 1960, dimana unit-unit angkatan bersenjata mengambil-alih semua gedung pemerintah, baik yang berada di Ankara maupun di Istanbul. Semua menteri dan deputi Partai Demokrat ditangkap dan dipenjarakan, termasuk Perdana Menteri Menderes dan Presiden Celal Bayar.

Angkatan Bersenjata Turki dan Kubu Kemalis menyatakan diri sebagai garda terdepan dalam menjaga asas Sekularisme. Mereka menyatakan jika kekuatan Islam politik merupakan suatu hal yang harus senantiasa diwaspadai. Walau demikian, kekuatan kubu ini ternyata hanya berpusat di perkotaan dan menjadi jargon kau elit semata. Rakyat Turki di pedesaan tetap menyimpan semangat Islam di dalam hatinya.

Penentangan terhadap sistem Sekulerisme Mustafa Kemal ternyata juga datang dari kelompok kiri Turki. Mereka melihat jika sistem tersebut pada kenyataannya telah memperkaya elit penguasa dan memiskinkan rakyat banyak. Di tahun 1960, berdiri partai kiri pertama dalam sejarah Turki yakni Partai Buruh. Banyak kaum intelektual Turki menjadi anggotanya. Namun walau demikian, penguasa Turki tetap melarang keras Marxisme. Semua buku yang dianggap berbau kiri dilarang.

Pemberangusan terhadap kekuasaan Partai Demokrat oleh agkatan bersenjata dan kubu Kemalis juga menjadi pelajaran berharga bagi kekuatan politik Islam. Mereka meyakini jika kekuatan politik Islam harus mendapat dukungan yang sangat kuat dari rakyat, agar bisa tetap bertahan, dan mereka juga harus pandai bertahan dengan menggunakan jargon-jargon yang tidak “menyakiti” kubu sekular.

Geliat Islam Politik

Ideologi sekularisme ternyata tidak membawa Turki menuju kemakmuran dan keadilan. Perekonomian Turki macet. Sebab itu, dukungan terhadap asas Sekularisme secara amat halus mulai berurang. Perdana Menteri Turgut Ozal (1983-1993) dianggap sebagai orang yang telah berjasa memperbaiki perekonomian Turki, walau masih menganut sistem ekonomi liberal seperti halnya Amerika. Di bawah kekuasaannya, Islam mulai mendapatkan tempatnya kembali di Turki Sekuler. Sejumlah hal yang bisa dicatat adalah diizinkannya bank Islam dari Saudi mendirikan cabang di Turki, juga pembentukan partai-partai “Islam” walau masih menggunakan asas sekularisme.

Bagian - 5

Erdogan bukanlah tipe seorang pemimpin yang mengklaim sebagai Ketua Gerakan Peduli Tetangga, misalnya, namun membangun pagar tembok rumahnya sendiri setinggi lima meter lebih dan asing dengan tetangganya sendiri.
Di bawah sistem sekularisme yang masih sangat kuat, dimana militer akan secara tegas akan melibas siapa pun yang berani meruntuhkan asas ini.

Maka kondisi yang nyata ini jelas tidak memungkinkan seorang tokoh Islam atau ulama secara terang-terangan menyatakan diri sebagai pembela Islam atau akan menegakkan syariat Islam.

Sebab itu, tokoh-tokoh Islam di Turki selalu menghindari jargon-jargon keislaman dan lebih mengedepankan jargon-jargon kemanusiaan dan demokrasi. Mereka lebih mengutamakan kerja nyata ketimbang berbicara.

Dan hebat lagi, para tokoh Islam Turki, lebih memilih berjuang di sisi rakyat jelata, membantu mereka yang kekurangan dan ditimpa kemalangan, ketimbang berjuang di sisi penguasa yang hidup dalam berkelimpahan. Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana Beliau berdakwah Islam dengan memulai dari pencerahan terhadap rakyat jelata, bukan memulai dari mendekati elit negara atau kaum penguasa.

Untuk mendakwahkan Islam sebagai agama yang bersih, peduli, dan menyeluruh, para tokoh Islam Turki menerapkan hal itu pada kehidupan keluarganya sehari-hari. Para tokoh-tokoh Islam itu menyatu dengan kadernya di dalam berdakwah. Jadi tidak ada istilah, hanya kader yang perduli dan bekerja keras memeras keringat, sementara para elit partainya bersenang-senang bersekutu (musyarokah) dengan kelompok elit penguasa atau orang-orang kaya pendukung utama status-quo. Tidak ada istilah hanya para kader yang berlepotan lumpur sawah dan dijemur terik matahari, sementara elit partai kekenyangan makan mewah di hotel-hotel.

Akhirnya, dalam satu pemilihan demokratis di tahun 1985, Partai Islam Refah keluar sebagai pemenang. Necmetin Erbakan dilantik menjadi Perdana Menteri. Kemenangan Refah dan Erbakan disambut dengan penuh kegembiraan dan harapan oleh rakyat Turki. Namun tentu saja, militer Turki melihatnya dengan penuh kewaspadaan.

Refah tidak mengklaim sebagai partai Islam militan dan fundamentalis. Walau demikian Refah juga sama sekali bukan “Partai Islam” yang hanya pandai menjual atau memanfaatkan jargon-jargon keislaman dan kemanusiaan. Secara remi, jargon politik yang dikampanyekan Refah adalah mengutamakan keadilan sosial, tradisi, dan etika, juga menolak westernisasi. Walau demikian, Refah juga menyatakan diri memperjuangkan Islam yang khusus yakni Islam yang sesuai dengan karakteristik rakyat Turki.

Refah merupakan partai moderat yang menjunjung nilai demokrasi dan pluralisme. Namun, tahun 1997 Turki melalui tangan militer melarang partai itu ketika dianggap Partai Refah terlalu memperjuangkan Islam. Sejak itulah, dimulai era jatuh bangunnya partai politik "Islam" di Turki.

AKP dan Erdogan

Saat angin demokrasi bertiup di Turki di awal 1980-an, Recep Erdogan bergabung pada Partai Refah pimpinan Erbakan. Karir politik Erdogan cukup cemerlang disebabkan ia sangat dekat dengan rakyat jelata dan berani bersama-sama rakyat biasa untuk bekerja. Tahun 1994, Erdogan terpilih jadi Wali Kota Istanbul, sebuah kota bersejarah dan metropolitan terbesar dengan penduduk sekitar sepuluh juta jiwa.

Selama menjadi Walikota, Erdogan menegakkan hukum yang adil dan dengan berani banyak membuat kebijakan yang pro-rakyat. Erdogan sama sekali tidak risih memakai seragam pekerja dan bersama-sama rakyatnya melakukan pembersihan jalan. Erdogan pun turun sendiri membagikan kursi-kursi roda pada rakyatnya yang memerlukan.

Semua itu dilakukan bukan sebatas formalitas, tetapi sungguh-sungguh dilakukan. Kehidupan keluarganya pun tidak bisa dikatakan mewah, sehingga hal ini kian mendekatkannya di hati rakyat. Erdogan waktu itu sudah melarang minum-minuman keras.

Banyak kalangan menyandingkan Erdogan dengan Ahmadinejad. Keduanya sama-sama populis, merakyat, sederhana, dan berani menyampaikan kebenaran. kedua pemimpin, baik Ahmadinejad maupun Erdogan, adalah pemimpin yang banyak memberi keteladanan, banyak hal yang telah mereka contohkan kepada rakyat, dan hal-hal yang mungkin telah banyak dilupakan oleh para pemimpin lainnya.

Kepada rakyat, mereka tidak hanya berkata-berkata tapi memberikan contoh serta bukti yang nyata, bahwa pemimpin bukanlah sosok yang tidak bisa dijamah dan digapai oleh rakyatnya, tapi pemimpin adalah pelayan rakyat itu sendiri.

Erdogan bukanlah tipe seorang pemimpin yang mengklaim sebagai Ketua Gerakan Peduli Tetangga, misalnya, namun membangun pagar tembok rumahnya sendiri setinggi lima meter lebih dan asing dengan tetangganya sendiri.

Jika Erdogan menganjurkan kesederhanaan, maka dia dan keluarganya pun menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Erdogan dan AKP berkeyakinan jika kekuatan Islam harus diawali dengan berjuang bersama-sama rakyat jelata, baru kemudian menuju dakwah ke atas. Bukan "dakwah" yang dimulai dari atas, baru turun ke bawah.

Akhir 1980-an Partai Refah dibubarkan militer Turki. Erdogan pun ikut kena tangkap dan di penjara hanya dengan tudingan telah membaca sebuah puisi yang bernuansa Islam dan menghina sistem sekuler. Namun disebabkan perilakunya yang baik dan santun, pemerintah mengurangi masa hukumannya, sehingga hanya empat bulan. Setelah pembebasannya, Erdogan mendirikan AKP pada 14 Agustus 2001.

Strategi yang dijalankan AKP adalah dengan menggandeng dan memperkuat lobi dengan Eropa ketimbang harus berdekat-dekatan dengan penguasa sekuleris Turki. Di dalam negeri, AKP memfokuskan diri pada pembelaan dan pendampingan terhadap kaum miskin. Bersama-sama rakyat miskin, AKP berjuang menegakkan sistem yang bersih dan berkeadilan, dan melawan segala perilaku korup para penguasa Turki sekularis.

Hal ini dilakukan Erdogan dan kawan-kawan tidak sebatas di bibir saja, melainkan sungguh-sungguh dilakukan. Erdogan dan para tokoh AKP tidak segan-segan bahu-membahu bersama rakyat miskin menggugat penguasa, dan memperlihatkan kepada rakyat Turki bahwa mereka bersih dan tidak korup dengan benar-benar mencerminkannya di dalam kehidupan keseharian mereka.

Alhasil, simpati rakyat Turki pun didapat AKP. Dalam pemilu November 2002, AKP keluar sebagai pemenang dengan meraup 363 dari 550 kursi yang tersedia di parlemen. Saat itu, sekitar 42 juta orang berhak memberikan suara pada pemilu dimana 14 partai berusaha memenangkan kursi pada parlemen yang beranggotakan 550 orang.

Kenyataan ini tentu tidak menyenangkan kaum sekuler. Dengan sekuat tenaga mereka tetap berupaya menghalangi Erdogan agar tidak sampai menjadi perdana menteri. Tetapi Erdogan tidak kehilangan akal.

AKP dengan cepat mendukung amandemen konstitusi yang membuka jalan baginya untuk jadi perdana menteri, dan berhasil. Erdogan pun akhirnya menjadi perdana menteri setelah AKP memenangkan pemilu tahun 2002 dan berlanjut sampai sekarang.

Bagian - 6 (Tamat)

Kampanye besar-besaran menandakan jika mereka sesungguhnya asing dan jauh dari realitas kehidupan rakyatnya sendiri, walau mereka banyak mengklaim sebagai pembela wong cilik atau pembela umat. Ini adalah fakta.

Nama Erdogan dan Turki menjadi buah bibir masyarakat dunia akhir Januari lalu. Ketika itu, dalam pertemuan ekonomi dunia di Davos-Swiss, Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang duduk berdampingan dengan Presiden Israel Shimon Perez mengecam keras dan mengutuk aksi barbar Zionis-Israel yang menyerang Jalur Gaza akhir Desember 2008. "Kalian bangsa pembunuh!" desis Erdogan sambil menunjukkan jarinya kepada Perez. Dengan sikap penuh harga diri, Erdogan pun berdiri dan meninggalkan begitu saja forum internasional tersebut. Di belakangnya, Perez duduk termangu seolah tidak percaya ada seorang pemimpin negara yang seberani Erdogan terhadap Israel.

Dalam sekejap, Erdogan menjadi Hero baru bagi dunia. Bahkan dalam jajak pendapat yang diselenggarakan di sejumlah situs dan forum internet di Dunia Arab, para netters yang kebanyakan dari kalangan pemuda terdidik membaiat Erdogan sebagai "Khalifah al-Muslimin fi Hadza al-'Ashr" (Pemimpin Umat Muslim di Zaman ini), sebanding dengan Khalifah Turki Utsmaniyah, Sultan Abdul Hamid II di akhir abad ke-19 M.

Sebaliknya, umat Islam dunia mencemooh para pemimpin negara-negara Arab—terutama para pemimpin Saudi Arabia dan Mesir—yang merestui aksi barbar Zionis-Israel menyerang warga Gaza. Bukan rahasia lagi jika para pemimpin Mesir dan Saudi lebih bersahabat dengan faksi Fatah pimpinan Mahmoud Abbas, yang di kalangan rakyat Palestina di kenal dengan sebutan Pelayan Zionis-Israel dan memusuhi HAMAS yang berjuang untuk memerdekaan Palestina dari penjajahan Israel.

Kepulangan Erdogan dari Swiss disambut gegap-gempita rakyatnya. Semangat pembelaan terhadap Palestina bertambah kuat tertanam di dada rakat Turki. Sebuah acara penggalangan dana yang diselenggarakan hanya beberapa hari setelah "insiden Davos", dalam waktu hanya tiga jam berhasil mengumpulkan 750.000 Euro atau sekira 12 miliar Rupiah!

Sikap penuh harga diri seorang Recep Tayyip Erdogan tidaklah muncul begitu saja. Ada proses yang cukup panjang dan istiqomah, baik dalam kehidupan pribadinya dan juga perjalanan politiknya.

Pelajaran Dari Turki Bagi Indonesia

Menurut banyak pengamat politik, naiknya popularitas tokoh dan partai politik berbasiskan massa Islam di Turki sesungguhnya merupakan akibat dari kegagalan sistem sekularisme yang diciptakan oleh Rezim Jenderal Mustafa Kemal. Rakyat Turki yang semula mengelu-elukan Mustafa Kemal dan para pendukungnya menjadi apatis dan anti ketika selama bertahun-tahun para pemimpin sekuler ini berkuasa ternyata tidak berhasil membawa kemakmuran bagi bangsanya. Mereka malah tumbuh menjadi segelintir elit penguasa yang kian hari kian kaya raya dan menciptakan jurang sosial ekonomi yang teramat dalam.

Dalam masa-masa "penuh mara bahaya", di mana tentara akan siap menyerbu siapa saja yang berani meneriakkan slogan syariat Islam di Turki, maka para tokoh umat Islam di Turki mengambil strategi perjuangan dengan moto "Silent is Golden". Mereka tidak mengembar-gemborkan diri sebagai kelompok yang akan memperjuangkan syariat Islam, tidak mengaku sebagai pihak yang paling suci, tidak mengklaim sebagai kelompok yang paling bersih, dan sebagainya, namun melakukan semua itu dalam kehidupan ril, baik dalam kehidupan keluarga atau pun dalam kehidupan berpolitiknya.

Disebabkan cara hidupnya yang sederhana dan berpihak pada kaum mustadh'afin, Erdogan dianggap sebagai pembela kaum tertindas. Saat menjabat sebagai Walikota Istanbul, Erdogan merupakan politisi pertama yang memelihara dan menyantuni orang-orang cacat saat pemerintah Kemalis tak memiliki kepedulian terhadap mereka. Dia memberikan berbagai keistimewaan dan pelayanan tulus bagi orang-orang cacat berupa mobil-mobil khusus, pembagian kursi-kursi roda. Bahkan Erdogan-lah ketua partai pertama dalam sejarah Turki modern yang berani mencalonkan orang cacat (Luqman Ayyo) duduk di parlemen.

Selain itu, Erdogan juga merupakan tokoh yang paling sering memberikan bantuan sosial berupa pakaian, makanan, dan uang kepada fakir miskin saat menjadi walikota. Dalam berbagai kesempatan, Erdogan turun sendiri ke lapangan untuk melakukan pembagian santunan ini dengan tulus, bukan sekadar seremonial. Dengan mengenakan seragam pekerja yang kasar dan mengendarai mobil yang biasa, Erdogan turun ke jalan memotivasi para pekerja jalanan agar bisa membersihkan kota Istanbul dari segala keruwetan yang ada. Sebab itu, selama pemerintahannya, kota Istanbul menjadi kota yang bersih dan indah karena operasi bersih dengan serius digalakkan. Erdogan bukan hanya menyuruh para pekerja untuk lebih giat bekerja, namun dengan penuh empati dia menaikkan gaji pembersih jalan serta memberi mereka fasilitas-fasilitas kesehatan dan jaring sosial. Ini ampuh memotivasi mereka agar bekerja lebih tekun.

Di bawah kepemimpinan Erdogan, kota Istanbul yang semua memiliki utang sebesar 2miliar dollar AS dan nyaris bangkrut, dengan cepat bisa mengatasi itu semua dan mengubah menjadi sebuah kota yang meraih laba dan tertata dengan baik demi kemaslahatan rakyatnya.

Seorang Erdogan juga sangat menghormati semua orang. Bukan dengan sikap yang dibuat-buat, namun keluar dari hati yang tulus dan bersih. Hampir dalam setiap pertemuan, ia berusaha menyalami hadirin satu persatu, bahkan dia konon tidak pernah absen melayat kematian siapa saja orang Turki yang ia dengar beritanya.

Sebab itulah, rakyat Turki sangat mencintai Erdogan, tanpa Erdogan harus mengkampanyekan diri dan partai politiknya dengan menghambur-hamburkan dana umat yang ada, seperti yang diperbuat oleh partai-partai dan tokoh-tokoh Kemalis. Di bawah kepemimpinan PM Erdogan, Turki menjadi negeri yang sangat kuat di berbagai bidang. Bahkan Zionis-Israel pun dibuatnya bergantung secara ekonomi olehnya. "Kerja keras Erdogan telah menjadikan ekonomi bangkit dari keterpurukan. pertumbuhan ekonimi sangat tinggi , inflasi turun drastis sampai 20%, menurunkan suku bunga hingga 40%, menaikkan nilai mata uang lira sampai 30%, menaikkan ekspor sampai 30%." (Republika,6/4/2004).

Apakabar Indonesia? Rakyat Indonesia sesungguhnya telah paham jika sisten sekularisme yang diusung pemerintah negeri ini dari zaman Soekarno, Jenderal Harto, sampai dengan para pewarisnya sekarang ini telah gagal total. Hanya saja, sampai saat ini belum ada tokoh yang tampil dengan bersih dan penuh keteladanan. Yang ada baru sebatas klaim di mulut. Kita disini sering mendengar betapa pejabat dan tokoh umat menyerukan agar rakyat hidup sederhana, namun mereka sendiri hidup dalam harta yang berlimpah, entah darimana asalnya. Sebab itu, dalam Pemilu 2009 sekarang, semua partai politik, semua tokoh, berlomba-lomba berkampanye untuk bisa menipu rakyat sebanyak-banyaknya. Padahal, jika saja mereka selama ini hidup bersih, lurus, dan berani melawan kezaliman dengan tegas, maka rayat Indonesia akan memilihnya tanpa mereka harus berkampanye sekali pun!

Kampanye besar-besaran menandakan jika mereka sesungguhnya asing dan jauh dari realitas kehidupan rakyatnya sendiri, walau mereka banyak mengklaim sebagai pembela wong cilik atau pembela umat. Ini adalah fakta. (Tamat/rd/ eramuslim.com)




Monday, March 2, 2009

AK-47 HAMAS Mampu Menghancurkan Tank Zionis

















Banyak kisah ajaib yang tersisa dari Tanah Suci Palestina setelah pasukan Zionis-Israel menderita kekalahan luar biasa, pertengahan Januari lalu.

Ahad kemarin (1/3), Eramuslim bertemu dengan seorang dokter dari sebuah LSM kesehatan di Indonesia yang berhasil menembus kota Gaza akhir Desember 2008 hingga pertengahan Januari 2009.

Dalam pertemuan yang dilakukan di Bogor, dokter tersebut mengisahkan banyak sekali kejadian-kejadian yang tidak masuk dalam akal manusia namun sungguh-sungguh terjadi, di mana dengan senjata seadanya, HAMAS mampu mengalahkan pasukan Israeli Defenses Forces (IDF) yang konon dianggap sebagai pasukan paling hebat di dunia mengalahkan SAS Inggris dan Korps Marinir Amerika Serikat. Hal ini kian memperkuat keyakinan jika Allah SWT berada di belakang HAMAS. Dan tentu saja, Iblis berada di belakang Zionis-Israel.

Beberapa kejadian tersebut adalah:

Penarikan mundur Brigade Golani—kesatuan elit AD tentara Zionis-Israel—dari seluruh wilayah Jalur Gaza pertengahan Januari lalu, menurut keterangan resmi mereka, adalah untuk menghormati acara pelantikan presiden AS terpilih Barack Obama, 20 Januari 2009.

Namun klaim mereka ini tentu tidak benar. Yang benar adalah, penarikan mundur seluruh pasukan Zionis-Israel dari Jalur Gaza disebabkan mereka sungguh-sungguh menderita kekalahan yang amat telak saat bertempur berhadap-hadapan melawan HAMAS dan faksi-faksi perlawanan di Jalur Gaza lainnya.

“Dalam penyerangan darat ke Jalur Gaza kemarin, tentara Zionis mengerahkan ribuan tank Merkava terbarunya, hasil updating dari pengalaman tempur melawan Hizbullah di Lebanon selatan tahun 2006 lalu. Tank-tank Merkava tersebut telah dimodifikasi dan diberi penambahan kekuatan di sana-sini, kinerjanya dipercanggih, material pelindungnya dipertebal, dan kelincahan manuvernya juga ditingkatkan.

Zionis-Israel mengklaim bahwa Tank Merkava yang mereka kirim ke Jalur Gaza merupakan prototipe tank terbaik dan tercanggih di seluruh dunia saat ini,” ujar dokter tersebut.


















“Namun apa daya, tank-tank super canggih tersebut ternyata banyak yang berhasil dihancurkan oleh para pejuang HAMAS. Agar hal tersebut tidak tersiar ke luar Gaza, batalyon Zeni Angkatan Darat Israel diperintahkan untuk melakukan pembersihan.

Semua puing-puing tank Merkava Israel diambil kembali dan dibawa ke tanah pendudukan, tanpa kecuali. Mungkin hanya bagian-bagain rantai yang kecil yang tertinggal.

Dan yang membuat Zionis-Israel tidak habis pikir, yang menghancurkan tank-tank super canggih milik mereka ternyata bukanlah rudal hebat atau senjata super, melainkan hanya letusan senjata serbu AK-47 milik pejuang HAMAS, yang itu pun hanya memakai peluru standar kaliber 7,62 x 39 mm. Kenyataan ini benar-benar membuat para petinggi militer Israel kalang-kabut,” tambahnya.

Percaya atau tidak itulah kejadian sesungguhnya dari Bumi Jihad Palestina.













Mengenai kekuatan pejuang HAMAS dan faksi-faksi lainnya di Jalur Gaza, dokter tersebut juga menyatakan jika militansi pejuang perlawanan di Jalur Gaza sangat hebat.

“Disiplin mereka sangat dahsyat. Seorang sniper HAMAS sanggup berhari-hari tahan mengunci target, dalam posisi siap tembak, hanya dibekali sebungkus makanan dan sebotol air minum. Banyak dari mereka yang berpuasa berhari-hari dan itu malah memperkuat fisik mereka. Mungkin jika saya tidak melihat langsung hal itu saya tidak akan pernah bisa percaya. Tapi inilah kenyataannya, sehingga saya haqqul yaqin jika para pejuang HAMAS, dan juga pejuang-pejuang Allah di Jalur Gaza lainnya, adalah tentara-tentara yang tidak mungkin bisa dikalahkan. Mereka memiliki skill dan ketahanan fisik yang sangat terlatih, kuat, tabah, ditambah dengan tingkat keimanan yang sangat tinggi. Allahu Akbar!”




Tuesday, February 17, 2009

Alasan HAMAS Memenangkan Perang Gaza


Oleh-Oleh Ust. Hilmi Aminudin dari Palestina:

Sadarkah antum bahwa berita yang kita dapatkan dalam siaran berita di televisi
maupun lembaran koran seluruh dunia seputar perang Gaza rata-rata
banyak sekali
yang mengekspos penderitaan bangsa Palestina. Di sisi lain sering kali kita
perhatikan ditampilkannya kabar bahwa seolah-olah Israel telah berhasil menang
dalam peperangan yang mereka kobarkan di Gaza. Kita berhusnudzan, barangkali
apa yang dilakukan media adalah cara mereka dalam memberi dukungan bagi rakyat
Palestina. Semakin nampak penderitaan bangsa Palestina di hadapan dunia, maka
otomatis akan semakin membangkitkan semangat pembelaan bagi rakyat Palestina.

Namun nampaknya jarang sekali kita dengar kabar yang menggembirakan
atas bangsa
Palestina selama perang 22 hari di Gaza. Tahukah antum bahwa ternyata banyak
sekali Allah turunkan pertolongan- Nya bagi rakyat Palestina selama perang 22
hari itu. Apa yang akan saya ceritakan berikut tidak banyak diekspos oleh
media. Entah kenapa, atau mungkin karena apa yang mereka dapatkan
bukan berasal
dari sumber utama para tentara pejuang kemerdekaan Palestina (brigade izzudin
al-qassam dan HAMAS).Â

Dalam salah satu acara malam penggalangan dana untuk Palestina, Ust. Hilmi
Aminudin bercerita tentang pengalaman beliau ketika mengantarkan
rombongan para
penyalur bantuan dari rakyat Indonesia langsung ke pemerintah HAMAS di
Palestina. Alhamdulillah saya beruntung dapat mendengarkan cerita
beliau secara
langsung, dan kemudian saya ceritakan kembali pada teman-teman semua.Â

Selama kunjungannya di Palestina, Ust. Hilmi disambut langsung oleh para
petinggi HAMAS. Beliau disambut di perbatasan Raffah-Mesir. Beliau beserta
rombongan tidak diizinkan masuk ke Gaza oleh pemerintah Mesir dengan alasan
keamanan. Oleh karena itu, para petinggi HAMAS tersebut yang akhirnya
menghampiri perbatasan untuk melakukan dialog.

Ust. Hilmi beserta rombongan
pada waktu itu membawa dana segar hasil pengumpulan dana dalam demonstrasi-
demonstrasi yang dilakukan bangsa Indonesia selama agresi Israel berlangsung.
Alhamdulillah, total dana yang diberikan adalah sebesar 2 juta US dollar.

Seolah sambil sedikit bercanda, Ust. Hilmi mengatakan bahwa uang yang
terkumpul tersebut merupakan infaknya 'minal fukhoro wal masakin' (infaknya
orang-orang fakir dan miskin). Maksudnya tentu bukan merendahkan yang memberikan
infak itu.
Melainkan memberi gambaran bahwa jika uang yang dikumpulkan dari hasil
demontrasi jalanan saja bisa sampai terkumpul 2 juta dollar, maka apalagi jika
sudah melibatkan para agnia dan pengusaha? InsyaAllah dijamin jumlahnya akan
berlipat lebih besar lagi.Â

Dalam dialog yang berlangsung bersama para pemimpin HAMAS tersebut, Ust. Hilmi
banyak mendapatkan cerita kondisi yang sebenarnya dialami oleh para
tentara al-qassam. Subhanallah. .. ternyata Allah telah banyak menurunkan pertolongan dan lindungan-Nya selama perang berlangsung. Sangat banyak hal yang secara akal
tidak lah mungkin terjadi. Pertama, secara kesenjataan, sudah sangat jelas
bahwa perbandingan kekuatan persenjataan antara HAMAS dan Israel
sangatlah jauh berbeda.

Dalam sistem pertahanan kesenjataan, Israel menempati urutan keempat
di dunia setelah Amerika Serikat, China, dan Inggris. Ini pun masih belum
termasuk dengan bantuan militer yang diberikan Amerika Serikat untuk mendukung
persenjataan selama perang Gaza.

Menurut salah satu sumber, disebutkan bahwa
untuk perang Gaza, Amerika telah menyuplai persenjataan sebanyak lebih dari
60.000 ton. Bantuan itu dikirim dalam ratusan buah kontainer besar. Bantuan
senjata ini dipercaya sebagai suplai senjata yang terbesar sepanjang sejarah
persekongkolan Amerika-Israel. . .

Maka coba bandingkanlah dengan HAMAS hanya
mempersenjatai diri mereka dengan roket-roket berdaya jelajah menengah dengan
daya rusak yang tidak terlalu besar. Kedua, jika dilihat dari besarnya
pasukan,
HAMAS hanya memiliki sekitar 15.000 personil. Sedangkan Israel
memiliki 130.000
tentara aktif dan lebih dari 400.000 tentara cadangan. Ketiga, dari segi medan
pertempuran, Gaza adalah kota yang terisolir. Sekelilingnya dibatasi oleh
tembok-tembok blokade sepanjang lebih dari 750 KM dengan tinggi 8
meter, dan di
setiap 10 meternya telah siap tentara Israel di atas pos blokade yang siap
menembak mati siapapun warga Palestina yang mencoba mendekati tembok blokade
tersebut. Segala hal hampir membuat tidak masuk akal bagi pejuang Palestina
untuk memenangkan pertempuran.

Beberapa hari ke belakang kita menyaksikan sama-sama berita yang menceritakan
aksi perayaan kemenangan yang dilakukan warga Palestina baik yang di
jalur Gaza
maupun di tepi Barat. Bagi sebagian orang barangkali merasa heran, kemenangan
macam apakah itu? Bukankah sudah lebih dari 1.200 orang menemui syahid, 5.000
lebih orang luka-luka, 13 masjid dibom, ribuan rumah hancur, jalan dan sarana
publik hancur total. Apakah ini yang disebut dengan kemenangan? hal ini lah
yang tidak kita ketahui kebenaran yang sesungguhnya.

Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat Palestina memenangkan pertempuran.
Para petinggi HAMAS itu bercerita, sebenarnya serangan yang dilakukan Israel
awalnya direncakan hanya dalam 3 hari saja. Pertama kali mereka menyerang
melalui serangan udara pada tanggal 27 Desember 2008, seharusnya menurut
pemikiran mereka, akan dapat menguasai sepenuhnya Gaza dalam waktu tiga hari
saja (29 desember 2008). Mereka berencana hanya akan melakukan serangan udara
selama 3 hari, tanpa serangan darat, lalu pada tanggal 30-31 Desember 2008
mereka akan melakukan persiapan perayaan kemenangan dan perayaan tahun baru di
Gaza.

Dikabarkan juga pada akhir tahun 2008 tersebut, sebagian tamu undangan
yang rencananya akan menghadiri perayaan kemenangan Israel atas Gaza sudah
bersiap di perbatasan untuk selanjutnya dapat memasuki Gaza. Tapi ternyata apa
yang mereka dapatkan sangat jauh dari apa yang mereka bayangkan.

Justru
perlawanan yang sangat sengit dari pejuang HAMAS lah yang mereka dapatkan. Hal
ini akhirnya memaksa zionis Israel untuk melakukan serangkaian serangan
sporadis ke seluruh target. Pertempuran yang awalnya hanya diperkirakan akan
dimenangkan Israel dalam waktu tiga hari, ternyata meleset sangat jauh dari
target.

Setelah perang melewati 10 hari serangan, tentara Israel mulai kehilangan
konsentrasi dan fokus serangan. Sehingga serangan yang awalnya ditargetkan
untuk menghancurkan basis-basis perlawanan HAMAS, akhirnya mulai berubah
menjadi target rakyat sipil. Tentara Israel mulai kehilangan arah sasaran.
Mereka tidak tahu lagi target mana yang harus mereka hancurkan. Dan ternyata,
target-target bangunan yang Israel klaim di media merupakan basis HAMAS, pada
kenyataannya itu tidak lain hanyalah bangunan yang kosong tidak berpenghuni,
atau bahkan malah target fasilitas publik dan sipil. Jika kita perhatikan
berita di media asing, Israel selalu berkilah bahwa target sipil yang mereka
hancurkan itu karena HAMAS sering menjadikan tempat-tempat macam itu sebagai
tempat perlindungan dan gudang persenjataan. Padahal yang sebenarnya itu
dilakukan Israel tidak lain hanya karena sudah bingung dan tidak tahu lagi
target serangan.

Kemudian salah satu pejabat HAMAS tersebut melanjutkan ceritanya kepada Ust.
Hilmi. Beliau menambahkan, bahwa ternyata pihak Israel sebelumnya telah
mempersiapkan pasukan elite mereka untuk berlatih sebelum serangan dilakukan.
Jadi apa yang mereka lakukan itu tentunya bukan dilakukan dengan spontan,
melainkan sudah melalui perencanaan yang matang. Para pasukan khusus itu
dilatih di sebuah tempat yang kondisinya dibuat persis sama seperti keadaan di
kota Gaza. Mulai dari bangunan, jalan-jalan, bahkan sampai gang-gang sempit,
semuanya dibuat mirip seperti kota Gaza. Ini diharapkan ketika mereka
melakukan
serangan darat, maka sudah dapat mengetahui medan pertempuran dengan sebaik-
baiknya. Tetapi ternyata apa yang mereka dapatkan setelah terjun langsung ke
medan pertempuran yang sebenarnya? Ternyata apa yang mereka dapatkan sungguh
berbeda menurut pandangan mereka. Target yang awalnya sudah mereka rencanakan
dan dicurigai merupakan tempat persembunyian tentara pejuang Palestina
ternyata
tidak pernah mereka temukan. Ketika mereka masuk ke bangunan atau rumah yang
awalnya mereka curigai sebagai markas, ternyata tidak lain hanyalah sebuah
rumah biasa milik penduduk sipil.

Barangkali kita bertanya-bertanya dalam benak kita semua. Bagaimana mungkin
HAMAS tetap bisa menggalang kekuatan. Padahal sekeliling kota Gaza sudah
diblokade dengan tembok-tembok raksasa dan pos penjagaan di tiap perbatasan.
Dari mana mereka mendapatkan suplai untuk persenjataan mereka? Di luar dugaan,
ternyata roket-roket yang dibuat HAMAS itu terbuat dari barang-barang bekas.
Rangka roketnya terbuat dari bekas tiang listrik, kabel-kabel sambungan
detonatornya terbuat dari kabel yang ada di rumah-rumah warga, bahan bakar
roketnya terbuat dari gula, dan hulu ledaknya terbuat dari kimia
sederhana yang
mereka racik sedemikian rupa. Selain itu, suplai bahan baku senjata
juga mereka
dapatkan melalui ratusan terowongan yang mereka buat yang melintasi
perbatasan.
Israel mengklaim bahwa mereka telah berhasil menghancurkan banyak terowongan
yang sering dimanfaatkan warga Gaza untuk transfer barang dari dan ke kota
Gaza. Tetapi yang perlu kita ketahui adalah ternyata apa yang berhasil Israel
hancurkan itu hanya 200 terowongan dari total terowongan yang berjumlah 800
buah. Jadi setidaknya masih ada 600 terowongan yang tersisa dan belum hancur.
Adapun terowongan yang sudah hancur tersebut, pihak HAMAS menyebutkan bahwa
mereka akan selesai memperbaikinya kembali hanya dalam 3 bulan.

Secara fisik, mungkin HAMAS lah yang paling banyak menderita kerugian. Namun
ini sama sekali bukanlah indikasi kekalahan HAMAS. Justru Israel lah yang
kalah! Betapa tidak, HAMAS telah membuat perlawanan yang sangat sengit
sehingga
Israel melewati target lama pertempuran yang telah direncanakan, dan akhirnya
mundur dari Gaza tanpa syarat apa pun. Ingat... tanpa syarat apapun!!! Justru
pihak Israel lah yang pertama kali mengumumkan gencatan senjata sepihak,
sementara pada saat itu HAMAS sama sekali menolak gencatan senjata dan terus
memberi perlawanan. Bahkan menurut kabar, lima menit sebelum Israel
mengumumkan
gencatan senjata, HAMAS masih meluncurkan roketnya ke wilayah Israel. Secara
tersirat, HAMAS seolah ingin memberikan ancaman pada Israel bahwa perlawanan
mereka tidak pernah berhenti sedikit pun dan kondisi persenjataan mereka masih
dalam kondisi prima. Perlu ditambahkan juga bahwa selama perang Gaza, HAMAS
telah meluncurkan sekitar 900 roket, dan itu tidak lebih hanya 1 % dari total
jumlah roket yang mereka miliki.

Lebih jauh lagi, salah satu pejabat HAMAS tersebut menyampaikan bahwa mereka
sama sekali tidak membutuhkan kiriman pasukan mujahid dari negara mana pun.
Beliau mengatakan, "kami hanya kehilangan 48 orang mujahid selama perang
berlangsung, dan masih punya belasan ribu pasukan yang lain." Melalui Ust.
Hilmi, para pejuang HAMAS ingin mengucapkan rasa terimakasih dan rasa bangga
yang sebesar-besarnya atas apa yang telah diupayakan rakyat Indonesia. HAMAS
berharap bahwa kalaupun ada yang ingin memberikan bantuannya kepada Palestina,
maka berikanlah bantuan itu dalam wujud bantuan kemanusiaan berupa makanan,
minuman, obat-obatan, pakaian, atau uang tunai. Karena sesungguhnya itu yang
lebih mereka butuhkan daripada mengirimkan bantuan pasukan jihad.Â

InsyaAllah.. . apa yang telah kita upayakan bersama ini untuk membantu rakyat
Palestina bukanlah yang terakhir kali. Masih akan datang lagi bantuan-bantuan
berikutnya. Pendistribusian bantuan yang dilakukan secara bertahap dan tidak
sekaligus memang bukan tanpa alasan. Ini dikarenakan pemerintah Mesir yang
berbatasan langsung dengan Gaza tidak mau untuk memberikan izin masuk
Gaza jika
dilakukan secara besar-besaran. . Salah satu pihak pejabat Mesir
mengatakan bahwa
mereka tidak mau ambil risiko dengan pihak Israel. Sehingga hal ini membuat
kita untuk secara bertahap dan sedikit-sedikit dalam menyalurkan bantuan ke
Gaza. Barangkali perlu juga menjadi catatan bagi kita, bahwa ternyata
aksi-aksi
yang kita lakukan selama ini ternyata adalah aksi terbesar di selurh dunia. Di
saat saudara-saudara kita di belahan dunia lain harus dikejar-kejar polisi dan
dijaga ribuan aparat setiap melakukan aksi solidaritas, lain halnya dengan apa
yang kita lakukan di Indonesia. Semangat pembelaan terhadap bangsa Palestina
harus terus kita gelorakan di bumi manapun kita berada. Jangan pernah berhenti
hingga yahudi laknatullah itu pergi dari bumi jajahan mereka, dan Palestina
terbebaskan sepenuhnya dari cengkraman yahudi. Allahu akbar!!!




Tuesday, February 3, 2009

Israel "Khawatir' Sikap Tegas Erdogan

Kasus ributnya Recep Tayep Erdogan dengan Shimon Perez bikin ketar-ketir Israel. Simak sikap khawatir Israel pada Turki

Hidayatullah.com--Sikap tegas Perdana Menteri Turki Recep Tayep Erdogan Walkoutyang melakukan aksi walk out dari forum ekonomi dunia yang digelar di kota wisata Davos, Swiss, beberapa hari kemarin rupanya banyak membuat pihak "ketar-ketir".

Sikap tegas Erdogan tersebut terhitung sebagai reaksi keras atas pernyataan Presiden Israel Shimon Perez yang mengemukakan pledoinya terkait penyerangan brutal Israel atas Gaza. Sikap Erdogan itu juga terbilang sebagai bentuk protes kepada forum yang hanya memberinya waktu berbicara separuh lebih sedikit dari yang diberikan kepada Perez. Erdogan bahkan mengancam tidak akan datang ke forum Davos lagi.

Atas sikap tegas tersebut, negara-negara Arab, yang seharusnya memiliki sikap seperti Turki, bahkan dibuat "malu dan kehilangan muka", sementara negara-negara Barat dijadikannya "terperanjat", dan Israel dibuatnya "sungkan".

Sebagaimana diketahui, Israel, negara yang memiliki hubungan diplomatik istimewa dengan Turki sejak setahun berdirinya negara Zionis itu pun tampak bersikap "sungkan" atas sikap yang diambil Erdogan.

Beberapa jam setelah usainya KTT Davos, dan setelah Erdogan tiba di Istanbul, Presiden Perez segera menelpon Erdogan untuk meluruskan duduk perkara dan meminta maaf.

Berikut ini adalah transkip percakapan antara Perez dan Erdogan yang banyak dimuat di koran-koran Turki dan Timur Tengah lainnya. Dalam percakapan tersebut, tampak jelas jika Perez meminta maaf kepada Erdogan jika ia telah membuat perdana menteri Turki itu bereaksi keras.

Perez: "Hal seperti ini kerap kali terjadi di antara sahabat. Saya merasa menyesal dan meminta maaf atas apa yang terjadi. Sebelum segala sesuatu yang lain, saya ingin menegaskan jika penghormatan saya dan penghargaan saya kepada Repulik Turki, juga kepada anda sebagai Perdana Menteri Turki, sejatinya tidak berubah di waktu kapan pun."

Erdogan: "Ya, perdebatan antara sahabat adalah hal yang wajar terjadi. Tetapi, satu hal yang tidak patut diterima adalah ketika sahabat tersebut meninggikan suaranya dalam sebuah forum dunia sambil menatap tajam ke arah Perdana Menteri Turki, seakan-akan ia [PM Turki] adalah kepala sebuah klan."

Perez: "Saya meninggikan suara saya karena kawan-kawan saya selalu bilang jika suara saya terdengar samar, dan mereka akhirnya tidak memahami apa yang saya katakan. Tidak ada hubungannya saya meninggikan suara saya dengan sikap saya atas Perdana Menteri Turki. Ya, saya merasa sedih atas apa yang terjadi hari ini."

Erdogan: "Saya mendengar anda akan menggelar jumpa pers?"

Perez: "Tidak hari ini, tetapi besok"

Errdogan: "Jika engkau dapat berbicara pada jumpa pers untuk menjelaskan perasaan yang engkau rasakan sekarang, maka saya pastikan jika nanti ketegangan ini akan semakin mengurang."

Perez: "Ya, saya pasti akan sampaikan itu kepada media."

Erdogan: "Terimakasih banyak atas telpon anda."

Perez: "Sama-sama. Saya juga mengucapkan terimakasih. Saya berharap perjalanan anda menyenangkan."

Dalam jumpa pers yang digelar keesokan harinya, Perez menyatakan kepada media bahwa Israel tidak menghendaki adanya ketegangan dan juga berkelanjutannya masalah yang lebih jauh dengan Turki. Perez juga berharap apa yang terjadi di Davos tidak mempengaruhi hubungan Israel dan Turki.

Perez juga menambahkan, jika negaranya tidak ingin memiliki masalah dengan Turki, karena sejatinya Israel hanya bermasalah dengan Palestina.

Aksi Walkout

Sebelumnya, di seminar tentang "Perdamaian Gaza" yang digelar di sela-sela KTT Davos pada Kamis (29/1) kemarin, Perez, yang duduk tepat di samping kiri Erdogan, berbicara sekitar setengah jam mengenai alasan dan "pembelaan diri" Israel yang menyerang Gaza. Perez menyatakan jika serangan teror yang terus dilakukan Hamas adalah penyebab utama kenapa Israel pada akhirnya memutuskan untuk menyerbu Gaza.

"Hamas terus menembakkan roket-roket ke pemukiman Israel. Sebab itulah pada akhirnya Israel memutuskan untuk menyerang Gaza, markas Hamas," ungkap Perez dengan nada berapi-api.

Saat mengemukakan pernyataannya, Perez berbicara dengan nada tinggi, juga beberapa kali menatap wajah dan mata PM Turki yang duduk tepat di samping kanannya.

Ketika giliran berbicara tiba pada Erdogan, PM Turki tersebut menanggapi pernyataan Peres dengan tanggapan yang tak kalah tegas, namun tetap dengan nada bicara yang kalem.

"Simon Perez ini sudah berusia tua, tetapi nada bicaranya tinggi. Saya tidak akan demikian, saya akan tetap berbicara dengan memakai etika," kata Erdogan.

"Masih jelas dalam ingatan saya, akan anak-anak kecil Gaza yang dibunuh Israel di tepi pantai. Saya masih ingat, berapa jumlah orang-orang yang anda bunuh di Gaza," tambah Erdogan seraya menatap wajah Perez.

Erdogan pun kembali melanjutkan tanggapannya. Kali ini ia menujukan pernyataannya kepada peserta sidang. "Dan, kalian semua mengetahui dengan jelas perbuatan Israel yang dengan tega telah membantai nyawa anak-anak dan perempuan."

Namun, baru 10 menit Erdogan mengemukakan pernyataannya, moderator sidang segera memotong dan menyatakan jika waktu Erdogan telah habis. Erdogan pun segera bangkit dari duduknya, ia mengemasi kertas-kertasnya, lalu segera beranjak meninggalkan kursi sebagai bentuk protes.

"Terimakasih telah memberikan kesempatan berbicara kepada saya. Saya telah berbicara separuh waktu saja dari waktu yang kalian berikan untuk Perez," kata Erdogan dengan nada marah.

"Ya, saya putuskan untuk tidak akan menghadiri lagi KTT ini," pungkasnya seraya beranjak.

Selepas keluar dari ruangan sidang, Erdogan segera bertolak ke Istanbul. Sementara itu, di dalam negeri, kepulangan Erdogan pun disambut oleh ribuan rakyat Turki. Mereka pun mengelu-elukan Erdogan sebagai pahlawan. Beberapa tokoh Timur Tengah, seperti pemimpin Hamas Palestina, pemimpin Gerakan Anti-Zionisme di Yordania, juga Presiden Iran memuji sikap berani Erdogan.

Turki kekuatan Islam masa depan yang mulai diperhitungkan Israel. Tapi tak banyak Negara Arab menjadikan pelajaran berharga

Ketika Erdogan berani mengambil sikap tegas dan memperlihatkannya kepada publik dunia, justru Sekjen Liga Negara-Negara Arab (Jami'ah ad-Duwal al-'Arabiyyah), Amrou Musa, yang sejatinya menjadi wakil dari negara-negara Arab dalam pertemuan tersebut dan juga duduk dekat dengan Erdogan tampak "diam-diam" saja.

Saat Erdogan beranjak dari kursi duduknya, Musa menyalami Erdogan, namun setelah itu Musa tampak "kebingungan" dan akhirnya duduk manis kembali. Saat berbicara pun, Musa sama sekali tidak menunjukan sikap tegasnya kepada Isarel dan dunia.

Situs Islam internasional yang mengudara dari London, Islamonline (31/1) menyebut jika apa yang dilakukan Erdogan adalah pelajaran (darsan) berharga sekaligus tamparan telak untuk negara-negara Arab.

Bagaimana pun Turki bukanlah ras Arab. Turki sangat jauh berbeda dengan Arab, baik dari asal-usul ras, bahasa, bangsa, dan budaya. Yang mempertalikan antara keduanya adalah agama Islam. 99 % penduduk Turki adalah Muslim, disamping pada masa keemasan kekhalifahan Utsmani dulu, Turki pernah menguasai seluruh wilayah Arab, mulai dari Afrika Urtara, Mesir, Syam, Semenanjung Arabia, hingga Iraq.

Kekuatan Masa Depan

Banyak pengamat politik memprediksi jika kebangkitan Islam akan bermula dari Turki, Iran (Persia), dan Asia Timur, dan justru bukan dari Arab.

Selepas tahun 2000, dan setelah kubu Islam Moderat (AK Partai) menguasai pemerintahan dengan Recep Tayep Erdogan dan Abdullah Gul sebagai ikonnya, lambat laun Turki mengalami kemajuan yang terbilang pesat di segala bidang, utamanya ekonomi, diplomasi, politik, dan tentu pendidikan.

Pengaruh Turki tampak mengangkangi dua dunia dan merambah menuju dua arah, yaitu Eropa dan Timur Tengah. Faktor geografis dan sejarah jelas sangat mempengaruhi potensi tersebut. Turki terletak di antara Eropa dan Asia, antara Barat dan Timur Tengah, antara Kristen dan Islam.

Selain itu, Turki juga menjadi pewaris utama kekhalifahan Islam Utsmaniyyah yang pernah menjadi legenda selama beberapa abad lamanya (tercatat berdiri di abad ke-13 M dan rubuh di abad ke-20 M).

Kekhalifahan Utsmani memiliki wilayah kekuasaan yang luas, mulai dari Balkan (Eropa Tenggara), Eropa Timur, Afrika Utara, Mesir, Nubia, Syam (Levantina, sekarang meliputi Syria, Lebanon, Yordania dan Palestina), Semenanjung Arabia (sekarang meliputi Saudi, Yaman, Bahrain, Qatar, Oman, dan UEA), dan juga Iraq.

Hingga saat ini, Turki menjadi mitra utama Uni Eropa dan terus dalam proses untuk menjadi anggota tetap Persatuan Negara-Negara Eropa pengguna Euro itu. Terkait beberapa kasus Eropa dengan Timur Tengah, Turki kerap menjadi penengah antara kedua belah pihak.

Sementara itu, di Timur Tengah, di negara-negara Arab, Turki mampu memainkan peranan yang cukup signifikan, terlebih antara keduanya memiliki pertalian keagamaan yang erat, yaitu Islam.

Dari segudang potensi dan pengalaman yang kaya yang dimiliki Turki, pada akhirnya Turki menjelma menjadi sosok negara Muslim yang unik, yang mampu memadukan unsur kemodernan dan kemajuan Eropa dengan unsur ketimuran Islam.

Maka tidaklah berlebihan, jika para pengamat politik internasional memprediksikan Turki, utamanya selepas dipimpin Erdogan dan Gul, sebagai kekuatan Islam masa depan yang, bukan sekedar diperhitungkan, tetapi juga cukup meyakinkan.




Thursday, January 22, 2009

Zionis-Israel dan Tanda Akhir Zaman

Oleh Fauzan Al-Anshari *


Mustahil mengharap mereka mau menghargai!, bila tidak bisa menghargai diri sendiri

“Ya Allah, tolonglah saudara kami muslim Palestina. Saudara-saudara kami dibantai dan kami hanya bisa demo. Aku malu Ya Allah!

SAMPAI hari ini, korban tewas pembantaian warga Muslim di Jalur Gaza hampir mencapai 1000 orang. Sedang korban luka hampir 4000 orang. Meski semua orang menangis dan mengecam, Zionis-Israel, dengan dukungan Amerika tak bertindak apa-apa. Janganlah berharap Amerika memberi sanksi. Bahkan sekedar mengecam saja, tak akan dilakukan. Bandingkanlah, andai kata yang melakukan ini adalah kaum Muslim. Mungkin, semua pesawat tempur dan pasukan Amerika sudah langsung menyerbu. Lihat kasus invasi Iraq dan Afghanistan.

Pengabaian dunia terhadap pembantaian massal (genosida) yang secara terang-terangan ini adalah sebuah pemandangan paling memuakkan dan memalukan.

Bahkan, Shlomo Ben Ami, mantan Menlu Israel dalam artikel di Jakarta Post (entah apa maksud koran ini yang justru memberi fasilitas suara penjajah ketika itu) justru seolah melegalkan aksi-aksi pembantaian dan pembunuhan massal yang dilakuan Israel tersebut.


Mereka Ingin Membunuh 'Teroris'


Mengapa Yahudi Mengincar Bocah-Bocah Palestina?

Pertanyaannya, mengapa semua ini terjadi? Mengapa Amerika dan dunia Barat yang selama ini paling sering menjadikan HAM dan demokrasi tiba-tiba menelan ludah mereka sendiri ketika Israel melawan nilai-nilai HAM dan demokrasi?

Mengapa ini bisa terjadi? Mengapa di zaman terbuka --dimana masyarakat—senantiasa berharap menghargai pandangan dan nilai-nilai kemanusiaan, justru ada kaum bernama Yahudi-Israel paling sering melanggarnya?

Sebelum menjawab itu, ada baiknya kita memahami dulu karakter bangsa Yahudi (Israel). Mengapa bangsa yang kecil ini tiba-tiba begitu beringas dan sering tidak mematuhi kesepakatan dan nilai-nilai bersama. Secara umum, sejarahnya amat panjang. Hampir semua catatan sejarah –terutama— Al-Kitab dan Al-Quran menjelaskan perjalannya dengan rinci dan detil.

Kita ketahui dari firman Allah swt :
"Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan meyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” [QS. al-Isra’: 4]

Kerusakan pertama telah terjadi dan Yahudi pun dikutuk hingga tak memiliki tanah air sampai akhirnya mencaplok bumi suci Palestina sebagai bagian dari skenario langit untuk membasmi bangsa babi dan monyet itu secara keseluruhan akibat kesombongan mereka. Hal itu telah diisyaratkan dalam firman-Nya:

Dan Kami berfirman sesudah itu kepada bani Israil: Tinggallah di muka bumi, maka apabila datang janji terakhir niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur”. [QS. al–Isra’: 104]

Kebiadaban Israel yang Cuma berjumlah 7 jutaan jiwa itu memang menjadi pertanda akan segera berakhirnya zaman ini. Bayangkan, jumlah umat Islam se dunia 1,5 milyaran, namun tak sanggup menghentikan kebrutalan Israel di Palestina. Bahkan kita melihat dengan mata kepala sendiri lewat televisi bagaimana Israel dengan pongahnya memborbardir Gaza, seolah kita membiarkan Israel membantai muslim Palestina. Tak berkutik sedikit pun, kecuali demo dan bantuan kemanusiaan. Padahal yang dibutuhkan adalah bahasa besi sebagaimana bahasa itu digunakan Israel menjajah Palestina. Bukan bahasa diplomasi lagi. Bahasa itu sudah usang. Suka atau tidak, peperangan total melawan Israel akan terjadi sebagai episode akhir zaman.

"Kiamat tidak akan terjadi sebelum kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi. Mereka akan diperangi kaum Muslimin, sehingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Maka berkatalah batu dan pohon tersebut: Wahai orang Islam, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon gharqad, karena pohon itu adalah pohon Yahudi”. (HR.Bukhori-Muslim)


Yahudi Diusir dari Spanyol, Bellarusia, Poland, Rusia, Hungaria, Perancis


Pengusiran Yahudi dari Jerman dan ke Amerika 1939


Fakta Kebiadaban Yahudi
Mari kita buktikan kebiadaban Yahudi sepanjang sejarah kemanusiaan yang diketahui dan terdokumentasi secara akurat, seperti dalam Al-Quran, hadits, manuskrip, maupun catatan sejarah dunia. Kejahatan yahudi dimulai sejak 12 keturunan Nabi Ya’kub dari sejumlah istri mencelakai Yusuf. Ke-12 anak Ya’kub as adalah Ru’bin, Syam’un, Yusakir, Zabulun, Dan, Nafqali, Jamid, ‘Askir, Yusuf, Benyamin, Yahuda, dan Lawi. Kemudian ke-12 keturunan tersebut berkembang menjadi 12 suku sampai hari ini. Makar jahat mereka yang pertama terjadi pada zaman Nabi Ya’qub as. Mereka berkeinginan menyingkirkan saudaranya sendiri, Yusuf as yang berakhlaq mulia supaya mereka lebih dicintai bapaknya. (QS.Yusuf: 7-18)

Kejahatan paling mengerikan adalah kegemaran mereka membunuh para Nabi dan Rasul.

Mereka telah membunuh Nabi Yahya as secara kejam yaitu memenggal lehernya dan kepalanya diletakkan di nampan emas. Nabi Zakaria as juga dibunuh secara keji, yaitu dengan digergaji tubuhnya. Kedua pembunuhan ini terjadi pada masa pemerintahan raja Herodes. Mereka juga gemar membunuh orang-orang sholeh lainnya.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka dengan siksa yang pedih“. [QS. Ali Imran: 21]

Nabi Isa as. pun tidak luput dari rencana busuk mereka untuk membunuhnya, akan tetapi Allah SWT menyelamatkannya.

Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih Isa ibnu Maryam Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh dan salib itu ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan Isa) benar-benar dalam keraguan tentang (yang dibunuh) itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu Isa”. [QS. An-Nisa’: 157]

Kejahatan raja Zu Nuwas adalah seorang raja Yahudi Najran di Yaman yang sangat fanatik, tidak ingin ada agama lain di daerah kekuasaannya. Alkisah ada sekelompok pengikut Nabi Isa as yang setia (Nasrani), ketahuan oleh mata-mata kerajaan. Lalu mereka dipaksa murtad dan masuk Yahudi, siapa tidak mau akan dibakar hidup-hidup. Raja Zu Nuwas memerintahkan pasukannya untuk menggali parit dan menyiapkan kayu dan bahan bakar, yang akan digunakan untuk membakar umat Nabi Isa as yang setia dan tidak mau murtad. Kejadian ini dikisahkan di dalam Al-Qur’an:

Binasalah orang-orang yang membuat parit, yang berapi dinyalakan dengan kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu, melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah SWT Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. [QS. al-Buruj: 4 – 8].

Di Romawi pada masa kaisar Markus Urulius, seorang rabbi Yahudi berhasil menghasutnya untuk memusuhi agama Nasrani dan pemeluknya. Akhirnya dibuatlah keputusan untuk membunuh semua prajurit yang beragama Nasrani. Hasutan rabbi Yahudi tersebut dilanjutkan dengan menakut-nakuti kaisar, bahwa orang-orang Nasrani mengidap penyakit menular yang membahayakan rakyat. Oleh karena itu kaisar mengeluarkan perintah untuk membunuh semua penduduk Roma yang beragama Nasrani.

Puncak kejahatan Yahudi pada episode pertama terjadi pada masa Rasulullah saw di Madinah. Sebagaimana diketahui bahwa Nabi saw sebagai penguasa Madinah melakukan perjanjian damai kepada tiga suku Yahudi, yakni Bani Nadhir, Bani Qainuqa, dan Bani Quraizhah. Akhirnya ketiganya diusir dari Madinah karena melakukan pengkhianatan sebagaimana sudah menjadi kebiasaan mereka mengkhianati semua perjanjian dengan manusia sampai hari ini. Kejahatan mereka direkam dalam sejarah Islam.

Yahudi Bani Qainuqa' adalah Yahudi pertama yang mengingkari janjinya dengan Rasulullah, pemicunya adalah diganggunya wanita muslimah yang datang ke pasar mereka. Ia duduk di depan salah seorang pengrajin perhiasaan, mereka merayunya agar membuka cadar yang dipakainya namun ia menolak. Lalu si pengrajin menarik ujung baju si wanita dan mengikatkannya ke punggung wanita tadi, ketika berdiri terbukalah auratnya, lalu mereka menertawakannya. Sang wanita pun berteriak minta tolong. Seorang lelaki muslim mendengar lalu menerjang si pengrajin dan membunuhnya. Melihat kejadian itu orang-orang Yahudi mengerumuninya, dan beramai-ramai membunuh lelaki muslim tersebut. Mendengar berita kematian lelaki itu, maka keluarganya yang muslim menuntut pertanggungjawaban orang-orang Yahudi. Maka Rasulullah datang bersama para sahabat mengepung mereka selama 15 malam. Atas perintah beliau mereka diberi hukuman untuk meninggalkan Madinah.

Yahudi Bani Nadhir melakukan pengkhianatan yang kedua. Suatu saat Rasulullah pergi ke perkampungan Yahudi bani Nadhir untuk meminta bantuan mereka atas diyat (denda) dua orang muslim yang terbunuh dari Bani Amir, yang melakukan pembunuhan adalah Amr bin Umayyah Ad-Dhimari. Permintaan itu diajukan karena sudah adanya ikatan perjanjian persahabatan antara Rasulullah dengan mereka. Ketika beliau datang mengutarakan maksud kedatangannya, mereka berkata: “Baik wahai Abu Qasim! kami akan membantumu dengan apa yang engkau inginkan.” Pada saat Rasulullah duduk bersandar di dinding rumah mereka, kemudian mereka saling berbisik, kata mereka: “Kalian tidak pernah mendapati lelaki itu dalam keadaan seperti sekarang ini, ini kesempatan buat kita. Karena itu hendaklah salah seorang dari kita naik ke atas rumah dan menjatuhkan batu karang ke arahnya”, dan untuk tugas ini diserahkan kepada Amr bin Jahsy bin Ka’ab. Lantas ia naik ke atas rumah guna melaksanakan rencana pembunuhan ini, tetapi Allah melindungi Rasul-Nya dari makar orang-orang Yahudi tersebut dengan mengirimkan berita lewat Malaikat Jibril tentang rencana jahat itu. Kemudian Rasulullah bergegas pulang ke Madinah, dan memberitahukan kepada para sahabatnya tentang usaha makar tersebut. Beliau memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap-siap pergi memerangi mereka. Ketika orang Yahudi Bani Nadhir mengetahui kedatangan pasukan Rasulullah, mereka cepat pergi berlindung di balik benteng. Pasukan Islam mengepung perkampungan mereka selama 6 malam, beliau memerintahkan untuk menebang pohon kurma mereka dan membakarnya. Kemudian Allah memasukkan rasa gentar dan takut di hati mereka, sehingga mereka memohon izin kepada Rasulullah untuk keluar dari Madinah dan mengampuni nyawa mereka. Mereka juga meminta izin untuk membawa harta seberat yang mampu dipikul unta-unta mereka kecuali persenjataan, dan Rasulullah pun mengizinkannya.

Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kami tiada menyangka bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari siksaan Allah, maka Allah mendatangkan kepada mereka hukuman dari arah yang mereka tidak sangka. Dan Allah menancapkan ketakutan di dalam hati mereka, dan memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah kejadian itu untuk menjadi pelajaran wahai orang yang mempunyai pandangan”. [QS. al-Hasyr: 2]


Rabbi didalam peperangan Israel

Yahudi Bani Quraizhah melakukan pengkhianatan yang ketiga, Yahudi Bani Nadhir yang telah terusir karena kesalahan mereka sendiri terus mendendam. Bersama Yahudi Quraizhah memilih beberapa tokohnya yaitu Salam bin Abi Haqiq, Hayyi bin Akhthab dan Kinanah bin Abi Haqiq pergi bersama menghasut orang-orang Quraisy, Ghathafan dan beberapa suku musyrik besar lainnya. Mereka berkonspirasi untuk membentuk pasukan Koalisi (al-Ahzab), antara pasukan musyrik dan pasukan Yahudi. Akhirnya terbentuklah pasukan Koalisi (al-Ahzab); Suku Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan ibnu Harb, suku Gathafan di bawah pimpinan Uyainah ibnu Hushn, suku bani Murrah di bawah pimpinan Harits ibnu Auf dan suku-suku yang lain, sementara pasukan Yahudi bani Quraizhah akan menusuk dari belakang. Peperangan Al-Ahzab itu betul-betul mambuat khawatir dan sesak dada kaum muslimin yang terkepung, apalagi tingkah golongan munafiqin yang membuat goyah pasukan Islam. Berkat kesabaran kaum muslimin, maka Allah SWT mengirim pasukan Malaikat dengan mendatangkan serangan berupa angin taufan dan guntur yang memporak-porandakan pasukan koalisi (Al-Ahzab). Mereka kocar-kacir, dan pulang ke tempat masing-masing dengan membawa kekalahan. Tinggallah Yahudi Bani Quraizhah, lalu Rasulullah A mengumumkan kepada pasukan Islam: Bagi mereka yang mau mendengar dan taat agar jangan shalat ashar kecuali di wilayah perkampungan Bani Quraizhah. Kaum muslimin langsung bergerak menuju perkampungan Yahudi Bani Quraizah, dan mengepung mereka selama 25 malam. Orang-orang Yahudi tersebut benar-benar dicekam rasa ketakutan, lalu memohon kepada Rasulullah A agar memberikan izin kepada mereka untuk keluar, sebagaimana yang beliau lakukan kepada Yahudi Bani Nadhir. Beliau menolak permohonan mereka, kecuali mereka keluar dan taat pada keputusan beliau. Kemudian Rasululah A menyerahkan keputusan atas mereka kepada Sa’ad ibnu Mu’adz pemimpin suku Aus. Keputusan telah ditetapkan yaitu: laki-laki dewasanya dieksekusi, harta dirampas, anak-anak dan wanita menjadi tawanan. Hukuman terhadap pengkhianatan Bani Quraizhah lebih berat dari pada Bani Qainuqa' dan Bani Nadzir, karena dampak dari pengkhianatan mereka hampir saja merontokkan moral kaum muslimin dan membahayakan nyawa mereka semua.

Hai orang-orang yang beriman ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. Yaitu ketika datang (musuh) dari atas dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan, dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka disitulah diuji orang-orang mukmin, dan digoncangkan hatinya dengan goncangan yang sangat”. (QS. al-Ahzab: 9-11)

Ajal Israel
Sejak Israel terlunta-lunta di seluruh penjuru dunia tanpa memiliki tanah air, maka janji Allah kedua akan segera terrealisir, karena di manapun mereka berada selalu membuat keonaran, sebagaimana digambarkan dalam firman-Nya: ”Setiap kali mereka menyalakan api untuk peperangan, Allah memadamkannya, dan mereka di muka bumi selalu membuat kerusakan, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. al-Maidah:12)

Akhirnya mereka pun memicu perang dunia I dan II, bahkan yang terakhir nanti (PD III) melalui berbagai rekayasa adu domba. Mereka pun menunggangi Inggris untuk memenangkan peperangan. Akhirnya mereka meminta balas jasa atas bantuan mereka pada PD I melalui Perdana Menteri Inggris Balfaur dengan mencetuskan Deklarasi Balfaur pada 2 November 1917 untuk menyediakan tanah bagi Yahudi di Palestina. Kemudian setelah Yahudi berhasil meruntuhkan kekhilafahan Turkis Utsmani melalui anteknya, Mustafa Kemal Pasha, pada 13 Maret 1924, maka pada 14 Mei 1948 Yahudi berhasil menduduki tanah Palestina dan diproklamirkan berdirinya Negara Israel oleh David Ben Gurion. Jumlah warga Yahudi di Yerusalem pada waktu itu 649.932 jiwa, namun per 24 September 2008 jumlah mereka mencapai 7.337.000 jiwa.

Dalam berbagai referensi, tercatat ada beberapa tujuan berdirinya Negara Israel di bumi Palestina adalah:
  1. Menciptakan faktor disintegrasi di wilayah sekitarnya, baik geologis, politis maupun sosial.

  2. Menyebarluaskan kerusakan dan kekacauan dengan menggunakan berbagai alasan, sekalipun tidak masuk akal dan bahkan merupakan rekayasa mereka sendiri.

  3. Tidak memberi peluang sedikit pun bagi berdirinya pemerintahan yang ditegakkan atas dasar syareat Islam dan terwujudnya persatuan Arab, baik sebagian maupun keseluruhan.

  4. Menciptakan pusat-pusat imperialisme di dunia Arab, dan pada saat yang sama merealisasikan kepentingan-kepentingan Zionisme Internasional yang hakiki, sebagai pijakan untuk menyebarkan kekacauan di seluruh dunia.

  5. Mengupayakan agar raja yang akan datang bagi Zionis dan bangsa Yahudi adalah benar-benar al-Masih (sebutan ini mungkin sebagai tipuan untuk Nasrani agar bisa diajak koalisi untuk menghancurkan umat Islam).

  6. Membasmi pemikiran kekhalifaan Islam dan terus menggoyahkan keyakinan-keyakinan kaum muslim tentang bakal munculnya al-Mahdi as. yang akan mengembalikan kejayaan masa kenabian dan Khulafaur Rasyidin, yang disertai berbagai variasi program guna menghubungkan hal yang mendukung revitalisasi pemikiran itu.

  7. Bila berhasil membasmi pemikiran tersebut, maka mereka segera akan menang terhadap umat Islam. Umat Islam akan tetap dalam kejumudan lamanya, sehingga mereka tidak mempunyai persiapan sama sekali dalam menyambut kedatangan al-Mahdi as.

  8. Di samping itu mereka berusaha menimbulkan kesesatan-kesesatan guna menyebarluaskan kekacauan, sehingga para pemimpin dan penguasa muslim menjadi kehilangan harapan tentang pemikiran akan datangnya al-Mahdi as. Hasil yang akan diambil adalah: kalau para pemimpinnya saja sudah seperti itu, bagaimana lagi dengan orang awamnya.

Namun mereka tidak sadar, bahwa berkumpulnya mereka di Palestina dalam keadaan bercampur aduk (lafiifa) setelah sebelumnya terdiaspora di seluruh penjuru dunia, adalah akan segera berlaku janji Allah swt yang terakhir untuk membinasakan mereka tanpa tersisa sedikit pun. Bahkan Raja mereka, Dajjal si “Mata Satu” pun akan dibunuh oleh Nabi Isa as.


Lambang Dajjal: Si Mata Satu ada dalam uang Dollar Amerika

Berakhirnya riwayat bangsa Yahudi atau Bani Israel juga banyak dinubuatkan di dalam al-Kitab. Diantaranya;

Pertama, Israel seperti Pohon Anggur. Hosea 10: 1, “Israel adalah pohon anggur yang riap tumbuhnya, yang menghasilkan buah. Makin banyak buahnya, makin banyak dibuatnya mezbah-mezbah. Makin baik tanahnya, makin baik dibuatnya tugu-tugu berhala".

Kedua, Inggris induk dari berdirinya Negara Israel. Yehezkil 19: 10-14, “Ibumu seperti pohon anggur dalam kebun anggur, yang tertanam dekat air, berbuah dan bercabang karena air yang berlimpah-limpah. Padanya tumbuh suatu cabang yang kuat yang menjadi tongkat kerajaan, ia menjulang tinggi di antara cabang-cabangnya yang rapat dan menjadi kentara karena tingginya dan karena rantingnya yang banyak. Tetapi ia tercabut di dalam kemarahan dan dilemparkan ke bumi; angin timur membuatnya layu kering, buahnya disentakkan, cabang yang kuat menjadi layu kering, dan api menghabiskannya dan sekarang ia tertanam di padang gurun, di tanah yang kering dan haus akan air. Maka keluarlah api dari cabangnya yang memakan habis ranting dan buahnya sehingga tiada lagi padanya cabang yang kuat dan tiada tongkat kerajaan. Ini adalah ratapan dan sudah menjadi ratapan”.

Ketiga, Kehancuran para pendukung Yahudi. Yesaya 63: 1-6, “Siapa dia yang datang dari Edom, yang datang dari Bozra dengan baju yang merah, dia yang bersemarak dengan pakaiannya, yang melangkah dengan kekuatannya yang besar? Akulah yang menjanjikan keadilan dan yang berkuasa untuk menyelamatkan: Mengapakah pakaianmu semerah itu dan bajumu seperti baju pengirik buah-buah anggur? Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku: Aku telah mengirik bangsa-bangsa dalam murka-Ku, dan Aku telah menginjak-injak mereka dalam kehangatan amarah-Ku; semburan darah mereka memercik kepada baju-Ku, dan seluruh pakaian-Ku telah cemar, sebab hari pembalasan telah Kurencanakan, dan tahun penuntutan bela telah datang. Aku melayangkan pandangan-Ku: tidak ada yang menolong. Aku tertegun, tidak ada yang membantu, lalu tangan-Ku memberi Aku pertolongan, dan kehangatan amarah-Ku, itulah yang membantu Aku. Aku menginjak-injak bangsa-bangsa dalam murka-Ku. Menghancurkan mereka dalam kehangatan amarah-Ku, dan membuat semburan darah mereka mengalir ke tanah”

Keempat, Amerika akan hancur. Yesaya 4: 3-7, “Aku menanti supaya dihasilkannya buah anggur yang baik, mengapa yang dihasilkannya hanya buah anggur yang asam? Maka sekarang Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu. Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak. Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak, tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh (tanaman) putri malu dan rumput. Aku akan memerintahkan awan-awan supaya jangan diturunkannya hujan ke atasnya. Sebab kebun anggur Tuhan semesta alam ialah bangsa Israel dan orang Yahudi, ialah tanaman-tanaman kegemarannya. Dinantinya keadilan, tetapi hanya ada kezaliman, dinantinya kebenaran tetapi hanya ada keonaran”.

Ikhtitam
Kita memang sangat prihatin dengan kondisi Gaza seperti sekarang ini. Namun keadaan mereka nampaknya sudah ditakdirkan seperti itu. Bahkan keberadaan para pemuda yang berani berperang melawa Israel pun telah dinubuatkan oleh Nabi saw sampai akhir zaman.

”Akan ada sekelompok orang di antara umatku yang senantiasa membela kebenaran, akan mengalahkan musuh-musuh mereka. Orang-orang yang menyelisihinya tidak akan membahayakannya melainkan hanya menimpakan cobaan hingga datangnya ketentuan Allah, dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu. Mereka (para shahabat) bertanya; Wahai Rasulullah, di manakah mereka? Rasulullah menjawab; Di Baitul maqdis, dan di sekitar Baitul Maqdis.” (HR. Ahmad)

Meski demikian, kita tak bisa diam, menunggu –apalagi—berpangku tangan, menunggu datangnya Imam Mahdi. Dengan berdoa, tenaga, pikiran, kita harus berjuang untuk membela umat Islam di Palestina dan Gaza.

Luas wilayah Palestina hasil perjanjian Sysks-Picot adalah 27.027 km2. Yang diduduki Israel th 1948= 20.770 km2 (77%). Sisa tanah Palestina (23%) juga diduduki Israel th 1967 yakni Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem (6257 km2). Kini wilayah Palestina tinggal 3.128,5 km2 (11,5%) yang terdiri dari dua wilayah, yakni Gaza (lk.400km2) dibuni sekitar 1,5 juta jiwa dan sisanya di Tepi Barat yang terpisah dengan Gaza, sehingga kedua wilayah tersebut bagaikan penjara raksasa. Sekitar 4,5 juta warga Palestina menjadi pengungsi di sejumlah Negara Arab lainnya.

Secara perhitungan fisik, nampaknya sulit bagi Hamas dan para pejuang lainnya memenangkan pertempuran melawan Israel, namun mereka tidak akan dikalahkan. Mereka memiliki daya tahan tempur yang tercatat dalam sejarah Islam. Mereka akan segera dibantu Imam Mahdi untuk menghancurkan Israel dalam waktu dekat ini, insya Allah.

Menutup tulisan ini, sebaiknya kita berdoa di hadapan Allah.

“Ya Allah, tolonglah saudara kami muslim Palestina.

Hancurkanlah Israel dan sekutunya.

Segerakan Imam Mahdi turun membantu perjuangan membebaskan al-Aqsho dari cengkeraman Yahudi laknatullah.

Ya Allah, aku malu, karena aku hanya bisa menulis dan berdemo.

Wahai akhi fillah, beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Jika milik kita yang suci dihina, dan tempat kita dihancurkan, dan kau tidak menjadi marah?

Jika sifat ksatria kita dibunuh, dan kehormatan kita diinjak-injak, dan dunia kita berakhir,

dan kau tidak menjadi marah?

Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Jika sumberdaya kita dirampas, dan institusi kita diruntuhkan, dan masjid-masjid kita dihancurkan, dan masjid al-Aqsa dan al-Quds kita tetap dirampas, dan kau tidak menjadi marah?

Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Musuhku, atau musuhmu, menghina kehormatan, darahku dijadikan mainan oleh dia, dan kau jadi penonton permainan. Jika untuk Allah, untuk suatu yang suci, untuk Islam kau tidak marah, Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Aku melihat kengerian, Aku melihat darah mengucur. Wanita-wanita tua mengiringi anak-anak menjemput maut mereka. Aku telah melihat segala macam bentuk penindasan.

Dan kau tidak menjadi marah.

Jadi beritahu aku, kapankah kau akan marah?

Dan kau duduk seperti boneka bisu, perutmu memenuhi kantor. Kau habiskan malam banggakan angka-angka, dengan uang, curahkan dirimu kepada berkas-berkasnya.

Aku melihat kematian di atas kepala-kepala kami. Dan kau tidak menjadi marah.

Jadi terus terang saja padaku, jangan malu-malu: kamu ada di Ummat yang mana?

Jika kau juga derita, apa yang kami derita, tidak menjadikan kamu ingin membalas, maka tidak usah repot. Karena kamu bukanlah kami, maupun bagian dari kami, bahkan kamu bukan bagian dari dunia manusia.

Jadi hiduplah sebagai kelinci, dan matilah sebagai kelinci.